Featured Products

Vestibulum urna ipsum

product

Price: $180

Detail | Add to cart

Aliquam sollicitudin

product

Price: $240

Detail | Add to cart

Pellentesque habitant

product

Price: $120

Detail | Add to cart

YAHUDI VS ZIONISME

 

 

Ucapan Ana Kasparian --jurnalis Amerika-- ini bisa kita jadikan standpoint dalam mengutuk kebengisan zionis israel. Ini memang harus diperjelas: kita tidak membenci seseorang karena lahir sebagai Yahudi. 

Buat seorang Muslim, bahkan Nabi pernah hidup berdampingan secara rukun dengan orang Yahudi di Madinah. Meskipun pernah terjadi pengkhianatan, tapi tak semua Yahudi turut dalam kejahatan tersebut. Bahkan tidak sedikit rabi Yahudi yang mengakui kenabian Muhammad Shallallahu alaihi wassalam. 

Sikap anti-semit harus kita jauhi. Bagaimana caranya? Dengan mulai membedakan antara Yahudi sebagai etno-religius dan zionis sebagai ideologi nasionalis Yahudi yang menjadi tulang punggung berdirinya negara apartheid bernama israel. 

Ini yang kadang susah dibedakan oleh beberapa orang. Tidak usah jauh-jauh, kadang kita membaca cuitan dari warganet yang mengutuk serangan israel, tapi kesan tulisannya sangat melaknat Yahudi secara general. Bahkan ada yang tanpa sadar membenarkan tindakan Hitler membantai mereka. 

Begitu juga sebaliknya. Orang israel sendiri mudah sekali menuduh orang yang mengecam serangan zionis israel kepada Palestina sebagai anti-semit. Dia pun tak bisa lagi membedakan antara Yahudi dan zionisme. Termasuk netanyahu si tukang jagal anak-anak sering menggunakan tuduhan antisemitisme untuk merespon berbagai kritik internasional. 

Jadi mengkritik zionis israel sebagai tukang genosida, tidak otomatis menolak keberadaan orang Yahudi di dunia. Menurut Roger Garaudy dalam bukunya yang pernah saya baca, sebenarnya organisasi ini (zionis) didirikan oleh para nasionalis sekuler (profan), tapi menjadikan agama yang sakral sebagai basis, sekadar untuk mendapat legitimasi. Nama israel kemudian sengaja dipilih. 

Lebih jauh lagi. Dalam buku ‘Mitos dan Politik Israel’ yang ditulis oleh Roger Garaudy ini, dijelaskan bahwa kelompok zionis justru melakukan kolusi dengan Nazi. Jadi mereka bukannya tidak tahu ada pembantaian terhadap orang-orang Yahudi (kaumnya sendiri). Itu dibuktikan lewat surat-menyurat dan memorandum Partai Nazi dan kelompok zionis Jerman. 

Tak heran ketika awal mula negara apartheid ini hendak dideklarasikan (1948), banyak penentangnya dari kalangan Yahudi (etno-religius) sendiri. Saya sebut saja satu nama dari kalangan sosialis yang fokal menentangnya: Albert Einstein. Lewat suratnya, dengan tegas Einstein menyebut zionis sebagai agen teroris.

Label yang diberikan oleh Einstein itu masih valid sampai hari ini.

AGUS MUSTOFA DAN TADABUR QUR'AN




Saya masih termenung mendapat kabar lewat Catatan Dahlan Iskan, Pak Agus Mustofa meninggal dunia. 
https://www.facebook.com/share/1CDsQC42js/?mibextid=wwXIfr

Saya punya banyak kenangan dengan karya-karyanya (ya, sebatas karyanya, tidak pernah bertemu langsung dengan orangnya). 

Begini ceritanya. Saya pernah menjalani masa nganggur di Jogja selama setahun lebih (2011-menjelang akhir 2012), benar-benar nganggur. Waktu kosong itu saya manfaatkan untuk melahap buku apa saja yang saya temukan di toko buku, salah satunya buku Serial Diskusi Tasawuf Modern (SDTM). 

Waktu itu di Shopping Book Centre Jogja harga normal buku-bukunya kisaran 40-60rb, tapi karena saya belanja banyak bisa dapat diskon, 100rb dapat 3 judul. Setelahnya, setiap 3-4 bulan ia selalu menerbitkan buku. 

Saya mengenal namanya setelah membaca buku Quantum Ikhlas karya Erbe Sentanu, di situ Pak Agus memberikan komentar endorsnya untuk buku tersebut. 

