Saya tak menyangka pendukung Prabowo jauh lebih militan daripada para pendukung Jokowi. Influencer dan buzzer-nya juga jauh lebih ganas.
Majalah yang saya pegang ini terbit 2009, menjelang Pemilu. Waktu itu saya mencoblos paslon no. 3 Jusuf Kalla-Wiranto. Alasannya mencari suasana baru. Meskipun saya mewarisi 1/3 keturunan Jawa, tapi saya tak pengin kepresidenan kita dipimpin melulu oleh orang Jawa.
2014 saya tak ikut memilih. Walaupun kawan-kawan saya, terutama yang ikut liqo, mengajak untuk mendukung paslon 01.
2019 ikut mencoblos lagi. Saya menjadi pendukung Prabowo. Alasannya, saya merasa Jokowi tak layak dua periode. Terlalu banyak janjinya yang tak ditepati. Nawacitanya hanyalah slogan. Meskipun waktu itu ramai seruan golput, tapi saya merasa tetap harus memilih asal bukan Jokowi.
2024 saya tak ikut memilih. Meskipun demikian, saya turut mengampanyekan: asal bukan Prabowo-Gibran. Alasannya, duh banyak sekali kalau mau dituliskan.
Dari sini saya hanya ingin menegaskan kalau dalam dunia politik, selain tak ada persahabatan yang abadi, juga tak ada figur yang abadi. Loyalitas kepada figur tak layak disematkan di ranah ini.
Tidak tepat kalau kita menganggap cara berpikir orang itu tidak berubah alias tetap sama. Prabowo, sejak ia bergabung dengan pemerintahan Jokowi, menurut saya, memang sudah banyak berubah: cara berpikir dan orientasinya yang lebih ambisi terhadap kekuasaan.
Tapi begitulah, akan ada saja orang yang tetap memilih setia pada satu figur, meskipun ia bukan siapa-siapanya, dan tak mendapat apa-apa dari sikap loyalnya.
05.36
Rumahku Surgaku

Posted in
No Response to "LOYALITAS KEPADA FIGUR POLITIK"
Posting Komentar