Featured Products

Vestibulum urna ipsum

product

Price: $180

Detail | Add to cart

Aliquam sollicitudin

product

Price: $240

Detail | Add to cart

Pellentesque habitant

product

Price: $120

Detail | Add to cart

PERJALANAN SEMINGGU LINTAS PULAU (2)

 

Ini kali kedua saya menempuh perjalanan dari Kabupaten Morowali (Sulawesi Tengah) ke Kabupaten Sukabumi (Jawa Barat). Kalau yang pertama mengendarai mobil sedan bersama putri saya (Naira) yang waktu itu masih usia 3.5 tahun (April 2024), kali ini saya sendirian mengendarai sepeda motor.

 

Sudah lewat dari sebulan baru saya sempat menuliskannya. Melalui tulisan ini, saya pengin mengabadikan momen yang saya anggap perlu untuk dikenang, agar tidak hilang ditelan zaman. Meskipun demikian, perjalanan dengan sedan tersebut tetap menjadi yang paling berkesan buat saya karena saya tempuh hanya berdua dengan Naira. Saya sudah tuliskan kisahnya di sini: https://iwanmariono.blogspot.com/2024/05/perjalanan-seminggu-lintas-pulau.html  

 

MINGGU, 31 MEI 2026

 

Saya berangkat pukul 13.30 WITA dari rumah mama di Desa Lasampi, Kecamatan Bumi Raya, Kabupaten Morowali. Sengaja memilih waktu siang, agar tidak kemalaman pas lewat hutan di perbatasan Kabupaten Morut (Morowali Utara)-Kabupaten Poso. Targetnya mau bermalam di Masjid Al-Muhajirin dekat perbatasan tersebut. Masjid ini terkenal sebagai tempat istirahat orang-orang yang safar lintas daerah. Jarak dari rumah ke situ sekitar 150 km.

 


Meskipun singgah cukup lama di rumah kawan saya Andi (Morut), sampai di perbatasan ternyata suasana masih tampak terang. Rencana menginap di masjid batal. Perjalanan saya lanjutkan.

 

Awal masuk Kabupaten Poso, sampailah saya di perbukitan Pamona Timur. Sejak SMA, ini daerah padang ilalang paling menyejukkan mata setiap kali saya hendak menempuh perjalanan jauh keluar daerah.

 

Agak lama saya berhenti di sini, menikmati angin sore dan sekaligus menunggu matahari terbenam. Dari bukit ini saya bisa melihat Morowali dari jauh. Kalau lima belas tahun lalu, pegunungannya masih berwarna biru pekat, sekarang banyak kemerahan, bukaan hutannya semakin banyak, untuk perkebunan kelapa sawit.

 



Saya masih harus menempuh perjalanan hampir 50 km untuk sampai di Pamona Selatan, kecamatan terakhir yang menjadi batas antara provinsi Sulawesi Tengah. Sampai di Desa Pendolo, saya putuskan untuk istirahat di musholla POM bensin yang ada di sana. Hari sudah malam: 21.00 WITA.

 

SENIN, 1 JUNI 2026

 

Saya melanjutkan perjalanan selepas sholat subuh. Jalanan berkabut disertai rintik gerimis, kecepatan rata-rata 30-40 km/h. Sejam perjalanan saya akhirnya sampai di perbatasan provinsi. Cuaca cerah.

 


Selanjutnya saya lebih banyak berhenti selama melewati pegunungan yang menjadi batas dua provinsi ini, dengan jarak tempuh 60 km. Singgah di beberapa titik yang masuk kawasan hutan lindung untuk menikmati kicau burung atau menyaksikan monyet bergelantungan. Jalanan sepi dan lengang. Suasana seperti ini yang saya dambakan.

 


Selepas pegunungan saya langsung tancap gas sampai ke kota Palopo. Jaraknya masih sekitar 150 km. Kalau tak ada halangan pukul 11.00 sudah sampai.

 

Masjid Agung Palopo menjadi tempat pemberhentian saya. Masjidnya besar, punya banyak kamar mandi, banyak pohon rindang di parkirannya, dan ada banyak sekali kantin. Benar-benar tempat yang nyaman buat istirahat para musafir. Saya mandi, cuci baju, sholat jamak, makan siang, dan ngopi. Pokoknya istirahat untuk waktu yang cukup lama di sini.

 

Pukul 14.00 saya harus menentukan apakah akan melanjutkan lewat jalur Wajo-Sidrap atau berputar lewat Toraja-Enrekang. Palopo merupakan jantung kota di bagian utara Sulawesi Selatan. Untuk menuju ke Makassar pilihan pertama tentu lebih cepat secara waktu dan jarak tempuh. Pilihan kedua waktu tempuh lebih lama dan jaraknya nambah 50 km, tapi menyajikan pemandangan yang indah sepanjang jalan. Titik temu kedua jalur ini nantinya di kota Parepare.

 

Saya ambil pilihan kedua. Jalanan mendaki dan meliuk-liuk seperti ular menjadi semacam sirkuit yang kita lalui sepanjang Toraja-Enrekang. Masih jalur Palopo-Toraja, saya singgah sejenak di sebuah warung tepi jurang untuk ngopi dan menikmati pemandangan jalananan yang sudah saya lalui hampir sejam. Jika Anda seorang bikers, Anda tidak akan pernah menyesal melalui jalan ini.

 



Tana Toraja adalah kampung leluhur alamarhum bapak (tiri) saya. Saya tiba sore hari. Rehat sejenak di Rante Pao (ibukota Kabupaten Toraja Utara) di rumah tongkonan yang menjadi ciri khas Toraja. Saya tiba-tiba teringat jokes di antara sesama orang Toraja: “Apa Bahasa Jepangnya monyet?”, jawabannya: “Susiko”. Susiko kosakata Toraja yang artinya mirip ko (mirip kamu). Hehe.

 


Meskipun ada banyak sekali destinasi wisata yang bisa dikunjungi, tak ada satu pun yang saya singgahi. Apalagi ini sudah menjelang magrib, dan saya masih harus menempuh jarak 350an km untuk sampai di pelabuhan. Saya fokus mengejar target harus sampai di Makassar sebelum kapal Ferry berangkat Selasa sore tanggal 2 Juni (sesuai jadwal yang tertera di aplikasi Ferryzy, kapal berangkat pukul 17.00 WITA).

 


600/850 km. Menjelang magrib saya tiba di Angeraja, Kabupaten Enrekang. Saya singgah ngopi di sebuah warkop di lereng bukit dengan landscape pemandangan Gunung Nona. Kenapa diberi nama Gunung Nona? Saya pernah bertanya kepada salah satu warga, jawabannya karena bentuknya gunung tersebut seperti cekungan kemaluan Wanita. Hehe. Saya tak tahu itu jawaban serius atau bercanda. Tapi sepertinya serius.

 


Saya lanjutkan perjalanan dari Enrekang ke Pinrang selepas magrib, dan baru istirahat lagi setelah tiba di Parepare jam 21.00. Sebenarnya masih pengin melanjutkan perjalanan sampai Makassar, tapi entah kenapa setelah makan durian di anjungan kota tiba-tiba kantuk berat. Saya putuskan untuk menginap di kota in. Istri saya lewat aplikasi memilihkan saya hotel dekat tempat saya nongkrong. Jadilah saya tidur di hotel malam ini, namanya Parenium Hotel.




SELASA, 2 Juni 2026

 

Saya enggan segera beranjak dari hotel sampai menjelang waktunya check out. Waktu tempuh perjalanan masih estimasi 3 jam (150 km) sampai Makassar, saya masih bisa berleha-leha lebih lama di kasur. Tak lupa semua pakaian kotor saya cuci. Tepat pukul 11.00, saya meninggalkan Parepare.

 


Jalan poros Parepare-Makassar adalah rute yang paling asyik untuk berkendara. Saya sering melintas di jalan ini dengan sepeda motor, mobil sedan, atau dengan bus. Jalannya terbagi dua lajur dengan pemandangan dominan laut di sisi kanan, perbukitan di sisi kiri.

 


Selasa sore pukul 16.00, saya sampai di Makassar. Yang bikin perjalanan agak molor karena kebanyakan singgah di beberapa tempat, paling lama di toko roti Maros: sholat, istirahat ngopi, dan beli roti. Saya pesan satu kotak rasa pisang untuk bekal di kapal nanti. Sebelum ke Pelabuhan Sukarno-Hatta, saya sempatkan berfoto sejenak di Centre Point Indonesia, tak jauh dari Pantai Losari.

 

Saya sudah menempuh jarak 850 kilometer, dengan waktu tempuh 3 hari perjalanan.

 


Pukul 20.00 Ferry Dharma Kencana 7 baru berangkat. Meskipun di jadwal tertulis pukul 17.00 kapal berangkat, namun dalam kenyataannya bisa molor berjam-jam, tergantung banyaknya antrian kendaraan. Dua tahun lalu sewaktu bersama Naira putri saya, di kapal yang sama, jadwal berangkat hari Jumat pukul 22.00, ternyata baru lepas jangkar Sabtu dini hari pukul 04.00 WITA.

 


RABU, 3 Juni 2026

 

Kapal sudah berlayar melintasi Laut Jawa, meninggalkan Selat Makassar jauh di belakang.

 


Saya selalu update perjalanan ini di media sosial sebelum sinyal hilang. Ada kawan yang bertanya berapa ongkos perjalanan hingga sampai di Sukabumi. Sebenarnya tidak ada rincian yang saya buat setiap kali melakukan perjalanan jauh seperti sekarang, sebagaimana yang sudah-sudah. Tapi kali ini mari kita coba hitung.