Bukunya yang termasuk awal-awal saya baca kalau tak salah judulnya "Tak Ada Adzab Kubur", dari judulnya saja sudah jelas kontroversial. Tapi buku ini memang banyak mengubah saya dalam memandang yang namanya adzab kubur. Maksud Agus Mustofa dalam buku itu bukan sama sekali tak ada adzab. Tetap ada, tapi bukan dalam bentuk siksaan fisik, melainkan siksaan psikis. Argumennya karena jasad dan ruh kita ketika dalam kubur itu masih terpisah, belum disatukan kembali. Tunggu nanti setelah hari kiamat. 

Anda boleh setuju atau tidak dengan argumennya. Sebenarnya latar belakang ditulisnya buku ini adalah untuk mencounter sinema dan sinetron adzab kubur yang mulai marak di tivi-tivi saat itu (yang paling saya ingat Rahasia Ilahi di TPI), yang dianggapnya menyesatkan. Sekadar membuat orang takut berbuat dosa, tapi tidak mencerahkan. Belakangan kemudian sinema itu memang menghilang begitu saja dalam peredaran. 

Yang jelas setelah membaca buku itu, saya jadi tertarik untuk membaca buku-bukunya yang lain. Dua judul yang juga kontroversial adalah buku "Ternyata Adam Dilahirkan" dan "Adam Tak Diusir dari Surga". Jadi sebelum saya membaca polemik teori evolusi yang ditulis oleh Shoaib Ahmed Malik, saya sudah lebih dulu membaca karya Agus Mustofa "Ternyata Adam Dilahirkan", jadi buku-buku yang datang kemudian tidak begitu mengejutkan saya. 

Banyak yang mengkritiknya, tentu saja. Saya bahkan sampai membeli dan saya membaca buku yang disusun oleh dua kiai dari Pesantren Sidogiri Jawa Timur, judulnya: "Menelaah Pemikiran Agus Mustofa, Koreksi Terhadap Buku Serial Diskusi Tasawuf Modern". Tidak semua serial dikritik dalam buku itu, hanya yang kontroversial. Yang kontroversial dari buku-buku Agus Mustofa memang hanya judulnya, melainkan judul merepresentasikan isi. 

Poin-poin yang saya tangkap dari kritik kiai dari Pesantren Sidogiri demikian: (1) Agus Mustofa tidak menggunakan metode tafsir yang baku, ia hanya mengambil ayat yang sifatnya random, lewat indeks terjemahan Al-Qur'an; (2) mengabaikan penggunaan hadits, termasuk hadits shahih, (3) tidak pernah mencantumkan referensi dalam membangun argumentasi. 

Tak lama kemudian Agus Mustofa membalas tuduhan itu dalam satu buku utuh yang ia masukan dalam Serial ke-25 Diskusi Tasawuf Modern dan diberi judul: "Membela Allah". Di situ ia menjawab semua kritik yang pernah dilontarkan kepadanya, termasuk kritik yang datang dari Pesantren Sidogiri. 

Ada banyak pembelaannya, tapi jawaban yang paling saya ingat bahwa, semua yang dituliskannya sesungguhnya sebatas diskusi, makanya ia namanya "Serial Diskusi Tasawuf Modern", bukan "Serial Kebenaran Tasawuf Modern". Juga di akhir diskusi selalu ia akhiri dengan mengucap wallahu a'lam bishawab (Dan Allah lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya). 

Klaim diskusi itu memang benar adanya. Sejak 2011 memang saya aktif mengikuti diskusi dan debatnya dengan seorang atheis di Facebook. Bahkan tidak sedikit dari diskusi tersebut kemudian lahir sebagai buku. 

Saya lupa persisnya berapa banyak bukunya yang sudah saya baca, yang jelas lebih dari 30 judul. Beberapa tahun karena kesibukan di kampus, saya tidak mengikuti lagi buku-buku terbarunya. Bukunya yang terakhir saya baca dan bahkan saya ulas baru-baru saja adalah tentang Hisab dan Rukyat.
https://www.facebook.com/share/18Lf32JYNr/?mibextid=wwXIfr 

***

Sesuai dengan judul catatan di atas, saya ingin mengakhiri tulisan saya ini dengan renungan begini. Belakangan baru saya ketahui, bahwa apa yang dituliskan oleh Agus Mustofa (di hampir seluruh isi bukunya) itu sesungguhnya adalah tadabur qur'an, dan bukan tafsir. 

Untuk menjadi seorang ahli tafsir, ada banyak kualifikasinya, dan yang pertama-tama yang tidak-mungkin-tidak seseorang harus menguasai bahasa Arab. Sementara untuk menjadi ahli tadabur Anda tidak harus menguasai bahasa Arab. Cukup sering membaca dan merenungkan artinya. 

