Featured Products

Vestibulum urna ipsum

product

Price: $180

Detail | Add to cart

Aliquam sollicitudin

product

Price: $240

Detail | Add to cart

Pellentesque habitant

product

Price: $120

Detail | Add to cart

PERJALANAN SEMINGGU LINTAS PULAU (2)

 

Ini kali kedua saya menempuh perjalanan dari Kabupaten Morowali (Sulawesi Tengah) ke Kabupaten Sukabumi (Jawa Barat). Kalau yang pertama mengendarai mobil sedan bersama putri saya (Naira) yang waktu itu masih usia 3.5 tahun (April 2024), kali ini saya sendirian mengendarai sepeda motor.

 

Sudah lewat dari sebulan baru saya sempat menuliskannya. Melalui tulisan ini, saya pengin mengabadikan momen yang saya anggap perlu untuk dikenang, agar tidak hilang ditelan zaman. Meskipun demikian, perjalanan dengan sedan tersebut tetap menjadi yang paling berkesan buat saya karena saya tempuh hanya berdua dengan Naira. Saya sudah tuliskan kisahnya di sini: https://iwanmariono.blogspot.com/2024/05/perjalanan-seminggu-lintas-pulau.html  

 

MINGGU, 31 MEI 2026

 

Saya berangkat pukul 13.30 WITA dari rumah mama di Desa Lasampi, Kecamatan Bumi Raya, Kabupaten Morowali. Sengaja memilih waktu siang, agar tidak kemalaman pas lewat hutan di perbatasan Kabupaten Morut (Morowali Utara)-Kabupaten Poso. Targetnya mau bermalam di Masjid Al-Muhajirin dekat perbatasan tersebut. Masjid ini terkenal sebagai tempat istirahat orang-orang yang safar lintas daerah. Jarak dari rumah ke situ sekitar 150 km.

 


Meskipun singgah cukup lama di rumah kawan saya Andi (Morut), sampai di perbatasan ternyata suasana masih tampak terang. Rencana menginap di masjid batal. Perjalanan saya lanjutkan.

 

Awal masuk Kabupaten Poso, sampailah saya di perbukitan Pamona Timur. Sejak SMA, ini daerah padang ilalang paling menyejukkan mata setiap kali saya hendak menempuh perjalanan jauh keluar daerah.

 

Agak lama saya berhenti di sini, menikmati angin sore dan sekaligus menunggu matahari terbenam. Dari bukit ini saya bisa melihat Morowali dari jauh. Kalau lima belas tahun lalu, pegunungannya masih berwarna biru pekat, sekarang banyak kemerahan, bukaan hutannya semakin banyak, untuk perkebunan kelapa sawit.

 



Saya masih harus menempuh perjalanan hampir 50 km untuk sampai di Pamona Selatan, kecamatan terakhir yang menjadi batas antara provinsi Sulawesi Tengah. Sampai di Desa Pendolo, saya putuskan untuk istirahat di musholla POM bensin yang ada di sana. Hari sudah malam: 21.00 WITA.

 

SENIN, 1 JUNI 2026

 

Saya melanjutkan perjalanan selepas sholat subuh. Jalanan berkabut disertai rintik gerimis, kecepatan rata-rata 30-40 km/h. Sejam perjalanan saya akhirnya sampai di perbatasan provinsi. Cuaca cerah.

 


Selanjutnya saya lebih banyak berhenti selama melewati pegunungan yang menjadi batas dua provinsi ini, dengan jarak tempuh 60 km. Singgah di beberapa titik yang masuk kawasan hutan lindung untuk menikmati kicau burung atau menyaksikan monyet bergelantungan. Jalanan sepi dan lengang. Suasana seperti ini yang saya dambakan.

 


Selepas pegunungan saya langsung tancap gas sampai ke kota Palopo. Jaraknya masih sekitar 150 km. Kalau tak ada halangan pukul 11.00 sudah sampai.

 

Masjid Agung Palopo menjadi tempat pemberhentian saya. Masjidnya besar, punya banyak kamar mandi, banyak pohon rindang di parkirannya, dan ada banyak sekali kantin. Benar-benar tempat yang nyaman buat istirahat para musafir. Saya mandi, cuci baju, sholat jamak, makan siang, dan ngopi. Pokoknya istirahat untuk waktu yang cukup lama di sini.