 





Perjalanan dengan motor scoopy, untuk bensin tentu lebih irit. Sebelum berangkat saya isi penuh. Di Morowali jangan harap nemu pom bensin jual pertalite, sebab sejak awal datang sudah diborong oleh pengecer. Eceran dijual seharga Rp 20.000,- per 1.5 liter (1 botol air mineral besar). Tangki motor saya kapasitas 3.5 liter, jadi awal berangkat sudah hampir 50 ribu untuk bensin. Tangki penuh bisa menempuh jarak 150 km. Maka untuk sampai Makassar yang menempuh jarak 850 km via Toraja, saya butuh sekitar 20 liter.

 

Kalau sepanjang jalan mudah mendapat pom bensin, tentu kita hanya butuh 200rb untuk bensin. Sayangnya itu sesuatu yang jarang kita jumpai di sini. Ini bukan pulau Jawa. Hehe. Jadi saya lebih sering isi bensin lewat pengencer, atau sekali ketemu pom bila antrian merayap saya isi pertamax (harga masih 12rb per liter). Jarak dari Surabaya ke Sukabumi hampir sama. Maka total untuk bensin Anda harus menyiapkan sekitar 500rb-an (untuk jarak tempuh 1.750 km).

 

Sekarang tiket kapal. Untuk motor (semua kendaraan tergantung berapa cc) scoopy 125cc saya biayanya 711 ribu (belum termasuk orangnya). Biaya per orang tergantung kelas, saya ambil kamar ekonomi harganya 475rb. Harga yang melonjak jauh dibanding dua tahun sebelumnya, waktu itu kamar kelas 1 berisi 2 bed hanya 500rb. Saya tidak coba tanya harga terbaru untuk kamar kelas II, I, dan VIP, mestinya sudah naik drastis.

 

Untuk tempat tinggal, selama perjalanan ini sebenarnya saya tidak menentukan akan istirahat di mana. Kadang tidur di mushola yang ada di pom bensin seperti yang saya lakukan kemarin. Tidur di hotel kemarin juga sebenarnya karena permintaan istri. Saya pilih yang paling murah, 250rb. Jadi estimasi untuk biaya tinggal (termasuk biaya makan) silakan Anda buat sendiri. Yang jelas, selama masih di Sulawesi, saya tidak melakukan perjalanan di malam hari.

 

Ini kebalikan setelah saya tiba di Jawa yang lebih banyak melakukan perjalanan di malam hari. Sebab di Jawa, ada banyak kawan yang saya temui, saya bisa bercengkrama berjam-jam dengan mereka. Dan terutama sekali: (1) di Jawa tidak ada hutan yang benar-benar hutan dengan jarak tempuh sampai puluhan kilometer; (2) pom bensin 24 jam tersedia di banyak titik. 

 

Kembali ke tiket kapal. Saya sengaja baru memesan kamar setelah di dalam kapal. Awalnya di aplikasi tertulis penuh kecuali ekonomi-kursi, tapi saya tak percaya. Jadi saya hanya pesan tiket untuk kendaraan saja. Pengalaman ini saya dapatkan sejak dua tahun yang lalu: kamar kelas 1 saya dapatkan tanpa sengaja justru dari seorang ABK yang menjualnya ke saya seharga yang saya cantumkan di atas. Waktu itu saya sedang di anjungan bersama putri saya, tiba-tiba ada yang mengajak diskusi dan menawarkan kamar. Tentu saja saya terima tawaran itu dengan senang hati, anak saya bisa tidur lebih tenang, tidak berbaur dengan banyak orang yang membuat saya tidak bebas meniggalkannya bahkan sekadar untuk ke kamar mandi.

 

Fasilitas kamar kelas I: kamar mandi dalam + air hangat, dua bed, satu kursi gabus panjang dan meja, dan TV antena.  Bedanya dengan kamar VIP hanya di luasnya kamar mandi yang disertai bathtup. Adapun kamar kelas II berisi 4 ranjang disertai satu meja lesehan dan TV antena, tanpa kamar mandi dalam. Kalau Anda membawa anak kecil seperti saya dua tahun yang lalu, apalagi hanya berdua dengannya, kamar kelas I dan VIP seperti wajib dipesan. Kamar mandi dalam adalah privilese yang sangat berharga di perjalanan jauh dengan kapal seperti ini. Anda tidak akan bertemu dengan toilet yang baunya pesing atau tinja mengambang.

 

Karena hanya sendiri, kamar ekonomi ini sudah istimewa buat saya. Apalagi dalam perjalanan kapal selama 33-35 jam ini, waktu lebih banyak saya gunakan untuk melek membaca buku ditemani sampai 8 gelas kopi. Sebagai orang yang keranjingan baca buku, berada di kapal yang tanpa sinyal seluler dan internet adalah benar-benar berkah buat saya. Saya bisa mengkhatamkan satu buku. Buku kedua bahkan hampir khatam juga. Saya membaca buku tanpa ada gangguan sama sekali. Bisa membaca hampir 300 halaman adalah momen yang istimewa. Terakhir kali bisa seperti ini adalah 15 tahun yang lalu saat masih bujang dan belum punya android.

 

KAMIS, 4 JUNI 2026

 


Sudah pukul 00.30 dini hari, saya putuskan untuk segera tidur meskipun keinginan membaca masih ada. Saya perlu istirahat sebelum kapal sandar di Pelabuhan Tanjung Perak, beberapa jam lagi.

 

Pukul 04.00 kapal sandar. Setengah jam sebelumnya saya sudah selesai kemas-kemas, termasuk sudah mandi. Kira-kira setengah jam kemudian baru saya bisa keluar dari kapal setelah antri menunggu kendaraan paling depan duluan keluar.

 

Saya sholat shubuh di masjid dekat pintu keluar pelabuhan. Hawa panas Surabaya sudah mulai terasa. Tidur 3 jam untuk musafir seperti saya sebenarnya sudah lebih dari cukup. Saya sudah merasa fit untuk melanjutkan perjalanan ke arah barat. Saya sempatkan singgah sebentar di Tugu Pahlawan untuk mengambil gambar, setelahnya gas pol. Kota Solo adalah tujuan saya.

 

Matahari masih berada di titik kulminasi ketika saya tiba di Solo. Tujuan pertama saya ke bengkel Ahas dekat kampus UMS (almamater saya): ganti oli mesin dan oli gardan, ganti kampas rem depan. Selesai urusan motor barulah saya temui orang-orang yang sejak awal memang sudah masuk daftar pengin saya temui. Saya putuskan untuk menginap semalam di Polokarto (Kabupaten Sukoharjo), di rumah Mbahputri (ibu dari bapak sambung saya).

 

JUM’AT, 5 JUNI 2026

 

Selepas shalat shubuh saya sudah berkemas-kemas, tapi baru benar-benar meninggalkan Solo raya setelah pukul 10.00. Ternyata masih banyak orang-orang yang harus saya temui, yang itu pun tidak semua agenda itu kesampaian. Hehe.

 

Tujuan selanjutnya adalah Yogyakarta.

 

Saya Jum’at-an di sebuah masjid di gang sempit, tak jauh dari Stasiun Lempuyangan. Sehabis sholat saya istirahat sejenak di rumah seorang bapak yang rumahnya tepat di samping masjid. Beliau seorang paruh baya, kenalan yang menampung saya ketika pertama kali menginjakkan kaki di Yogyakarta 15 tahun yang lalu. Karena saya kejar target perjalanan, pertemuan di rumah itu hanya berlangsung sekira satu jam saja. Sehabis minum es teh dan makan kupat tahu saya lanjutkan perjalanan.

 

Perjalanan baru berjarak sekitar 5 kilometer ke arah selatan, saya harus menyempatan singgah sejenak untuk bertemu dua kawan lama saya, sejak sekolah menengah di Kota Palu. Muhammad Annas dan Dede Maulana. Kami bertiga dari produk yang sama: Smansa Palu. Ketika lulus sama-sama memilih ke Jogja. Bedanya, saya akhirnya terdampar ke Solo. Sementara mereka justru mendarah daging bersama Jogja, yang satu menjadi dosen, satunya lagi pengusaha. Sebelum berpisah, kami foto bareng dengan gaya seperti terakhir kali kami berpose bersama waaktu mereka datang menjenguk saya di Solo, duabelas tahun silam.

 


Saya kira pertemuan itu hanya akan berlansung sejenak: sejam atau dua jam saja. Ternyata tidak ada sejenak. Keasyikan ngobrol membuat waktu seperti melesat begitu cepat, ba’da magrib baru saya benar-benar melanjutkan perjalanan ke arah barat.

 

Diskusi kami akhiri sebelum adzan magrib. Juga sebelum adzan, saya sempatkan untuk singgah sejenak di hotel Grand Palace yang terletak di Jalan Parangtritis (tidak jauh dari masjid yang hendak saya tuju). Bukan untuk menginap, melainkan untuk tapak tilas. Di hotel ini (kamar nomor 215), limabelas tahun yang lalu (2011), untuk pertama kalinya, di usia sembilanbelas, saya bertemu dengan bapak kandung saya. Saya tak ingin menceritakan mengenai hal ini lebih panjang di sini, cukuplah dirasakan oleh banyak orang bahwa Jogja pancen Istimewa, termasuk buat saya.

 

Saya salat magrib jamak isya di Masjid Jogoariyan. Kalau Anda ke Jogja, mungkin tak akan Anda temukan masjid sebaik Jogokariyan dalam memberikan pelayanan kepada ummat/jamaahnya, terlebih saat bulan Ramadhan. Setelah membaca buku berjudul ‘Manifesto Masjid Nabi’ yang mengisahkan dengan baik dan lengkap tentang “dapur” dari masjid ini, saya semakin menaruh hormat dan kagum kepada ketua takmirnya yang belum lama ini meninggal dunia. Buat saya, ini arketipe masjid yang benar-benar menjalankan fungsinya sebagai pusat peradaban.

 





SABTU, 6 JUNI 2026

 

Dini hari, pukul 00.30 saya istirahat di rest area Gombong. Perjalanan dari Jogja sampai Kapaten Purworerjo saya tempuh lewat Jalan Daendels (entah kenapa diberi nama Daendels, kenapa tidak diganti menjadi Pangeran Diponegoro). Sempat singgah makan malam di pecel lele di jalur Pantai Selatan (Pansela) ini. Saya juga bertemu dengan seorang kawan pelapak buku di fesbuk yang domisilinya tak jauh dari ini.