Tadabur pada hakikatnya adalah sesuatu yang sifatnya intrinsik dan esoteris (personal). Dalam mentadaburi Qur'-an sata yakin Anda pasti punya pengalaman yang sifatnya personal, yang mana hal tersebut boleh jadi tidak berlaku buat orang lain. Jadi dalam hal ini, cocologi atau dalam bahasa Jawa-nya otak-atik gatuk itu tidak masalah buat seorang Muslim. Yang menjadi masalah kalau hasilnya ia pamerkan ke luar. 

Ambil contoh, sekarang coba buka Qur'an yang ada di depan Anda secara random, kemudian baca satu atau dua ayat. Bisa saja Anda tiba-tiba tersungkur menangis, sebab ada jawaban untuk masalah yang sedang Anda hadapi hari ini. Tapi itu bukan berarti berlaku untuk orang lain. Itulah hasil dari tadabur. 

Sementara tafsir sebaliknya, ekstrinsik. Kalau kemudian Agus Mustofa mendapat banyak kritik dari para ahli (Qur'an maupun hadits) --termasuk olok-olok dari kelompok atheis (bahkan setelah wafatnya)-- ya itu karena ia menulis dan mengekspose hasil renungan pengalamannya. Membawa ke luar sesuatu yang seharusnya cukup disimpan ke dalam. 

Apakah itu salah? Tentu saja tidak. Tapi konsekuensinya ia harus siap mendapat kritik, bahkan caci maki, dari orang yang berseberangan pemikiran dengannya. Yang paling menyakitkan memang kalau dijadikan bahan olokan. 

Saya pribadi sebagai seorang awam, tetap menghargai Pak Agus dan karya-karyanya. Buku-buku itu, meskipun saya tidak sepakat dengan semua isinya, minimal membuka cakrawala saya tentang betapa luas dan mendalamnya Qur'an bila hendak kita selami --baik sebagai ahli, atau seorang awam sekalipun. 

Doa saya untuk Pak Agus Mustofa: 

Allahummaghfirlahu warhamhu wa aafihi wafuanhu. 

Salam.

MARX VS MARXISME

 


Lewat buku Erich Fromm ini saya jadi sadar kenapa seorang Sukarno atau bahkan Mohammad Hatta tak pernah saya dapati --dalam pidato maupun karangan mereka-- menolak total apalagi mengutuk pemikiran Karl Marx.

Dalam salah satu wawancaranya (bersama DR. Z Yasni, yang kemudian dihimpun menjadi satu buku berjudul 'Bung Hatta Menjawab'), Bung Hatta pernah menjawab, bahwa konsep sosialisme yang dikehendaki oleh Karl Marx justru bertentangan dengan yang dipraktikkan oleh Lenin. 

Bung Karno lebih jauh lagi, dalam jilid 1 DBR, ada satu karangannya khusus memperingati hari lahir Karl Marx (saya lupa judulnya dan tidak bisa kroscek, buku tersebut ada di Sulawesi). Kesan saya waktu membaca karangan itu, Sukarno menunjukkan betapa ia sangat mengagumi Marx, dan menempatkannya sebagai sosok terpuji. Konsep marhaenisme Sukarno tak lain adalah pengembangan pemikiran Marx yang sudah disesuaikan dengan kondisi alam dan budaya masyarakat Nusantara. 

Ini bukan berarti Karl Marx bebas dari kritik (buat saya pribadi terutama konsepnya mengenai determinisme ekonomi, seolah interaksi antar manusia hanya berdiri atas dasar materi). Kita hanya tidak akan membahasnya di sini oleh karena diskursus tentang Marx dan marxisme kiwari justru didominasi oleh kritikan. Bukan saja kritik, tapi sampai hujatan, yang kemudian menempatkan sosoknya menjadi seperti hantu yang menakutkan. 

Fromm juga mengkritik Marx, tapi di bukunya yang lain (misal dalam buku: The Sane Society, 1955). Fromm menulis kritiknya terhadap Karl Marx meliputi: "Ketidaksetujuan saya dengan Marx terkait dengan kenyataan bahwa Marx tidak berhasil melihat seberapa tinggi kapitalisme sanggup memodifikasi diri agar mampu memenuhi kebutuhan ekonomi bangsa-bangsa yang terindustrialisasi. Marx juga gagal melihat secara cukup jelas bahaya birokratisasi dan sentralisasi, dan ia juga gagal meramalkan sistem otoritarian yang bisa muncul sebagai alternatif bagi sosialisme." (Hlm. 11). 