 

Pukul 14.00 saya harus menentukan apakah akan melanjutkan lewat jalur Wajo-Sidrap atau berputar lewat Toraja-Enrekang. Palopo merupakan jantung kota di bagian utara Sulawesi Selatan. Untuk menuju ke Makassar pilihan pertama tentu lebih cepat secara waktu dan jarak tempuh. Pilihan kedua waktu tempuh lebih lama dan jaraknya nambah 50 km, tapi menyajikan pemandangan yang indah sepanjang jalan. Titik temu kedua jalur ini nantinya di kota Parepare.

 

Saya ambil pilihan kedua. Jalanan mendaki dan meliuk-liuk seperti ular menjadi semacam sirkuit yang kita lalui sepanjang Toraja-Enrekang. Masih jalur Palopo-Toraja, saya singgah sejenak di sebuah warung tepi jurang untuk ngopi dan menikmati pemandangan jalananan yang sudah saya lalui hampir sejam. Jika Anda seorang bikers, Anda tidak akan pernah menyesal melalui jalan ini.

 



Tana Toraja adalah kampung leluhur alamarhum bapak (tiri) saya. Saya tiba sore hari. Rehat sejenak di Rante Pao (ibukota Kabupaten Toraja Utara) di rumah tongkonan yang menjadi ciri khas Toraja. Saya tiba-tiba teringat jokes di antara sesama orang Toraja: “Apa Bahasa Jepangnya monyet?”, jawabannya: “Susiko”. Susiko kosakata Toraja yang artinya mirip ko (mirip kamu). Hehe.

 


Meskipun ada banyak sekali destinasi wisata yang bisa dikunjungi, tak ada satu pun yang saya singgahi. Apalagi ini sudah menjelang magrib, dan saya masih harus menempuh jarak 350an km untuk sampai di pelabuhan. Saya fokus mengejar target harus sampai di Makassar sebelum kapal Ferry berangkat Selasa sore tanggal 2 Juni (sesuai jadwal yang tertera di aplikasi Ferryzy, kapal berangkat pukul 17.00 WITA).

 


600/850 km. Menjelang magrib saya tiba di Angeraja, Kabupaten Enrekang. Saya singgah ngopi di sebuah warkop di lereng bukit dengan landscape pemandangan Gunung Nona. Kenapa diberi nama Gunung Nona? Saya pernah bertanya kepada salah satu warga, jawabannya karena bentuknya gunung tersebut seperti cekungan kemaluan Wanita. Hehe. Saya tak tahu itu jawaban serius atau bercanda. Tapi sepertinya serius.

 


Saya lanjutkan perjalanan dari Enrekang ke Pinrang selepas magrib, dan baru istirahat lagi setelah tiba di Parepare jam 21.00. Sebenarnya masih pengin melanjutkan perjalanan sampai Makassar, tapi entah kenapa setelah makan durian di anjungan kota tiba-tiba kantuk berat. Saya putuskan untuk menginap di kota in. Istri saya lewat aplikasi memilihkan saya hotel dekat tempat saya nongkrong. Jadilah saya tidur di hotel malam ini, namanya Parenium Hotel.




SELASA, 2 Juni 2026

 

Saya enggan segera beranjak dari hotel sampai menjelang waktunya check out. Waktu tempuh perjalanan masih estimasi 3 jam (150 km) sampai Makassar, saya masih bisa berleha-leha lebih lama di kasur. Tak lupa semua pakaian kotor saya cuci. Tepat pukul 11.00, saya meninggalkan Parepare.

 


Jalan poros Parepare-Makassar adalah rute yang paling asyik untuk berkendara. Saya sering melintas di jalan ini dengan sepeda motor, mobil sedan, atau dengan bus. Jalannya terbagi dua lajur dengan pemandangan dominan laut di sisi kanan, perbukitan di sisi kiri.

 


Selasa sore pukul 16.00, saya sampai di Makassar. Yang bikin perjalanan agak molor karena kebanyakan singgah di beberapa tempat, paling lama di toko roti Maros: sholat, istirahat ngopi, dan beli roti. Saya pesan satu kotak rasa pisang untuk bekal di kapal nanti. Sebelum ke Pelabuhan Sukarno-Hatta, saya sempatkan berfoto sejenak di Centre Point Indonesia, tak jauh dari Pantai Losari.

 

Saya sudah menempuh jarak 850 kilometer, dengan waktu tempuh 3 hari perjalanan.