 


Selesai dan ngobrol seputar perbukuan, saya pamit. Dia menyarankan saya agar lewat Jalan Nasional III, sebab lewat Pansela selain minim penerangan jalan, juga banyak are yang berlubang. Saya turuti sarannya. Saya belok lurus ke utara, sampai di Stasiun Kutoarjo, kemudian belok kiri melanjutkan perjalanan tanpa berhenti sampai tiba di Gombong. Saya pesan kopi untuk menghilangkan kantuk. Ternyata tidak mempan. Saya putuskan untuk baring di kursi panjang warkop di rest area ini.

 

Saya terbangun pukul 03.00. Saya anggap cukup waktu istirahat saya. Saya melanjutkan perjalanan sampai tiba adzan shubuh di sebuah masjid dekat jalur lingkar Banyumas. Sehabis salat, sambil menunggu matahari bersinar, iseng saya inbox fesbuk Pak Nass (Nassirun Wijaya aka Nassirun Purwokartun), seorang novelis dan sejarawan babad asal Banyumas. Ternyata mendapat jawaban. Jadilah saya putuskan untuk istirahat pagi di rumah beliau. Rumahnya tidak jauh dari masjid tempat saya istirahat, hanya sekira 2 kilometer.

 

Ini kunjungan kedua saya ke rumah beliau, sebelumnya 3.5 tahun yang lalu (Desember, 2022). Begitu sampai, Bu Yuli (istri Pak Nass) menyediakan sarapan untuk kami. Jangan bayangkan istirahat saya adalah tidur di kamar tamu, atau rebahan di ambal yang disediakan di teras rumah. Istirahat yang saya maksud adalah ngobrol ngalor-ngidul. Saya seperti tak pernah kehabisan bahan untuk ngobrol dengan beliau, seputar penulis dan perbukuan. Dulu bahkan sampai hampir delapan jam. Sekarang lebih cepat, 3.5 jam “saja”.

 


Jam 10.00 pagi saya sudah melanjutkan perjalanan. Belum sampai setengah jam perjalanan saya sudah merasakan kantuk yang sangat berat, saya singgah di sebuah masjid langsung menggelepar di serambinya sampai kira-kira sejam. Istirahat memang harusnya dengan tidur, bukan ngobrol ngalor-ngidul. Hehe. Jarak tempuh masih sekitar 350 kilometer lagi. Waktu tempuh berdasarkan google map tidak pernah saya pakai. Saya kadang bisa istirahat di satu tempat lebih lama, atau putar balik sekiranya ada hal yang menarik untuk dilihat atau diabadikan kamera.

 

Tidur pagi selama sejam sudah cukup untuk memulihkan kekuatan. Saya langsung tancap gas, dan baru istirahat lagi setelah sore hari sampai di ujung Kabupaten Tasikmalaya. Saya puaskan istirahat selama hampir sejam, sebelum memasuki jalan berkelok dan menanjak sepanjang hampir 50 kilometer melintasi Jalur Nagreg (Kabupaten Bandung), jalan raya paling legendaris di Jawa Barat.

 

Pukul 16.40 WIB, setelah menempuh perjalanan santai selama hampir 2 jam, saya tiba di akhir (pangkal) jalur Nagreg. Jangan lupa singgah menikmati ubi cilembu di sini. Ubinya selalu disajikan dalam kondisi hangat dan ada lelehan madunya. Rasanya manis, dipadu dengan kopi pahit sungguh nikmat sekali.

 


Kopi sudah tandas, saya melanjutkan lagi perjalanan, menuju kota Bandung. Seperti dugaan, baik di hari libur apalagi hari kerja, sore hari melewati Cileunyi macetnya minta ampun. Jalanan padat dengan kendaraan roda dua, para buruh baru keluar pabrik. Bertepatan dengan adzan magrib saya baru sampai di Bandung.

 

Saya tidak singgah di kota Bandung, memilih lanjut terus lewat boulevard Jalan Soekarno-Hatta yang relatif lebih lancar, kecuali penumpukan kendaraan di lampu merah simpang Kiaracondong. Saya sudah banyak berkeliling kota-kota besar di pulau Jawa, terutama Jakarta, tapi belum pernah menemukan lampu merah terlama kecuali di simpang ini: +5 menit! Dengan lampu hijau hanya 90 detik. Benar-benar melatih kesabaran. Jangan lewat sini kalau lagi kebelet, Anda bisa berak di celana.

 

Saya baru memutuskan istirahat lagi setelah menjelang masuk ke wilayah Kabupaten Cinjur, pukul 21.00. Di ujung barat Kabupaten Bandung Barat itulah saya memutuskan untuk istirahat. Saya rebahkan badan di teras mushola, di pom bensin daerah Mandalawangi. Mungkin sekitar sejam saya tertidur di sini. Pukul 22.30 baru saya lanjutkan perjalanan yang jarak tempuhnya tinggal 70 km lagi. Target saya sebelum pergantian tanggal/hari, saya sudah harus tiba di rumah.

 

Dengan sisa-sisa tenaga, target itu tercapai. Saya tiba di rumah pukul 23.58, dua menit menjelang pergantian hari. Alhamdulillah.

 


***

 

Hakikatnya hidup ini adalah menempuh perjalanan. Seberapa jauh dan seberapa lama, seberapa terjal dan seberapa beratnya, pada akhirnya kita akan sampai di ujung jalan. Semoga kelak kita tiba dengan selamat.

 

Demikian saya akhiri tulisan ini.

 

Kabupaten Sukabumi, 17 Agustus 2026

Iwan Mariono

SETELAH ARGENTINA LOLOS 8 BESAR


Betapa korupnya FIFA sejak puluhan tahun yang lalu bisa dibaca di buku ini. Korupnya tak hanya di dalam, di luar lapangan lebih parah. Saya pendukung Argentina. Penulis buku ini juga (ternyata) pendukung Argentina. Saya tak tahu bagaimana perasaannya usai nonton pertandingan semalam. Adapun perasaan saya campur aduk. 


Jujur saja, semalam saya ikut selebrasi sewaktu Messi berhasil mencetak gol dan menyamakan kedudukan. Tapi kemudian saya ikut kecewa, terlebih setelah melihat tangis Mo Salah, dan komentarnya di depan media. Terasa sekali pertandingan ini jadi tidak fair. Terutama terkait gol kedua Mesir yang dianulir, seharusnya wasit meniup peluit pelanggaran jauh sebelum Mostafa Ziko berhasil melesakkan golnya ke gawang Martinez. 


Apakah wasit benar-benar mendukung kemenangan di pihak Argentina, saya tak punya komentar. Saya baca di Goal, sebelum pertandingan dimulai, penunjukan wasit asal Perancis ini justru ramai penolakan di pihak suporter Argentina. 


Dengan segala fakta betapa culas dan korupnya FIFA, apakah membuat pagelaran Piala Dunia menjadi tak menarik lagi untuk ditonton? Seharusnya iya! Tapi sayangnya, saya tak pernah benar-benar bisa meninggalkannya. Saya tetap menontonnya. Perbedaannya mungkin, euforia saya tak lagi seperti tahun-tahun yang usai. 


Mungkin sama seperti penulis buku ini, saya menikmati kompetisi Piala Dunia bukan sekadar sebagai pendukung Argentina. Lebih dari itu, saya menikmatinya sebagai pencinta sepakbola.

DEBU MOROWALI


Saya senang Bhima menulis novel tentang tambang di Morowali. Namanya novel, tentu ada dramatisasi cerita. Tapi nasib pekerja sebagaimana ia kisahkan dalam buku ini, jelas bukan cerita fiktif. 

Saya mendengar dan menyaksikan sendiri bagaimana kecelakaan kerja hampir setiap hari terjadi: (1) ada yang jatuh dari ketinggian 23 meter menyebabkan multipel fraktur di lengan dan bahu; (2) ketiban material ore sampai mematahkan tulang paha; (3) terperosok ke dalam limbah panas dengan luka bakar nyaris seratus persen ; (4) luka bakar akibat ledakan tungku PLTU; (5) dan kecelakaan kerja lain yang tak terhitung jumlahnya. 

Saya pernah bertanya ke salah satu rekan kerja orang yang jatuh dari ketinggian itu. Bagaimana pengawasan dari K3-nya kok bisa sampai ada yang jatuh dari tempat setinggi itu? Jawaban dia: "Ah, hanya formalitas saja itu, Pak." 

Bukan hanya nasib pekerja, termasuk keluarganya pun banyak yang terdampak, terutama anak-anak. Sebagian besar yang sudah berkeluarga datang ke Morowali dengan memboyong istri dan anaknya. Banyak anak balita yang dibawa ke poli dengan keluhan batuk-pilek, kadang disertai sesak. Saat saya tempelkan stetoskop di dadanya, sebagian besar terdengar suara rhonki (suara kasar bunyi grok-grok di organ paru). Itu jelas bukan batuk-pilek biasa. 

Orang tuanya biasa mengeluh kenapa batuk anaknya sering kambuhan, habis obat, sebulan dua bulan kambuh lagi. Saya hanya bisa memberikan saran: sebaiknya sang anak dititip ke neneknya di kampung, atau pasangan merawat anak di kampung, jadi orang tua yang kerja saja yang tinggal di sini. 

Mungkin hanya saya dokter yang tak melewatkan bertanya kampung asal pasien yang datang berkunjung ke poli rawat jalan. Dari situ saya jadi tahu, ratusan atau bahkan seribuan pengujung poli itu, sebagian besar didominasi oleh pekerja yang datang dari Tana Toraja, Enrekang, dan Luwu raya. 