Ada pun dalam buku "Marx's Concept of Man" ini, dia coba menilai Karl Marx secara lebih adil. Filsafat Marx, dalam pandangan Fromm, sama seperti sebagian besar pemikiran eksistensialis lainnya, merupakan protes terhadap keterasingan (alienasi) yang menimpa manusia, yaitu bahwa manusia kehilangan (jati) dirinya dan berubah menjadi barang. Filsafat Marx adalah gerak melawan dehumanisasi dan otomatisasi manusia. 

Sama seperti Bung Hatta, Fromm dengan tegas mengatakan bahwa Uni Soviet dan (bahkan ditambah) Tiongkok, bertentangan dengan gagasan Karl Marx. "Keadaan yang sesungguhnya," tulis Fromm, "Uni Soviet adalah sebuah negara dengan sistem kapitalisme konservatif, bukan sosialisme yang digagas oleh Marx. Sedangkan dengan berbagai cara, Tiongkok menolak pembebasan individu, padahal pembebasan individu adalah inti sosialisme itu sendiri. Tetapi, memang kedua negara itu menggunakan daya tarik marxisme untuk menawarkan diri kepada negara-negara lain di Asia dan Afrika." (Hlm. 8-9).

Fromm memberi labelnya untuk kedua negara itu sebagai pengusung ideologi: pseudo-marxisme. 

Dalam menganalisis perkembangan politik di negara-negara berkembang (termasuk Indonesia disebutkan), Fromm memberikan alternatif solusi untuk negara-negara tersebut. Solusinya bukan antara sosialisme dan kapitalisme, melainkan antara sosialisme dan sosialisme-humanis-marxis. 

Buat Anda yang belum pernah membaca buku-buku kiri, membaca langsung buku ini mungkin hanya bikin tambah bingung. Jadi saya tidak merekomendasikan untuk dibaca sekarang. Sebagai penggantinya, Anda bisa mulai mengenal Karl Marx lewat siniar-siniar berbasis AI yang banyak tersebar di kanal YouTube. 

Saya pribadi belum mengelaborasi lebih jauh seperti apa sosialisme-humanis-marxis itu (buku ini juga belum saya baca sampai khatam). Tetapi saya sepakat dengan Fromm bahwa kapitalisme tidak sama sekali menjadi solusi. Sosialisme non-marxis pun ada banyak, ide koperasi yang dikembangkan (bukan penggagas) oleh Mohammad Hatta termasuk salah satunya. Islam-pun punya konsepnya sendiri, yang saya tahu bapak bangsa seperti HOS Cokroaminoto, termasuk ulama karismatik seperti Hamka, pernah membahas konsep sosialisme dan menghubungkannya dengan Islam. 

*** 

Lewat catatan ini sebenarnya saya hanya ingin menegaskan seperti ini: Anda belum tentu menjadi seorang marxis hanya karena mempelajari ajaran Karl Marx. 

Di tengah gempuran pasar bebas dan kapitalisme liberal, tidak mungkin pemerataan kesejahteraan akan tercipta. Mempelajari Karl Marx menjadi relevan meskipun ia bukan satu-satunya solusi. Minimal ia bisa membantu Anda dalam mempertajam pisau analisa terhadap ketimpangan sosial yang terjadi. 

Islam juga punya solusi. Kuntowijoyo pernah mengulas hal ini, dan dengan jujur mengakui bahwa (sayang sekali) Islam telat memahami perkembangan kapitalisme. Setelah lebih dari setengah abad sejak Marx membangun teorinya, barulah Islam mulai mengembangkan konsep sosialisme-nya yang perdana lewat karya HOS Cokroaminoto: 'Islam dan Sosialisme'. Otomatis diksi-diksi (seperti proletar, borjuis, dll) harus meminjam dari yang konsep mapan yang sudah ada sebelumnya. 

Tetapi ini bisa dipahami, sebab secara spesifik kapitalisme lahir bukan di tanah tempat Islam menyebar secara luas, melainkan di Eropa bagian barat, tempat di mana doktrin gereja masih menguat --sekalipun arus liberalisme juga berkembang pesat. Dalam posisi itulah Karl Marx melontarkan pernyataan kontroversialnya, bahwa agama adalah candu rakyat (opium of the people). Dalam konteks abad ke-19, yang menjadi puncak kejayaan kapitalisme, gereja memang dipandang sebagai penghambat rakyat dalam melawan penindasan kapitalisme, yang menganggap bahwa nasib pekerja (proletar) memang sudah ditakdirkan demikian. Bahkan secara umum, gereja justru dianggap sebagai penyokong utama eksisnya kapitalisme. 