 


Pukul 20.00 Ferry Dharma Kencana 7 baru berangkat. Meskipun di jadwal tertulis pukul 17.00 kapal berangkat, namun dalam kenyataannya bisa molor berjam-jam, tergantung banyaknya antrian kendaraan. Dua tahun lalu sewaktu bersama Naira putri saya, di kapal yang sama, jadwal berangkat hari Jumat pukul 22.00, ternyata baru lepas jangkar Sabtu dini hari pukul 04.00 WITA.

 


RABU, 3 Juni 2026

 

Kapal sudah berlayar melintasi Laut Jawa, meninggalkan Selat Makassar jauh di belakang.

 


Saya selalu update perjalanan ini di media sosial sebelum sinyal hilang. Ada kawan yang bertanya berapa ongkos perjalanan hingga sampai di Sukabumi. Sebenarnya tidak ada rincian yang saya buat setiap kali melakukan perjalanan jauh seperti sekarang, sebagaimana yang sudah-sudah. Tapi kali ini mari kita coba hitung.

 





Perjalanan dengan motor scoopy, untuk bensin tentu lebih irit. Sebelum berangkat saya isi penuh. Di Morowali jangan harap nemu pom bensin jual pertalite, sebab sejak awal datang sudah diborong oleh pengecer. Eceran dijual seharga Rp 20.000,- per 1.5 liter (1 botol air mineral besar). Tangki motor saya kapasitas 3.5 liter, jadi awal berangkat sudah hampir 50 ribu untuk bensin. Tangki penuh bisa menempuh jarak 150 km. Maka untuk sampai Makassar yang menempuh jarak 850 km via Toraja, saya butuh sekitar 20 liter.

 

Kalau sepanjang jalan mudah mendapat pom bensin, tentu kita hanya butuh 200rb untuk bensin. Sayangnya itu sesuatu yang jarang kita jumpai di sini. Ini bukan pulau Jawa. Hehe. Jadi saya lebih sering isi bensin lewat pengencer, atau sekali ketemu pom bila antrian merayap saya isi pertamax (harga masih 12rb per liter). Jarak dari Surabaya ke Sukabumi hampir sama. Maka total untuk bensin Anda harus menyiapkan sekitar 500rb-an (untuk jarak tempuh 1.750 km).

 

Sekarang tiket kapal. Untuk motor (semua kendaraan tergantung berapa cc) scoopy 125cc saya biayanya 711 ribu (belum termasuk orangnya). Biaya per orang tergantung kelas, saya ambil kamar ekonomi harganya 475rb. Harga yang melonjak jauh dibanding dua tahun sebelumnya, waktu itu kamar kelas 1 berisi 2 bed hanya 500rb. Saya tidak coba tanya harga terbaru untuk kamar kelas II, I, dan VIP, mestinya sudah naik drastis.

 

Untuk tempat tinggal, selama perjalanan ini sebenarnya saya tidak menentukan akan istirahat di mana. Kadang tidur di mushola yang ada di pom bensin seperti yang saya lakukan kemarin. Tidur di hotel kemarin juga sebenarnya karena permintaan istri. Saya pilih yang paling murah, 250rb. Jadi estimasi untuk biaya tinggal (termasuk biaya makan) silakan Anda buat sendiri. Yang jelas, selama masih di Sulawesi, saya tidak melakukan perjalanan di malam hari.

 

Ini kebalikan setelah saya tiba di Jawa yang lebih banyak melakukan perjalanan di malam hari. Sebab di Jawa, ada banyak kawan yang saya temui, saya bisa bercengkrama berjam-jam dengan mereka. Dan terutama sekali: (1) di Jawa tidak ada hutan yang benar-benar hutan dengan jarak tempuh sampai puluhan kilometer; (2) pom bensin 24 jam tersedia di banyak titik. 

 

Kembali ke tiket kapal. Saya sengaja baru memesan kamar setelah di dalam kapal. Awalnya di aplikasi tertulis penuh kecuali ekonomi-kursi, tapi saya tak percaya. Jadi saya hanya pesan tiket untuk kendaraan saja. Pengalaman ini saya dapatkan sejak dua tahun yang lalu: kamar kelas 1 saya dapatkan tanpa sengaja justru dari seorang ABK yang menjualnya ke saya seharga yang saya cantumkan di atas. Waktu itu saya sedang di anjungan bersama putri saya, tiba-tiba ada yang mengajak diskusi dan menawarkan kamar. Tentu saja saya terima tawaran itu dengan senang hati, anak saya bisa tidur lebih tenang, tidak berbaur dengan banyak orang yang membuat saya tidak bebas meniggalkannya bahkan sekadar untuk ke kamar mandi.