Banyak dari mereka ini, statusnya sebagai pekerja helm kuning. Sebagian besar jelas indekos di tempat yang terbuka, alias non-AC. Sementara debu dan asap tak pernah istirahat, siang-malam selalu menghiasi udara di Fatufia dan desa-desa lain di sekitarnya. Jadi jangan heran, kalau anak-anak yang tinggal di sekitar pabrik sangat rentan terserang penyakit saluran nafas.

Pengalaman serupa cerita saya di atas itu, sebagian ditulis juga oleh Bhima dalam buku ini. Saya tak tahu siapa saja yang menjadi narasumber Bhima dalam penelitiannya. Jelas ini bukan novel yang asal mengarang cerita.

Buku ini pertama kali diterbitkan pada tahun 2023, bersamaan dengan saya masih kerja di sana.


KOLONIALISME DI PAPUA

Tempo akhirnya menggunakan diksi kolonialisme. Tak mudah untuk meyakinkan banyak orang bahwa yang terjadi di sana adalah sebentuk kolonialisme. Kita harus belajar antropologi, selain belajar sejarah kolonialisme yang pernah terjadi di masa lalu. 





Untuk mendiagnosis apa yang terjadi di Papua sebagai sebentuk kolonialisme, mau tak mau, suka tak suka, orang harus menggunakan analisa kiri. Pendekatan marxis menjadi jelas dalam melihat perkara ini. 


Apakah ini yang membuat kebanyakan ormas Islam -disadari atau tidak- sebagai satu kekuatan organisasi, enggan untuk menunjukkan keberpihakan secara terbuka? Bahkan secara subtil dan tanpa sadar, ormas justru menjadi bagian dari kelas borjuis kapitalis tersebut? 


Mempelajari Karl Marx dan marxisme tentu lebih sulit, dibanding Anda percaya pada tuduhan film Pesta Babi didanai asing. Sosialisme marxis dapat dukungan dari George Soros, bukankah itu sesuatu yang kontradiktif? Hehe. 





Masalah Papua adalah perkara yang kompleks. Bukan saja masalah ekologi, tetapi juga perkara memori kolektif sebagai kawasan yang belum tuntas dengan sejarah masa lalunya.


Menjelang lahirnya Republik Indonesia, para pendiri bangsa pernah terlibat dalam diskusi yang hangat terkait masalah pulau berbentuk burung ini. Bung Hatta, lebih cenderung untuk melepas Irian Barat dan membiarkan mereka menentukan nasibnya sendiri. 


Hatta memandang, ada potensi menjadi imperialisme baru bila kita memaksakan kehendak untuk menyamakan negara yang akan berdiri nantinya, sesuai dengan garis batas warisan Hindia Belanda. Kekhawatiran yang cukup beralasan. Tetapi ia kalah suara dibanding Sukarno dan Mohammad Yamin. 


Karena gagal sejak dari embrio, dan mungkin untuk mengurangi potensi menjadi negara imperialisme, Hatta cenderung memilih federal atau serikat (seperti Amerika Serikat) sebagai bentuk negara Indonesia. Cita-cita itu berhasil namun berumur pendek. Republik Indonesia Serikat (RIS) hanya berusia 7 bulan (27 Desember 1949-17 Agustus 1950). 


Mohammad Natsir, lewat mosi integral berhasil meyakinkan parlemen untuk mengubah bentuk Indonesia menjadi negara kesatuan (NKRI). Tentu ada alasan kuat kenapa semua pihak sepakat waktu itu, sebab RIS dicurigai sebagai bentukan Belanda, yang dengan cara itu ia bisa menjalankan politik pecah belah.


48 tahun kemudian. Sebenarnya kita punya kesempatan untuk membentuk lagi cita-cita federal atau negara serikat itu. Tepatnya paska runtuhnya rezim Orde Baru. Kita menyebutnya sebagai Reformasi, tetapi sebenarnya adalah revolusi setengah hati. Debat mengenai negara serikat kembali menghangat. 


Dalam hal ini, saya setuju dengan pendapat YB. Mangunwijaya dan Arief Budiman, yang cenderung menginginkan cita-cita tersebut dihidupkan kembali. Kekhawatiran di masa lalu terkait integrasi kita sebagai bangsa mestinya sudah tidak relevan untuk dijadikan alasan penolakan. 


Arief Budiman memberi penjelasan yang eksplisit terkait perbedaan cara kerja antara negara kesatuan dan serikat. Hanya dalam pertahanan dan kebijakan luar negeri, negara bagian tak punya peran. Di luar itu negara bagian bebas menentukan nasibnya. Dalam bidang ekonomi, misal, negara bagian boleh mengajukan bekerjasama dengan luar negeri tanpa menunggu restu dan izin dari pusat. 


Tapi pada akhirnya, bukan negara federal, yang dipilih justru otonomi daerah. Frasa yang sangat pengecut dan setengah hati. 


Apakah otonomi daerah memberi keistimewaan seperti yang kita sebutkan itu pada Papua (dan provinsi lain yang ada di Indonesia)? Jelas tidak. 


Inilah pangkal dari kolonialisme itu. Atas nama proyek strategis nasional, negara bisa melakukan perampasan aset daerah (termasuk tanah adat). Omong kosong seorang menteri bilang yang terjadi di Papua adalah pesta panen. Panen untuk siapa? Oligarki? Ya, itulah pesta babi. 


Sebenarnya bukan hanya Papua. Saya ambil satu contoh lain di Sulawesi Tengah, merujuk pada video yang diunggah oleh gubernurnya: Anwar Hafid, di akun media sosialnya. Kekayaan yang dihasilkan dari nikel di provinsi itu mencapai ratusan triliun, tetapi berapa yang didapat oleh daerah? Hanya 222 milyar. Sangat tidak sebanding. 


Apakah negara (yang diwakili oleh pemerintah pusat) bisa melakukan kolonialisme? 


Jawabannya tegas: sangat bisa!



LOYALITAS KEPADA FIGUR POLITIK





Saya tak menyangka pendukung Prabowo jauh lebih militan daripada para pendukung Jokowi. Influencer dan buzzer-nya juga jauh lebih ganas. 


Majalah yang saya pegang ini terbit 2009, menjelang Pemilu. Waktu itu saya mencoblos paslon no. 3 Jusuf Kalla-Wiranto. Alasannya mencari suasana baru. Meskipun saya mewarisi 1/3 keturunan Jawa, tapi saya tak pengin kepresidenan kita dipimpin melulu oleh orang Jawa. 


2014 saya tak ikut memilih. Walaupun kawan-kawan saya, terutama yang ikut liqo, mengajak untuk mendukung paslon 01. 


2019 ikut mencoblos lagi. Saya menjadi pendukung Prabowo. Alasannya, saya merasa Jokowi tak layak dua periode. Terlalu banyak janjinya yang tak ditepati. Nawacitanya hanyalah slogan. Meskipun waktu itu ramai seruan golput, tapi saya merasa tetap harus memilih asal bukan Jokowi. 


2024 saya tak ikut memilih. Meskipun demikian, saya turut mengampanyekan: asal bukan Prabowo-Gibran. Alasannya, duh banyak sekali kalau mau dituliskan. 


Dari sini saya hanya ingin menegaskan kalau dalam dunia politik, selain tak ada persahabatan yang abadi, juga tak ada figur yang abadi. Loyalitas kepada figur tak layak disematkan di ranah ini. 


Tidak tepat kalau kita menganggap cara berpikir orang itu tidak berubah alias tetap sama. Prabowo, sejak ia bergabung dengan pemerintahan Jokowi, menurut saya, memang sudah banyak berubah: cara berpikir dan orientasinya yang lebih ambisi terhadap kekuasaan. 


Tapi begitulah, akan ada saja orang yang tetap memilih setia pada satu figur, meskipun ia bukan siapa-siapanya, dan tak mendapat apa-apa dari sikap loyalnya. 

KOLONIALISME DI ZAMAN KITA


Saya sepakat dengan sub-judul dalam film Pesta Babi: Kolonialisme di zaman kita. 


Tentu kriteria itu tidak langsung asal comot diksi untuk kemudian ditempelkan menjadi sub-judul. Ada proses panjang sebelum leksikon yang penuh dengan polemik itu akhirnya dipilih dan disematkan. 


Untuk menilai apakah sesuatu tersebut termasuk penjajahan atau bukan, diperlukan wawasan yang luas. Yang sudah pasti adalah Anda harus belajar sejarah kolonialisme yang pernah terjadi di masa lampau. 


Begitu juga dalam menentukan apakah yang terjadi di Papua Selatan kiwari termasuk kategori kolonialisme, Anda tidak cukup melakukan kerja advokasi hanya dalam sehari dua hari, atau bahkan setahun dua tahun. Pekerjaan itu memakan waktu belasan bahkan puluhan tahun. Kita bisa berdebat panjang mengenai hal ini. 


Kalau Anda mengenal Dandhy Laksono baru 2-3 tahun terakhir, atau baru mengenalnya lewat 2-3 film yang ia sutradarai seperti Dirty Vote dan Sexy Killer, sangat wajar bila Anda meragukan kredibilitasnya. 


Keraguan itu mungkin akan sedikit sirna bila Anda sudah mengikuti perjalanannya mengelilingi Indonesia sepuluh tahun terakhir dan menyaksikan video-video dokumenter yang ia hasilkan. Yang sangat terkait dengan film Pesta Babi adalah film The Mahuze's yang sudah rilis sejak sepuluh tahun silam. 


Dan mungkin akan benar-benar sirna bila Anda mundur 15 tahun terakhir, dengan membaca buku Jurnalisme Investigasi yang ia tulis. Buku ini tidak berisi teori-teori tentang jurnalisme yang kaku, melainkan bercerita pengalaman bagaimana ia jatuh bangun dalam melakukan kerja investigasi yang penuh dengan risiko. 