Semoga tulisan ini tidak dianggap makar oleh negara, dan tidak dianggap kafir oleh ummat. Hehe. 

Iwan Mariono
Sukabumi, 13 April 2026

EKONOM ALIRAN STRUKTURALIS VS CEO MBG



Saya senang almamater saya --Universitas Muhammadiyah Surakarta-- pernah menerbitkan buku ini 24 tahun tahun silam, sebagai bentuk partisipasi dalam peringatan 100 tahun Bung Hatta, waktu itu (2002). 

Penulisnya, Prof. Sritua Arief (1938-2002), yang tutup usia di tahun yang sama ketika buku ini diterbitkan, adalah seorang ekonom aliran strukturalis (sama seperti Bung Hatta, sosok yang ia kagumi). Ekonomi, dalam pandangannya, bukanlah ilmu yang bebas nilai (positive economics), melainkan ilmu yang punya tujuan sosial (normative economics). Ia menolak demarkasi antara keduanya. Untuk penjelasan lengkapnya silakan baca langsung buku ini. 

Pada masa Orde Baru, ia (bersama Adi Sasono) pernah menulis buku berjudul 'Ketergantungan dan Keterbelakangan'. Buku itu berisi kritik terhadap kebijakan ekonomi-pembangunan ala rezim Orba, yang dianggapnya hanya menekankan pada aspek pertumbuhan ekonomi.

Ini bisa dipahami. Sebab, pertumbuhan ekonomi tidak bisa dijadikan sebagai indikator pemerataan kesejahteraan. Kadang pertumbuhan tersebut hanya dinikmati sebagian kelompok, sementara kesenjangan sosial tetap tinggi.

Pertumbuhan yang lahir dari ketergantungan pada negara maju, lewat utang luar negeri, dan eksploitasi sumber daya alam untuk kepentingan asing, justru menjadi penyebab utama keterbelakangan struktural. Buku ini semakin menguatkan kebenaran istilah 'kemiskinan struktural' yang mulai populer sejak awal dekade 1980-an. 

Andai mereka berdua (Prof. Sritua Arief dan Bung Hatta) masih hidup saat ini, tentu akan geleng-geleng kepala. Sebab, alih-alih pemerataan kesejahteraan, bahkan pertumbuhan ekonomi-pun masih jauh dari yang diharapkan. 

Orde Baru pernah mencatat rekor pertumbuhan ekonomi sampai lebih dari 10% (1968), sementara rezim yang sekarang setengahnya pun masih diragukan. Kalau meminjam perkataan Rocky Gerung, pemerintah tidak ngapa-ngapain pun pertumbuhan ekonomi akan tetap segitu. 

Apakah MBG (yang mengambil anggaran paling tinggi dari semua kementerian) bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi, sebagaimana klaim Presiden Prabowo? Saya justru berpikir sebaliknya. Sebab kalau memang iya, Menkeu Purbaya-lah yang akan duluan berkoar sejak awal. Andai Bung Hatta dan Prof. Sritua masih hidup, saya yakin mereka akan mengkritik program ini, minimal mempertanyakan prioritas anggaran. 

MBG ini program pemerintah paling menyedihkan: (1) pemborosan anggaran; (2) lahan bancakan; (3) tidak ada dampak kemajuan untuk masa depan; (4) yang lapar segelintir tapi yang diberi makan adalah anak sekolah secara massal; dan (5) yang defisit pemikiran massal tapi anggarannya dibuat kerdil. 

Akhirnya, yang stunting atau kekurangan gizi tidak tertangani dengan maksimal, yang kelebihan gizi justru semakin bertambah obesitasnya.

MBG ibarat Anda diberi pepes ikan setiap hari, padahal yang sesungguhnya Anda butuhkan adalah joran disertai keterampilan untuk menangkap ikannya. Ironisnya, justru ini yang tidak diberikan oleh Negara kepada anak-anak Anda (termasuk saya). Mereka harus berjuang sendiri bersama orang tuanya. 

MBG tidak melatih kemandirian, justru menciptakan ketergantungan. 

Iwan Mariono
Sukabumi, 5 April 2026

TAN, ZEN, ONGKO D., DAN PARA PENGAGUM MADILOG



Saya baru menyelesaikan membaca Naar de Republiek Indonesia yang ditulis oleh Tan Malaka dan diberi catatan kritis oleh Zen Rahmat Sugito (Zen RS). Ini menjadi satu karya tersendiri yang jauh berbeda dari aslinya tanpa syarah. Saya sependapat dengan Phutut EA, boleh jadi Zen jauh lebih sibuk dibanding Tan dalam menyusun buku ini. Dengan 226 catatan kaki, Zen seperti pensyarah yang otoritatif atas karya Tan ini. 