 

Fasilitas kamar kelas I: kamar mandi dalam + air hangat, dua bed, satu kursi gabus panjang dan meja, dan TV antena.  Bedanya dengan kamar VIP hanya di luasnya kamar mandi yang disertai bathtup. Adapun kamar kelas II berisi 4 ranjang disertai satu meja lesehan dan TV antena, tanpa kamar mandi dalam. Kalau Anda membawa anak kecil seperti saya dua tahun yang lalu, apalagi hanya berdua dengannya, kamar kelas I dan VIP seperti wajib dipesan. Kamar mandi dalam adalah privilese yang sangat berharga di perjalanan jauh dengan kapal seperti ini. Anda tidak akan bertemu dengan toilet yang baunya pesing atau tinja mengambang.

 

Karena hanya sendiri, kamar ekonomi ini sudah istimewa buat saya. Apalagi dalam perjalanan kapal selama 33-35 jam ini, waktu lebih banyak saya gunakan untuk melek membaca buku ditemani sampai 8 gelas kopi. Sebagai orang yang keranjingan baca buku, berada di kapal yang tanpa sinyal seluler dan internet adalah benar-benar berkah buat saya. Saya bisa mengkhatamkan satu buku. Buku kedua bahkan hampir khatam juga. Saya membaca buku tanpa ada gangguan sama sekali. Bisa membaca hampir 300 halaman adalah momen yang istimewa. Terakhir kali bisa seperti ini adalah 15 tahun yang lalu saat masih bujang dan belum punya android.

 

KAMIS, 4 JUNI 2026

 


Sudah pukul 00.30 dini hari, saya putuskan untuk segera tidur meskipun keinginan membaca masih ada. Saya perlu istirahat sebelum kapal sandar di Pelabuhan Tanjung Perak, beberapa jam lagi.

 

Pukul 04.00 kapal sandar. Setengah jam sebelumnya saya sudah selesai kemas-kemas, termasuk sudah mandi. Kira-kira setengah jam kemudian baru saya bisa keluar dari kapal setelah antri menunggu kendaraan paling depan duluan keluar.

 

Saya sholat shubuh di masjid dekat pintu keluar pelabuhan. Hawa panas Surabaya sudah mulai terasa. Tidur 3 jam untuk musafir seperti saya sebenarnya sudah lebih dari cukup. Saya sudah merasa fit untuk melanjutkan perjalanan ke arah barat. Saya sempatkan singgah sebentar di Tugu Pahlawan untuk mengambil gambar, setelahnya gas pol. Kota Solo adalah tujuan saya.

 

Matahari masih berada di titik kulminasi ketika saya tiba di Solo. Tujuan pertama saya ke bengkel Ahas dekat kampus UMS (almamater saya): ganti oli mesin dan oli gardan, ganti kampas rem depan. Selesai urusan motor barulah saya temui orang-orang yang sejak awal memang sudah masuk daftar pengin saya temui. Saya putuskan untuk menginap semalam di Polokarto (Kabupaten Sukoharjo), di rumah Mbahputri (ibu dari bapak sambung saya).

 

JUM’AT, 5 JUNI 2026

 

Selepas shalat shubuh saya sudah berkemas-kemas, tapi baru benar-benar meninggalkan Solo raya setelah pukul 10.00. Ternyata masih banyak orang-orang yang harus saya temui, yang itu pun tidak semua agenda itu kesampaian. Hehe.

 

Tujuan selanjutnya adalah Yogyakarta.

 

Saya Jum’at-an di sebuah masjid di gang sempit, tak jauh dari Stasiun Lempuyangan. Sehabis sholat saya istirahat sejenak di rumah seorang bapak yang rumahnya tepat di samping masjid. Beliau seorang paruh baya, kenalan yang menampung saya ketika pertama kali menginjakkan kaki di Yogyakarta 15 tahun yang lalu. Karena saya kejar target perjalanan, pertemuan di rumah itu hanya berlangsung sekira satu jam saja. Sehabis minum es teh dan makan kupat tahu saya lanjutkan perjalanan.

 

Perjalanan baru berjarak sekitar 5 kilometer ke arah selatan, saya harus menyempatan singgah sejenak untuk bertemu dua kawan lama saya, sejak sekolah menengah di Kota Palu. Muhammad Annas dan Dede Maulana. Kami bertiga dari produk yang sama: Smansa Palu. Ketika lulus sama-sama memilih ke Jogja. Bedanya, saya akhirnya terdampar ke Solo. Sementara mereka justru mendarah daging bersama Jogja, yang satu menjadi dosen, satunya lagi pengusaha. Sebelum berpisah, kami foto bareng dengan gaya seperti terakhir kali kami berpose bersama waaktu mereka datang menjenguk saya di Solo, duabelas tahun silam.