Kendala besar yang ia hadapi sebagai jurnalis dalam menginvestigasi kasus Munir di awal kematiannya, saya anggap yang paling heroik. Masih banyak hal lain yang ia ceritakan, frustrasinya terhadap tv swasta, yang lebih mengutamakan tayangan norak tapi penuh komersial, sehingga dia harus membangun media yang independen. 


Saya menilai ada standar moral dan nilai integritas yang dijunjung tinggi dalam buku itu. Secara filosofis, pekerjaan seorang jurnalis yang bergerak dalam misi investigasi, sesungguhnya adalah kerja untuk kemanusiaan.

ADAKAH RATU ADIL?


Seorang kawan yang biasa debat masalah negara dengan saya, mengirimi video ini via WA. Bukan tanpa sebab video tersebut dikirim ke saya. Sejak lama, dia punya sosok yang menurutnya memenuhi kriteria sebagaimana dimaksud oleh Mbah Nun. Sosok tunggal yang bisa membuat Indonesia lepas dari jeratan BI. Sebab BI, dalam pandangannya, dianggap sebagai biang kerok kemunduran bangsa Indonesia. Sudah selayaknya saya juga turut mendukungnya, kira-kira begitu maksudnya. 


Saya tidak akan mempromosikan namanya di sini. Sebab begini (alasan ini saya sampaikan pula kepadanya). Sejak saya terpapar oleh buku-buku karya Kuntowijoyo, terutama yang berjudul Selamat Tinggal Mitos Selamat Datang Realitas, saya sudah tidak percaya lagi pada sosok yang dianggap sebagai Ratu Adil. 


Saya mengakui, butuh sosok yang super hebat untuk bisa memimpin Indonesia, tapi sekaligus saya tidak percaya akan adanya Ratu Adil, sebab itu hanya mitos. Jauh sebelum Indonesia merdeka, sampai zaman kiwari, masih ada yang menganggap mitos tersebut sebagai realitas. 


Pada abad ke-19, (1) Pangeran Diponegoro pernah dianggap sebagai sosok Ratu Adil. Satu abad kemudian, orang menganggap sosok tersebut ada pada diri (2) HOS Cokroaminoto. Setelah Indonesia merdeka, "gelar" tersebut sempat disematkan pada Presiden (3) Sukarno (Pemimpin Besar Revolusi). Dan terakhir, di awal munculnya (4) Jokowi, tidak sedikit yang memercayai dia sebagai wujud dari Satrio Piningit (nama lain dari Ratu Adil), sebagaimana yang diramalkan oleh Jayabaya (sampai ada yang menerbitkan bukunya). 


Hasilnya apa? Sosok pertama sudah dibungkam sebelum berhasil mengepakkan sayapnya lebih jauh. Sosok kedua sudah meninggal dunia sebelum cita-citanya berhasil. Sosok ketiga justru menjadi sebuah tragedi saking lamanya ia berkuasa. Sosok keempat, silakan Anda tuliskan sendiri. Orangnya masih hidup, kisahnya belum usai, tapi yang sudah jelas usai: Satrio Piningit yang disematkan padanya adalah mitos terbesar yang pernah diciptakan oleh bangsa ini. 


Buat saya, berdasarkan pembacaan saya selama ini, solusi dengan menghadirkan (mitos) pemimpin Ratu Adil itu tidak akan pernah berhasil mengentaskan permasalahan bangsa Indonesia yang maha kompleks ini. Yang bisa kita lakukan adalah terus-menerus mendidik karakter anak bangsa: (1) menjunjung tinggi moralitas berdasarkan tuntunan agama, (2) punya perangai ilmiah, (3) sadar hukum secara kolektif, dan punya (4) jiwa altruistis yang tinggi. 


Minimal 4 poin tersebut yang perlu kita kuantifikasi skalanya. Itu semua diciptakan, tidak datang sendiri dari langit apalagi dibentuk oleh hanya satu sosok tunggal. Dia adalah proyek lintas generasi. Pendidikan karakter tersebut jelas mensyaratkan adanya guru yang inspiratif. 


Jika Presiden Prabowo punya kehendak politik untuk membentuk pengkaderan guru-guru yang inspiratif dan punya wawasan luas, jelas hasilnya bukan dia yang menikmati. Bahkan setelah seratus kali pergantian presiden (semoga presiden masih hidup sampai seribu tahun): hasilnya belum tentu seratus persen. Tapi setidaknya dia punya sumbangsih. 


Jadi, pemimpin menjalankan tugasnya bukan karena dia punya wangsit sebagai Ratu Adil, melainkan bekerja berdasarkan undang-undang yang mengatur. Itulah yang paling realistis. 


Dan pemimpin tersebut akan lahir jika masyarakat sipil (civil society) sebagai pemilihnya, sudah memenuhi (minimal) empat poin di atas.

MEMAHAMI BEKERJANYA KEBIJAKAN TOTALITER LEWAT KARYA GEORGE ORWELL

Saya baru menyelesaikan novel Animal Farm (Pertanian Hewan --sesuai judul aslinya) dengan tambahan sub-judul Republik Hewan untuk versi terjemahan Indonesia. Rasa tertarik pada novel ini muncul setelah saya terlebih dahulu mendengarkan siniar AI-nya di kanal YouTube beberapa pekan lalu. 


Novel ini disajikan dalam bentuk semi-fabel, dengan karakter utamanya seekor babi bernama Napoleon, pemimpin utama Animal Farm. Ia digambarkan sebagai sosok yang licik dan jahat, serakah, suka memanipulasi kebenaran, dan anti perbedaan pendapat. 


Ya, tokoh utamanya adalah para babi yang sekaligus menjadi antagonis. Adapun tokoh protagonis justru menjadi tokoh kedua yang diwakili oleh kuda, sapi, domba, keledai, dan beberapa jenis unggas, serta seekor babi yang karena sifat altruisnya justru membuat ia tersingkir dari Animal Farm. 


Cerita bermula dari seorang pemilik usaha pertanian dan peternakan bernama Jones. Tuan Jones ini seorang pemabuk, yang karena keseringan mabuk dia jadi menelantarkan hewan-hewan ternaknya. 


Suatu hari, hewan-hewan tersebut mengadakan pertemuan yang dipimpin oleh seekor babi sepuh bernama Mayor (usianya 12 tahun). Intinya, Mayor memberi ceramah 'subversif' yang membuka kesadaran para hewan bahwa selama ini mereka hanya dijadikan sebagai budak oleh manusia. 


Hari demi hari berlalu, akhirnya saat yang telah ditentukan tiba, hewan-hewan memberontak kepada majikannya. Pemberontakan tersebut berhasil mengusir Tuan Jones dan para pekerjanya untuk pergi keluar dari rumah dan wilayah pertaniannya. Membuat hewan-hewan tersebut menjadi merdeka tanpa tuan. 


Para hewan yang tanpa tuan ini kemudian menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada para babi yang dianggap sebagai pemrakarsa utama pemberontakan. Mereka kemudian memberi nama wilayahnya tersebut sebagai Animal Farm. 


Animal Farm berdiri di atas 7 Sila:


1. Apapun yang berjalan dengan dua kaki adalah musuh.


2. Apapun yang berjalan dengan empat kaki, atau memiliki sayap, adalah teman.


3. Tidak ada hewan yang boleh mengenakan pakaian.


4. Tidak ada hewan yang boleh tidur di tempat tidur.


5. Tidak ada hewan yang boleh meminum alkohol.


6. Tidak ada hewan yang boleh membunuh hewan lain.


7. Semua hewan itu sama.


Bertahun-tahun kemudian, Animal Farm, yang semula hanyalah sebuah komunitas pertanian yang dikerjakan secara mandiri oleh para hewan (kecuali para babi yang bertindak sebagai koordinator), di kemudian hari bertransformasi menjadi sebuah negara republik dengan pemimpinnya (tentu saja) si babi Napoleon. 


Ceritanya penuh dengan paradoks. Sebab, Animal Farm di bawah kepemimpinan para babi, yang semula diharapkan menjadikan hewan-hewan (tanpa tuan) tersebut menjadi binatang yang hidupnya bahagia dan serba berkecukupan, ternyata nasibnya tidak lebih baik daripada ketika mereka masih hidup sebagai "budak" manusia. 


Secara bertahap, beberapa Sila diberi keterangan tambahan secara dian-diam demi kepentingan para babi. Saya ambil contoh Tiga Sila yang saya ingat:


4. Tidak ada hewan yang boleh tidur di tempat tidur DENGAN SELIMUT. 


5. Tidak ada hewan yang boleh meminum alkohol SECARA BERLEBIHAN.


6. Tidak ada hewan yang boleh membunuh hewan lain TANPA ALASAN.


7. Semua hewan itu sama TETAPI BEBERAPA HEWAN LEBIH SETARA DARI YANG LAIN.


Para hewan yang buta huruf tidak menyadari bahwa Sila yang ditulis dengan jelas tersebut telah diubah oleh para babi secara diam-diam. Ada seekor keledai (pandai membaca) bernama Benjamin yang menyadari perubahan tersebut, tapi ia tak berani protes sebab ia takut nyawanya terancam. 


Untuk selengkapnya silakan baca langsung bukunya. Goerge Orwell dalam buku ini berhasil mengaduk-aduk emosi pembaca, bahkan membuat saya beberapa kali harus berhenti sejenak untuk merenungkan banyak hal. 


*** 


Novel ini sebenarnya merupakan alegori bagaimana sebuah negara diktator terbentuk --lebih tepatnya dibentuk. Yang paling utama lewat propaganda dan indoktrinasi. Yang kedua adalah memberi citra kepada pemimpin sebagai sosok yang baik, dengan menyembunyikan karakter aslinya. Dalam versi modern, karakter pemimpin dibentuk sedemikian rupa oleh media, hingga publik terkesan bahwa ia memang figur terbaik yang layak menjadi pemimpin. 