Tak hanya memberi penjelasan terhadap frasa atau kalimat yang sulit dipahami, Zen juga melakukan analisis perbandingan pemikiran antara Tan dan Lenin. Dalam hal ini, buku 'Naar de Republiek Indonesia' (1925) dibandingkan dengan karya Lenin, 'What Is To Be Done?' (1902). Kedua karya ini menjadi semacam pamflet landasan berpikir revolusioner. 

Lewat analisis Zen, kita dapat menyimpulkan bahwa keduanya memiliki banyak kesamaan. Kita ambil satu contoh dalam bidang ekonomi. Kebijakan yang dibuat oleh Tan sangat jelas mengikuti Kebijakan Ekonomi Baru atau New Economic Policy (NEP) ala Lenin yang tetap memberi kelonggaran pasar. Jadi, meskipun menganut paham komunis, negara tetap memberi ruang bagi kapitalisme, secara terbatas. Petani masih bebas menjual hasil panennya ke pasar, dan usaha swasta kecil masih diperbolehkan. Tetapi ini sifatnya hanya sementara sampai krisis ekonomi berhasil dipulihkan. 

Tan memang seorang Marxis-Leninis sejati, bukan hanya dalam penggunaan ideologi, melainkan sampai pada tahap metode berpikir dan strategi revolusi. 

Meskipun demikian, Tan tidak menjadikan komunis sebagai ideologi yang kaku. Ada kondisi-kondisi khusus di mana ia justru menganjurkan kerjasama antara proletar dan non-proletar. Sebab kapitalisme yang berkembang di Eropa punya perbedaan yang spesifik dengan Kapitalisme Indonesia. Proletariat Indonesia juga dianggapnya masih muda, baik secara kuantitas maupun kualitas, dibandingkan dengan Eropa Barat dan Amerika. Sehingga, Tan menyimpulkan: "Kediktatoran proletariat yang murni di Indonesia akan sangat mengganggu kehidupan ekonomi, khususnya jika revolusi dunia belum terjadi. Akibatnya mayoritas penduduk, yaitu non-proletar, akan didorong untuk melawan kelas buruh Indonesia yang jumlahnya masih sangat sedikit.". (Hlm. 44). 

***

Harus diakui kejelian Zen yang tinggi dalam membaca Naar de Republiek Indonesia yang diterjemahkan oleh Ongko D., contohnya dalam bab 'Program Nasional PKI'. Pada sub-bab Ekonomi, terdapat frasa, "Nasionalisasi bank-bank, perseroan dan perusahaan dagang besar lainnya", kata 'perseroan' adalah hasil koreksi Zen atas terjemahannya aslinya, 'perusahaan perseorangan'. 

Dalam catatan kakinya Zen menjelaskan: "Istilah vennootschappen kurang tepat diterjemahkan sebagai "perusahaan perseorangan"; ia lebih tepat diterjemahkan dalam versi padat sebagai "perseroan" atau perusahaan yang sudah berbentuk persekutuan modal dengan status hukum tetap; bentuk usaha yang dalam hukum Belanda modern mencakup vennootschap order firma (firma), commanditaire vennootschap (CV), dan naamloze vennootschape (NV)...". (Hlm. 47).

Ini poin penting, sebab dalam sistem komunis yang serba sentralistik, usaha kecil milik pribadi ternyata bukan sesuatu yang terlarang. Usaha tersebut tak diperbolehkan ketika sudah berubah bentuk menjadi perseroan atau perusahaan, yang basisnya adalah persekutuan modal. 

***

Sekadar untuk diketahui bahwa Naar de Republiek Indonesia pertama kali diterbitkan dalam bahasa Belanda (1925), sebab tujuan ditulisnya buku ini memang untuk kaum intelektual yang ketika itu menggunakan bahasa tersebut sebagai percakapan akademis. Terjemahan baru dikerjakan jauh setelah Indonesia merdeka (1962), tahun ketika PKI yang dipimpin DN Aidit sedang berada di puncak kekuasaannya.

Meskipun demikian, penerjemahan ini ditulis bukan atas inisiatif PKI --apalagi untuk pendidikan kader PKI-- melainkan oleh salah satu kader Partai Murba, yang justru merupakan seteru abadi PKI, meskipun sesama komunis (kita tidak akan membahas perseteruan mereka di sini). 