Propaganda tersebut akan sukses jika dalam komunitas (baca: negara) tersebut mayoritas penghuninya dihuni oleh orang-orang yang masih buta huruf. Buta huruf di sini tak bisa hanya dimaknai sebagai buta aksara, melainkan ketidakmampuan untuk memahami bagaimana 


Saya termasuk yang telat mengenal novel ini. Tapi justru dengan ke-telat-an itulah novel ini jadi terbaca dengan jelas buat saya. Sepanjang membacanya, secara spontan, entah kenapa saya menduga kuat sosok Napoleon ini adalah Stalin versi dunia nyata. 


Ternyata dugaan tersebut ada benarnya. Sebab, di akhir halaman buku ini ada dicantumkan biografi singkat dari Goerge Orwell (nama pena), yang bernama asli Eric Arthur Blair. Ia seorang jurnalis beraliran sosialis-demokratis (dugaan saya termasuk marxist) yang anti-Stalin. Ia pernah bergabung sebagai prajurit POUM (Partido Obrero de Unificación Marxista --Partai Pekerja untuk Pemersatu Marxist). 


Lewat novel ini, Orwell ingin memberikan pelajaran kepada pembacanya, bagaimana totalitarianisme itu dibentuk secara sistematis, tidak secara natural.


Sukabumi 

29 April 2026



YAHUDI VS ZIONISME

 

 

Ucapan Ana Kasparian --jurnalis Amerika-- ini bisa kita jadikan standpoint dalam mengutuk kebengisan zionis israel. Ini memang harus diperjelas: kita tidak membenci seseorang karena lahir sebagai Yahudi. 

Buat seorang Muslim, bahkan Nabi pernah hidup berdampingan secara rukun dengan orang Yahudi di Madinah. Meskipun pernah terjadi pengkhianatan, tapi tak semua Yahudi turut dalam kejahatan tersebut. Bahkan tidak sedikit rabi Yahudi yang mengakui kenabian Muhammad Shallallahu alaihi wassalam. 

Sikap anti-semit harus kita jauhi. Bagaimana caranya? Dengan mulai membedakan antara Yahudi sebagai etno-religius dan zionis sebagai ideologi nasionalis Yahudi yang menjadi tulang punggung berdirinya negara apartheid bernama israel. 

Ini yang kadang susah dibedakan oleh beberapa orang. Tidak usah jauh-jauh, kadang kita membaca cuitan dari warganet yang mengutuk serangan israel, tapi kesan tulisannya sangat melaknat Yahudi secara general. Bahkan ada yang tanpa sadar membenarkan tindakan Hitler membantai mereka. 

Begitu juga sebaliknya. Orang israel sendiri mudah sekali menuduh orang yang mengecam serangan zionis israel kepada Palestina sebagai anti-semit. Dia pun tak bisa lagi membedakan antara Yahudi dan zionisme. Termasuk netanyahu si tukang jagal anak-anak sering menggunakan tuduhan antisemitisme untuk merespon berbagai kritik internasional. 

Jadi mengkritik zionis israel sebagai tukang genosida, tidak otomatis menolak keberadaan orang Yahudi di dunia. Menurut Roger Garaudy dalam bukunya yang pernah saya baca, sebenarnya organisasi ini (zionis) didirikan oleh para nasionalis sekuler (profan), tapi menjadikan agama yang sakral sebagai basis, sekadar untuk mendapat legitimasi. Nama israel kemudian sengaja dipilih. 

Lebih jauh lagi. Dalam buku ‘Mitos dan Politik Israel’ yang ditulis oleh Roger Garaudy ini, dijelaskan bahwa kelompok zionis justru melakukan kolusi dengan Nazi. Jadi mereka bukannya tidak tahu ada pembantaian terhadap orang-orang Yahudi (kaumnya sendiri). Itu dibuktikan lewat surat-menyurat dan memorandum Partai Nazi dan kelompok zionis Jerman. 

Tak heran ketika awal mula negara apartheid ini hendak dideklarasikan (1948), banyak penentangnya dari kalangan Yahudi (etno-religius) sendiri. Saya sebut saja satu nama dari kalangan sosialis yang fokal menentangnya: Albert Einstein. Lewat suratnya, dengan tegas Einstein menyebut zionis sebagai agen teroris.

Label yang diberikan oleh Einstein itu masih valid sampai hari ini.

AGUS MUSTOFA DAN TADABUR QUR'AN




Saya masih termenung mendapat kabar lewat Catatan Dahlan Iskan, Pak Agus Mustofa meninggal dunia. 
https://www.facebook.com/share/1CDsQC42js/?mibextid=wwXIfr

Saya punya banyak kenangan dengan karya-karyanya (ya, sebatas karyanya, tidak pernah bertemu langsung dengan orangnya). 

Begini ceritanya. Saya pernah menjalani masa nganggur di Jogja selama setahun lebih (2011-menjelang akhir 2012), benar-benar nganggur. Waktu kosong itu saya manfaatkan untuk melahap buku apa saja yang saya temukan di toko buku, salah satunya buku Serial Diskusi Tasawuf Modern (SDTM). 

Waktu itu di Shopping Book Centre Jogja harga normal buku-bukunya kisaran 40-60rb, tapi karena saya belanja banyak bisa dapat diskon, 100rb dapat 3 judul. Setelahnya, setiap 3-4 bulan ia selalu menerbitkan buku. 

Saya mengenal namanya setelah membaca buku Quantum Ikhlas karya Erbe Sentanu, di situ Pak Agus memberikan komentar endorsnya untuk buku tersebut. 

Bukunya yang termasuk awal-awal saya baca kalau tak salah judulnya "Tak Ada Adzab Kubur", dari judulnya saja sudah jelas kontroversial. Tapi buku ini memang banyak mengubah saya dalam memandang yang namanya adzab kubur. Maksud Agus Mustofa dalam buku itu bukan sama sekali tak ada adzab. Tetap ada, tapi bukan dalam bentuk siksaan fisik, melainkan siksaan psikis. Argumennya karena jasad dan ruh kita ketika dalam kubur itu masih terpisah, belum disatukan kembali. Tunggu nanti setelah hari kiamat. 

Anda boleh setuju atau tidak dengan argumennya. Sebenarnya latar belakang ditulisnya buku ini adalah untuk mencounter sinema dan sinetron adzab kubur yang mulai marak di tivi-tivi saat itu (yang paling saya ingat Rahasia Ilahi di TPI), yang dianggapnya menyesatkan. Sekadar membuat orang takut berbuat dosa, tapi tidak mencerahkan. Belakangan kemudian sinema itu memang menghilang begitu saja dalam peredaran. 

Yang jelas setelah membaca buku itu, saya jadi tertarik untuk membaca buku-bukunya yang lain. Dua judul yang juga kontroversial adalah buku "Ternyata Adam Dilahirkan" dan "Adam Tak Diusir dari Surga". Jadi sebelum saya membaca polemik teori evolusi yang ditulis oleh Shoaib Ahmed Malik, saya sudah lebih dulu membaca karya Agus Mustofa "Ternyata Adam Dilahirkan", jadi buku-buku yang datang kemudian tidak begitu mengejutkan saya. 

Banyak yang mengkritiknya, tentu saja. Saya bahkan sampai membeli dan saya membaca buku yang disusun oleh dua kiai dari Pesantren Sidogiri Jawa Timur, judulnya: "Menelaah Pemikiran Agus Mustofa, Koreksi Terhadap Buku Serial Diskusi Tasawuf Modern". Tidak semua serial dikritik dalam buku itu, hanya yang kontroversial. Yang kontroversial dari buku-buku Agus Mustofa memang hanya judulnya, melainkan judul merepresentasikan isi. 

Poin-poin yang saya tangkap dari kritik kiai dari Pesantren Sidogiri demikian: (1) Agus Mustofa tidak menggunakan metode tafsir yang baku, ia hanya mengambil ayat yang sifatnya random, lewat indeks terjemahan Al-Qur'an; (2) mengabaikan penggunaan hadits, termasuk hadits shahih, (3) tidak pernah mencantumkan referensi dalam membangun argumentasi. 

Tak lama kemudian Agus Mustofa membalas tuduhan itu dalam satu buku utuh yang ia masukan dalam Serial ke-25 Diskusi Tasawuf Modern dan diberi judul: "Membela Allah". Di situ ia menjawab semua kritik yang pernah dilontarkan kepadanya, termasuk kritik yang datang dari Pesantren Sidogiri. 

Ada banyak pembelaannya, tapi jawaban yang paling saya ingat bahwa, semua yang dituliskannya sesungguhnya sebatas diskusi, makanya ia namanya "Serial Diskusi Tasawuf Modern", bukan "Serial Kebenaran Tasawuf Modern". Juga di akhir diskusi selalu ia akhiri dengan mengucap wallahu a'lam bishawab (Dan Allah lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya). 

Klaim diskusi itu memang benar adanya. Sejak 2011 memang saya aktif mengikuti diskusi dan debatnya dengan seorang atheis di Facebook. Bahkan tidak sedikit dari diskusi tersebut kemudian lahir sebagai buku. 

Saya lupa persisnya berapa banyak bukunya yang sudah saya baca, yang jelas lebih dari 30 judul. Beberapa tahun karena kesibukan di kampus, saya tidak mengikuti lagi buku-buku terbarunya. Bukunya yang terakhir saya baca dan bahkan saya ulas baru-baru saja adalah tentang Hisab dan Rukyat.
https://www.facebook.com/share/18Lf32JYNr/?mibextid=wwXIfr 

***

Sesuai dengan judul catatan di atas, saya ingin mengakhiri tulisan saya ini dengan renungan begini. Belakangan baru saya ketahui, bahwa apa yang dituliskan oleh Agus Mustofa (di hampir seluruh isi bukunya) itu sesungguhnya adalah tadabur qur'an, dan bukan tafsir. 

Untuk menjadi seorang ahli tafsir, ada banyak kualifikasinya, dan yang pertama-tama yang tidak-mungkin-tidak seseorang harus menguasai bahasa Arab. Sementara untuk menjadi ahli tadabur Anda tidak harus menguasai bahasa Arab. Cukup sering membaca dan merenungkan artinya. 

Tadabur pada hakikatnya adalah sesuatu yang sifatnya intrinsik dan esoteris (personal). Dalam mentadaburi Qur'-an sata yakin Anda pasti punya pengalaman yang sifatnya personal, yang mana hal tersebut boleh jadi tidak berlaku buat orang lain. Jadi dalam hal ini, cocologi atau dalam bahasa Jawa-nya otak-atik gatuk itu tidak masalah buat seorang Muslim. Yang menjadi masalah kalau hasilnya ia pamerkan ke luar. 

Ambil contoh, sekarang coba buka Qur'an yang ada di depan Anda secara random, kemudian baca satu atau dua ayat. Bisa saja Anda tiba-tiba tersungkur menangis, sebab ada jawaban untuk masalah yang sedang Anda hadapi hari ini. Tapi itu bukan berarti berlaku untuk orang lain. Itulah hasil dari tadabur. 

Sementara tafsir sebaliknya, ekstrinsik. Kalau kemudian Agus Mustofa mendapat banyak kritik dari para ahli (Qur'an maupun hadits) --termasuk olok-olok dari kelompok atheis (bahkan setelah wafatnya)-- ya itu karena ia menulis dan mengekspose hasil renungan pengalamannya. Membawa ke luar sesuatu yang seharusnya cukup disimpan ke dalam. 

Apakah itu salah? Tentu saja tidak. Tapi konsekuensinya ia harus siap mendapat kritik, bahkan caci maki, dari orang yang berseberangan pemikiran dengannya. Yang paling menyakitkan memang kalau dijadikan bahan olokan. 

Saya pribadi sebagai seorang awam, tetap menghargai Pak Agus dan karya-karyanya. Buku-buku itu, meskipun saya tidak sepakat dengan semua isinya, minimal membuka cakrawala saya tentang betapa luas dan mendalamnya Qur'an bila hendak kita selami --baik sebagai ahli, atau seorang awam sekalipun. 

Doa saya untuk Pak Agus Mustofa: 

Allahummaghfirlahu warhamhu wa aafihi wafuanhu. 

Salam.

MARX VS MARXISME

 


Lewat buku Erich Fromm ini saya jadi sadar kenapa seorang Sukarno atau bahkan Mohammad Hatta tak pernah saya dapati --dalam pidato maupun karangan mereka-- menolak total apalagi mengutuk pemikiran Karl Marx.

Dalam salah satu wawancaranya (bersama DR. Z Yasni, yang kemudian dihimpun menjadi satu buku berjudul 'Bung Hatta Menjawab'), Bung Hatta pernah menjawab, bahwa konsep sosialisme yang dikehendaki oleh Karl Marx justru bertentangan dengan yang dipraktikkan oleh Lenin. 

Bung Karno lebih jauh lagi, dalam jilid 1 DBR, ada satu karangannya khusus memperingati hari lahir Karl Marx (saya lupa judulnya dan tidak bisa kroscek, buku tersebut ada di Sulawesi). Kesan saya waktu membaca karangan itu, Sukarno menunjukkan betapa ia sangat mengagumi Marx, dan menempatkannya sebagai sosok terpuji. Konsep marhaenisme Sukarno tak lain adalah pengembangan pemikiran Marx yang sudah disesuaikan dengan kondisi alam dan budaya masyarakat Nusantara. 

Ini bukan berarti Karl Marx bebas dari kritik (buat saya pribadi terutama konsepnya mengenai determinisme ekonomi, seolah interaksi antar manusia hanya berdiri atas dasar materi). Kita hanya tidak akan membahasnya di sini oleh karena diskursus tentang Marx dan marxisme kiwari justru didominasi oleh kritikan. Bukan saja kritik, tapi sampai hujatan, yang kemudian menempatkan sosoknya menjadi seperti hantu yang menakutkan. 

Fromm juga mengkritik Marx, tapi di bukunya yang lain (misal dalam buku: The Sane Society, 1955). Fromm menulis kritiknya terhadap Karl Marx meliputi: "Ketidaksetujuan saya dengan Marx terkait dengan kenyataan bahwa Marx tidak berhasil melihat seberapa tinggi kapitalisme sanggup memodifikasi diri agar mampu memenuhi kebutuhan ekonomi bangsa-bangsa yang terindustrialisasi. Marx juga gagal melihat secara cukup jelas bahaya birokratisasi dan sentralisasi, dan ia juga gagal meramalkan sistem otoritarian yang bisa muncul sebagai alternatif bagi sosialisme." (Hlm. 11). 

Ada pun dalam buku "Marx's Concept of Man" ini, dia coba menilai Karl Marx secara lebih adil. Filsafat Marx, dalam pandangan Fromm, sama seperti sebagian besar pemikiran eksistensialis lainnya, merupakan protes terhadap keterasingan (alienasi) yang menimpa manusia, yaitu bahwa manusia kehilangan (jati) dirinya dan berubah menjadi barang. Filsafat Marx adalah gerak melawan dehumanisasi dan otomatisasi manusia. 

Sama seperti Bung Hatta, Fromm dengan tegas mengatakan bahwa Uni Soviet dan (bahkan ditambah) Tiongkok, bertentangan dengan gagasan Karl Marx. "Keadaan yang sesungguhnya," tulis Fromm, "Uni Soviet adalah sebuah negara dengan sistem kapitalisme konservatif, bukan sosialisme yang digagas oleh Marx. Sedangkan dengan berbagai cara, Tiongkok menolak pembebasan individu, padahal pembebasan individu adalah inti sosialisme itu sendiri. Tetapi, memang kedua negara itu menggunakan daya tarik marxisme untuk menawarkan diri kepada negara-negara lain di Asia dan Afrika." (Hlm. 8-9).

Fromm memberi labelnya untuk kedua negara itu sebagai pengusung ideologi: pseudo-marxisme. 

Dalam menganalisis perkembangan politik di negara-negara berkembang (termasuk Indonesia disebutkan), Fromm memberikan alternatif solusi untuk negara-negara tersebut. Solusinya bukan antara sosialisme dan kapitalisme, melainkan antara sosialisme dan sosialisme-humanis-marxis. 

Buat Anda yang belum pernah membaca buku-buku kiri, membaca langsung buku ini mungkin hanya bikin tambah bingung. Jadi saya tidak merekomendasikan untuk dibaca sekarang. Sebagai penggantinya, Anda bisa mulai mengenal Karl Marx lewat siniar-siniar berbasis AI yang banyak tersebar di kanal YouTube. 

Saya pribadi belum mengelaborasi lebih jauh seperti apa sosialisme-humanis-marxis itu (buku ini juga belum saya baca sampai khatam). Tetapi saya sepakat dengan Fromm bahwa kapitalisme tidak sama sekali menjadi solusi. Sosialisme non-marxis pun ada banyak, ide koperasi yang dikembangkan (bukan penggagas) oleh Mohammad Hatta termasuk salah satunya. Islam-pun punya konsepnya sendiri, yang saya tahu bapak bangsa seperti HOS Cokroaminoto, termasuk ulama karismatik seperti Hamka, pernah membahas konsep sosialisme dan menghubungkannya dengan Islam. 

*** 

Lewat catatan ini sebenarnya saya hanya ingin menegaskan seperti ini: Anda belum tentu menjadi seorang marxis hanya karena mempelajari ajaran Karl Marx. 

Di tengah gempuran pasar bebas dan kapitalisme liberal, tidak mungkin pemerataan kesejahteraan akan tercipta. Mempelajari Karl Marx menjadi relevan meskipun ia bukan satu-satunya solusi. Minimal ia bisa membantu Anda dalam mempertajam pisau analisa terhadap ketimpangan sosial yang terjadi. 

Islam juga punya solusi. Kuntowijoyo pernah mengulas hal ini, dan dengan jujur mengakui bahwa (sayang sekali) Islam telat memahami perkembangan kapitalisme. Setelah lebih dari setengah abad sejak Marx membangun teorinya, barulah Islam mulai mengembangkan konsep sosialisme-nya yang perdana lewat karya HOS Cokroaminoto: 'Islam dan Sosialisme'. Otomatis diksi-diksi (seperti proletar, borjuis, dll) harus meminjam dari yang konsep mapan yang sudah ada sebelumnya. 

Tetapi ini bisa dipahami, sebab secara spesifik kapitalisme lahir bukan di tanah tempat Islam menyebar secara luas, melainkan di Eropa bagian barat, tempat di mana doktrin gereja masih menguat --sekalipun arus liberalisme juga berkembang pesat. Dalam posisi itulah Karl Marx melontarkan pernyataan kontroversialnya, bahwa agama adalah candu rakyat (opium of the people). Dalam konteks abad ke-19, yang menjadi puncak kejayaan kapitalisme, gereja memang dipandang sebagai penghambat rakyat dalam melawan penindasan kapitalisme, yang menganggap bahwa nasib pekerja (proletar) memang sudah ditakdirkan demikian. Bahkan secara umum, gereja justru dianggap sebagai penyokong utama eksisnya kapitalisme. 

Semoga tulisan ini tidak dianggap makar oleh negara, dan tidak dianggap kafir oleh ummat. Hehe. 

Iwan Mariono
Sukabumi, 13 April 2026

EKONOM ALIRAN STRUKTURALIS VS CEO MBG



Saya senang almamater saya --Universitas Muhammadiyah Surakarta-- pernah menerbitkan buku ini 24 tahun tahun silam, sebagai bentuk partisipasi dalam peringatan 100 tahun Bung Hatta, waktu itu (2002). 

Penulisnya, Prof. Sritua Arief (1938-2002), yang tutup usia di tahun yang sama ketika buku ini diterbitkan, adalah seorang ekonom aliran strukturalis (sama seperti Bung Hatta, sosok yang ia kagumi). Ekonomi, dalam pandangannya, bukanlah ilmu yang bebas nilai (positive economics), melainkan ilmu yang punya tujuan sosial (normative economics). Ia menolak demarkasi antara keduanya. Untuk penjelasan lengkapnya silakan baca langsung buku ini. 