Penerjemahnya adalah Abdul Fakih dengan nama pena Ongko D., ia merupakan anggota Dewan Partai Murba dan bertugas sebagai penanggung jawab Departemen Pendidikan Kader pada 1960. Dalam posisi itulah ia menerjemahkan Naar de Republiek Indonesia. 

Sayang sekali kini banyak beredar buku-buku Naar de Republiek Indonesia, yang tidak mencantumkan nama Ongko D. sebagai penerjemah, seolah karya Tan ini sejak semula ditulis dalam Bahasa Indonesia. Zen dalam buku ini mengangkat kembali namanya, dan memosisikannya sebagai sosok yang terlupakan jasanya. 

*** 

Terakhir. Saya ingin membahas sesuatu yang tidak ada dalam buku ini. Kenapa Tan Malaka akhir-akhir ini begitu digandrungi oleh anak-anak muda, dari kalangan Millenial sampai Gen Z? Bahkan sampai berdiri Malaka Project yang nampaknya ingin menaikkan kembali sosok yang didapuk sebagai "revolusioner yang kesepian" itu. 

Di antara banyaknya alternatif jawaban, saya coba pilih satu: sebab ia tidak pernah mendapat kesempatan untuk memegang kekuasaan; (1) dia punya teori dan strategi yang mumpuni sebagai pemecah kebuntuan, sayangnya sejarah tidak memberi ia kesempatan untuk menjalankan program; (2) dia hadir sebagai obat penenang di tengah krisis kepercayaan kepada partai politik; (3) dia sama sekali tak punya cacat, sebagaimana Sukarno, Hatta, dan Sjahrir, sebab dia tak pernah mendapat kesempatan untuk memegang kendali kekuasaan. 

Jadi, tidak diberi kesempatan untuk memegang kekuasan itulah yang justru melambungkan namanya kini, dalam pandangan saya. 

Iwan Mariono
Sukabumi, 3 April 2026

ETIKA PEJABAT NEGARA

Apa yang terjadi pada bupati Pekalongan dan (yang terbaru) bupati Cilacap yang kena OTT kemarin, membuat saya punya dugaan bahwa ada banyak pejabat negara di luar sana yang tak menyadari perbuatan mereka masuk ke dalam tindak pidana korupsi. Ini dengan asumsi mereka benar-benar pejabat polos, tapi punya mental korup jauh sebelum menjabat. 


Mungkin pejabat tersebut tahu secara definisi apa itu gratifikasi, tapi ia tak paham apa saja yang termasuk gratifikasi (saya mengusulkan supaya kriteria lengkapnya dibacakan oleh pejabat yang bersangkutan saat sumpah jabatan). Yang terjadi pada bupati Cilacap ini jelas sekali. Dia minta (ingat: minta, bukan diberi) THR pada setiap unit satuan kerja di daerahnya, hingga terkumpul sampai 610 juta. Kemudian dengan polosnya bilang ini sudah menjadi tradisi sejak menjabat 2025. 


Pak, jangan senang kalau Anda dapat hadiah dari bawahan, sebab itu termasuk gratifikasi. Bahkan PNS/ASN tidak boleh menerima hadiah di atas sejuta, bahkan di bawah itu pun termasuk gratifikasi. Apalagi yang dapat hadiahnya bukan karena diberi melainkan hasil dari meminta, bukan lagi gratifikasi melainkan sudah masuk pemerasan. 


Kalau selama ini Anda aman-aman saja, bahkan merasa itu sebagai budaya di pemerintahan sejak sebelum-sebelumnya, berarti Anda tidak pernah membaca undang-undang yang mengatur etika pejabat negara. 


Setiap pejabat harusnya sudah tuntas membaca peraturan terkait jabatannya. Pejabat negara hidup di alam demokrasi yang semua bekerja berdasarkan undang-undang, bukan sekadar menjalankan perintah atasan. Setiap mereka pada hakikatnya merdeka melalui petunjuk teknis yang mengatur fungsi jabatannya (ini juga berlaku untuk ASN). 


Secara etika, fungsi pejabat negara adalah sebagai pelayan, bukan sebaliknya minta dilayani. Karena sudah bersedia menjadi pelayan itulah sehingga Anda berhak mendapat upah sekaligus penghargaan (reward). Mobil dinas, rumah dinas, termasuk pengawal pribadi, itu semua bukan karena Anda dilayani, melainkan sebagai fasilitas dari rakyat karena Anda telah melayani.


Kembali ke soal gratifikasi. Pejabat negara, yang benar-benar menjaga integritasnya, bahkan menerima baju lebaran (yang nilainya tak seberapa) tetap harus waspada dan berhati-hati.

​MEMISAHKAN ANTARA MBG DAN SPPG, DAN MENGHINDARI STIGMA SEBAGAI PEMBENCI KAPITALIS (PEMILIK MODAL)

Saya merasa perlu menuliskan hal ini untuk memperjelas perbedaan antara MBG dan SPPG. Tulisan ini distimulus oleh perbedaan pendapat saya dengan tetangga di kampung yang masih terikat sebagai sanak famili, yang kebetulan adalah pemegang dua SPPG. 


Ketika saya mengkritik MBG (program pemerintah), tidak otomatis saya membenci pemilik modal bernama SPPG (mitra swasta yang menjalankan program). Apa buktinya? Saya termasuk yang jarang sekali membagikan berita anak sekolah keracunan makanan disebabkan kelalaian dari SPPG, meskipun videonya beredar banyak di lini masa. 


Sebab, sejak awal fokus saya memang pada MBG-nya. Ini menjadi titik utama (standing point) kritik saya. Saya tak terlalu mempermasalahkan SPPG-nya, sebab itu konsekuensi logis adanya program MBG, yang menyerahkan tugas pengelolaannya pada swasta. 


Tentu saja saya benci kalau ada pemilik SPPG yang berbuat culas, seperti mengambil marjin yang banyak atau memotong gaji karyawannya. Tapi tak memungkiri bahwa ada juga pemilik SPPG yang jujur dan terbuka dalam menjalankan tugasnya. 


Jadi, saya tak membenci pemilik modal. Apalagi Islam tak melarang setiap manusia memiliki kekayaan. Ini yang membedakan saya dengan penganut Komunisme sejati ala Soviet pada zaman Leninisme dilanjut Stalinisme. Dan komunisme sejati lain yang sangat membenci pemilik modal. 


Yang saya benci adalah ketika kebijakan negara tidak membantu rakyatnya mengentaskan diri dari kemiskinannya dan tidak mencerdaskannya, sebaliknya membuat mereka tetap miskin dan bodoh, sementara pemilik modal justru semakin kaya raya. Pemilik modal (kapitalis) akan selalu ada, tapi negara yang baik tidak memihak hanya pada salah satunya saja (negara kita tak menganut paham komunisme, tapi kita juga menolak kapitalisme). 


Bicara mengenai hubungan negara dengan pemilik modal, maka kita mau tak mau akan mengambil sedikit dari catatan sejarah. Kalau kita mundur ke abad XIX, kenapa Komunisme bisa lahir di Eropa pada zaman ini, ya karena pemilik modal saat itu benar-benar menindas rakyat miskin. Tenaganya habis dihisap, sementara upah yang mereka dapat sekadar untuk bertahan hidup. Negara membiarkannya, bahkan mendukung sepenuhnya pemilik modal. Sampai muncullah sosok bernama Karl Marx. 


Marx sendiri sebenarnya tidaklah membenci seratus persen pemilik modal (kapitalis), yang ia benci adalah sistem negara (kapitalisme). Sebab tanpa sumbangsih utama dari pemilik modal, ia tak akan pernah bisa menerbitkan magnum opusnya berjudul Das Capital. Dalam hal ini, ia harus berterima kasih kepada sahabatnya Frederick Angel. Bahkan, Angel-lah yang sepenuhnya merekonstruksi jilid 2 dan 3 selama sebelas tahun hingga utuh menjadi buku. 


Demikian sejarah ringkas lahirnya Das Capital, yang sebagian besar dibidani dan dimodali oleh sosok bernama Frederick Angel, anak dari pemilik modal (kapitalis sejati) yang kaya raya saat itu. 


Kita kembali ke soal MBG. Kalau kritik ini dianggap merugikan atau bahkan mengancam eksistensi SPPG, ya itu tidak bisa dihindari. Saya hanya bisa mohon maaf. Bahkan seandainya Ibu saya sendiri mendapat jatah mengelola satu SPPG, itu tak akan mengurungkan keyakinan saya, bahwa program ini (MBG) tidak tepat sasaran dan boros anggaran. Anggaran yang telah menghilangkan hak anak-anak sekolah untuk mendapatkan ilmu yang jauh lebih besar dan bermanfaat. 


Manfaat jangka panjangnya buat anak-anak (secara massal) sangat dipertanyakan, apalagi dengan anggaran sebesar itu. Tidak akan ada Indonesia Emas 1945, sebab mayoritas bibitnya sudah gagal sejak tanam.