Pada masa Orde Baru, ia (bersama Adi Sasono) pernah menulis buku berjudul 'Ketergantungan dan Keterbelakangan'. Buku itu berisi kritik terhadap kebijakan ekonomi-pembangunan ala rezim Orba, yang dianggapnya hanya menekankan pada aspek pertumbuhan ekonomi.

Ini bisa dipahami. Sebab, pertumbuhan ekonomi tidak bisa dijadikan sebagai indikator pemerataan kesejahteraan. Kadang pertumbuhan tersebut hanya dinikmati sebagian kelompok, sementara kesenjangan sosial tetap tinggi.

Pertumbuhan yang lahir dari ketergantungan pada negara maju, lewat utang luar negeri, dan eksploitasi sumber daya alam untuk kepentingan asing, justru menjadi penyebab utama keterbelakangan struktural. Buku ini semakin menguatkan kebenaran istilah 'kemiskinan struktural' yang mulai populer sejak awal dekade 1980-an. 

Andai mereka berdua (Prof. Sritua Arief dan Bung Hatta) masih hidup saat ini, tentu akan geleng-geleng kepala. Sebab, alih-alih pemerataan kesejahteraan, bahkan pertumbuhan ekonomi-pun masih jauh dari yang diharapkan. 

Orde Baru pernah mencatat rekor pertumbuhan ekonomi sampai lebih dari 10% (1968), sementara rezim yang sekarang setengahnya pun masih diragukan. Kalau meminjam perkataan Rocky Gerung, pemerintah tidak ngapa-ngapain pun pertumbuhan ekonomi akan tetap segitu. 

Apakah MBG (yang mengambil anggaran paling tinggi dari semua kementerian) bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi, sebagaimana klaim Presiden Prabowo? Saya justru berpikir sebaliknya. Sebab kalau memang iya, Menkeu Purbaya-lah yang akan duluan berkoar sejak awal. Andai Bung Hatta dan Prof. Sritua masih hidup, saya yakin mereka akan mengkritik program ini, minimal mempertanyakan prioritas anggaran. 

MBG ini program pemerintah paling menyedihkan: (1) pemborosan anggaran; (2) lahan bancakan; (3) tidak ada dampak kemajuan untuk masa depan; (4) yang lapar segelintir tapi yang diberi makan adalah anak sekolah secara massal; dan (5) yang defisit pemikiran massal tapi anggarannya dibuat kerdil. 

Akhirnya, yang stunting atau kekurangan gizi tidak tertangani dengan maksimal, yang kelebihan gizi justru semakin bertambah obesitasnya.

MBG ibarat Anda diberi pepes ikan setiap hari, padahal yang sesungguhnya Anda butuhkan adalah joran disertai keterampilan untuk menangkap ikannya. Ironisnya, justru ini yang tidak diberikan oleh Negara kepada anak-anak Anda (termasuk saya). Mereka harus berjuang sendiri bersama orang tuanya. 

MBG tidak melatih kemandirian, justru menciptakan ketergantungan. 

Iwan Mariono
Sukabumi, 5 April 2026

TAN, ZEN, ONGKO D., DAN PARA PENGAGUM MADILOG



Saya baru menyelesaikan membaca Naar de Republiek Indonesia yang ditulis oleh Tan Malaka dan diberi catatan kritis oleh Zen Rahmat Sugito (Zen RS). Ini menjadi satu karya tersendiri yang jauh berbeda dari aslinya tanpa syarah. Saya sependapat dengan Phutut EA, boleh jadi Zen jauh lebih sibuk dibanding Tan dalam menyusun buku ini. Dengan 226 catatan kaki, Zen seperti pensyarah yang otoritatif atas karya Tan ini. 

Tak hanya memberi penjelasan terhadap frasa atau kalimat yang sulit dipahami, Zen juga melakukan analisis perbandingan pemikiran antara Tan dan Lenin. Dalam hal ini, buku 'Naar de Republiek Indonesia' (1925) dibandingkan dengan karya Lenin, 'What Is To Be Done?' (1902). Kedua karya ini menjadi semacam pamflet landasan berpikir revolusioner. 

Lewat analisis Zen, kita dapat menyimpulkan bahwa keduanya memiliki banyak kesamaan. Kita ambil satu contoh dalam bidang ekonomi. Kebijakan yang dibuat oleh Tan sangat jelas mengikuti Kebijakan Ekonomi Baru atau New Economic Policy (NEP) ala Lenin yang tetap memberi kelonggaran pasar. Jadi, meskipun menganut paham komunis, negara tetap memberi ruang bagi kapitalisme, secara terbatas. Petani masih bebas menjual hasil panennya ke pasar, dan usaha swasta kecil masih diperbolehkan. Tetapi ini sifatnya hanya sementara sampai krisis ekonomi berhasil dipulihkan. 

Tan memang seorang Marxis-Leninis sejati, bukan hanya dalam penggunaan ideologi, melainkan sampai pada tahap metode berpikir dan strategi revolusi. 

Meskipun demikian, Tan tidak menjadikan komunis sebagai ideologi yang kaku. Ada kondisi-kondisi khusus di mana ia justru menganjurkan kerjasama antara proletar dan non-proletar. Sebab kapitalisme yang berkembang di Eropa punya perbedaan yang spesifik dengan Kapitalisme Indonesia. Proletariat Indonesia juga dianggapnya masih muda, baik secara kuantitas maupun kualitas, dibandingkan dengan Eropa Barat dan Amerika. Sehingga, Tan menyimpulkan: "Kediktatoran proletariat yang murni di Indonesia akan sangat mengganggu kehidupan ekonomi, khususnya jika revolusi dunia belum terjadi. Akibatnya mayoritas penduduk, yaitu non-proletar, akan didorong untuk melawan kelas buruh Indonesia yang jumlahnya masih sangat sedikit.". (Hlm. 44). 

***

Harus diakui kejelian Zen yang tinggi dalam membaca Naar de Republiek Indonesia yang diterjemahkan oleh Ongko D., contohnya dalam bab 'Program Nasional PKI'. Pada sub-bab Ekonomi, terdapat frasa, "Nasionalisasi bank-bank, perseroan dan perusahaan dagang besar lainnya", kata 'perseroan' adalah hasil koreksi Zen atas terjemahannya aslinya, 'perusahaan perseorangan'. 

Dalam catatan kakinya Zen menjelaskan: "Istilah vennootschappen kurang tepat diterjemahkan sebagai "perusahaan perseorangan"; ia lebih tepat diterjemahkan dalam versi padat sebagai "perseroan" atau perusahaan yang sudah berbentuk persekutuan modal dengan status hukum tetap; bentuk usaha yang dalam hukum Belanda modern mencakup vennootschap order firma (firma), commanditaire vennootschap (CV), dan naamloze vennootschape (NV)...". (Hlm. 47).

Ini poin penting, sebab dalam sistem komunis yang serba sentralistik, usaha kecil milik pribadi ternyata bukan sesuatu yang terlarang. Usaha tersebut tak diperbolehkan ketika sudah berubah bentuk menjadi perseroan atau perusahaan, yang basisnya adalah persekutuan modal. 

***

Sekadar untuk diketahui bahwa Naar de Republiek Indonesia pertama kali diterbitkan dalam bahasa Belanda (1925), sebab tujuan ditulisnya buku ini memang untuk kaum intelektual yang ketika itu menggunakan bahasa tersebut sebagai percakapan akademis. Terjemahan baru dikerjakan jauh setelah Indonesia merdeka (1962), tahun ketika PKI yang dipimpin DN Aidit sedang berada di puncak kekuasaannya.

Meskipun demikian, penerjemahan ini ditulis bukan atas inisiatif PKI --apalagi untuk pendidikan kader PKI-- melainkan oleh salah satu kader Partai Murba, yang justru merupakan seteru abadi PKI, meskipun sesama komunis (kita tidak akan membahas perseteruan mereka di sini). 

Penerjemahnya adalah Abdul Fakih dengan nama pena Ongko D., ia merupakan anggota Dewan Partai Murba dan bertugas sebagai penanggung jawab Departemen Pendidikan Kader pada 1960. Dalam posisi itulah ia menerjemahkan Naar de Republiek Indonesia. 

Sayang sekali kini banyak beredar buku-buku Naar de Republiek Indonesia, yang tidak mencantumkan nama Ongko D. sebagai penerjemah, seolah karya Tan ini sejak semula ditulis dalam Bahasa Indonesia. Zen dalam buku ini mengangkat kembali namanya, dan memosisikannya sebagai sosok yang terlupakan jasanya. 

*** 

Terakhir. Saya ingin membahas sesuatu yang tidak ada dalam buku ini. Kenapa Tan Malaka akhir-akhir ini begitu digandrungi oleh anak-anak muda, dari kalangan Millenial sampai Gen Z? Bahkan sampai berdiri Malaka Project yang nampaknya ingin menaikkan kembali sosok yang didapuk sebagai "revolusioner yang kesepian" itu. 

Di antara banyaknya alternatif jawaban, saya coba pilih satu: sebab ia tidak pernah mendapat kesempatan untuk memegang kekuasaan; (1) dia punya teori dan strategi yang mumpuni sebagai pemecah kebuntuan, sayangnya sejarah tidak memberi ia kesempatan untuk menjalankan program; (2) dia hadir sebagai obat penenang di tengah krisis kepercayaan kepada partai politik; (3) dia sama sekali tak punya cacat, sebagaimana Sukarno, Hatta, dan Sjahrir, sebab dia tak pernah mendapat kesempatan untuk memegang kendali kekuasaan. 

Jadi, tidak diberi kesempatan untuk memegang kekuasan itulah yang justru melambungkan namanya kini, dalam pandangan saya. 

Iwan Mariono
Sukabumi, 3 April 2026