 


Saya kira pertemuan itu hanya akan berlansung sejenak: sejam atau dua jam saja. Ternyata tidak ada sejenak. Keasyikan ngobrol membuat waktu seperti melesat begitu cepat, ba’da magrib baru saya benar-benar melanjutkan perjalanan ke arah barat.

 

Diskusi kami akhiri sebelum adzan magrib. Juga sebelum adzan, saya sempatkan untuk singgah sejenak di hotel Grand Palace yang terletak di Jalan Parangtritis (tidak jauh dari masjid yang hendak saya tuju). Bukan untuk menginap, melainkan untuk tapak tilas. Di hotel ini (kamar nomor 215), limabelas tahun yang lalu (2011), untuk pertama kalinya, di usia sembilanbelas, saya bertemu dengan bapak kandung saya. Saya tak ingin menceritakan mengenai hal ini lebih panjang di sini, cukuplah dirasakan oleh banyak orang bahwa Jogja pancen Istimewa, termasuk buat saya.

 

Saya salat magrib jamak isya di Masjid Jogoariyan. Kalau Anda ke Jogja, mungkin tak akan Anda temukan masjid sebaik Jogokariyan dalam memberikan pelayanan kepada ummat/jamaahnya, terlebih saat bulan Ramadhan. Setelah membaca buku berjudul ‘Manifesto Masjid Nabi’ yang mengisahkan dengan baik dan lengkap tentang “dapur” dari masjid ini, saya semakin menaruh hormat dan kagum kepada ketua takmirnya yang belum lama ini meninggal dunia. Buat saya, ini arketipe masjid yang benar-benar menjalankan fungsinya sebagai pusat peradaban.

 





SABTU, 6 JUNI 2026

 

Dini hari, pukul 00.30 saya istirahat di rest area Gombong. Perjalanan dari Jogja sampai Kapaten Purworerjo saya tempuh lewat Jalan Daendels (entah kenapa diberi nama Daendels, kenapa tidak diganti menjadi Pangeran Diponegoro). Sempat singgah makan malam di pecel lele di jalur Pantai Selatan (Pansela) ini. Saya juga bertemu dengan seorang kawan pelapak buku di fesbuk yang domisilinya tak jauh dari ini.

 


Selesai dan ngobrol seputar perbukuan, saya pamit. Dia menyarankan saya agar lewat Jalan Nasional III, sebab lewat Pansela selain minim penerangan jalan, juga banyak are yang berlubang. Saya turuti sarannya. Saya belok lurus ke utara, sampai di Stasiun Kutoarjo, kemudian belok kiri melanjutkan perjalanan tanpa berhenti sampai tiba di Gombong. Saya pesan kopi untuk menghilangkan kantuk. Ternyata tidak mempan. Saya putuskan untuk baring di kursi panjang warkop di rest area ini.

 

Saya terbangun pukul 03.00. Saya anggap cukup waktu istirahat saya. Saya melanjutkan perjalanan sampai tiba adzan shubuh di sebuah masjid dekat jalur lingkar Banyumas. Sehabis salat, sambil menunggu matahari bersinar, iseng saya inbox fesbuk Pak Nass (Nassirun Wijaya aka Nassirun Purwokartun), seorang novelis dan sejarawan babad asal Banyumas. Ternyata mendapat jawaban. Jadilah saya putuskan untuk istirahat pagi di rumah beliau. Rumahnya tidak jauh dari masjid tempat saya istirahat, hanya sekira 2 kilometer.

 

Ini kunjungan kedua saya ke rumah beliau, sebelumnya 3.5 tahun yang lalu (Desember, 2022). Begitu sampai, Bu Yuli (istri Pak Nass) menyediakan sarapan untuk kami. Jangan bayangkan istirahat saya adalah tidur di kamar tamu, atau rebahan di ambal yang disediakan di teras rumah. Istirahat yang saya maksud adalah ngobrol ngalor-ngidul. Saya seperti tak pernah kehabisan bahan untuk ngobrol dengan beliau, seputar penulis dan perbukuan. Dulu bahkan sampai hampir delapan jam. Sekarang lebih cepat, 3.5 jam “saja”.

 


Jam 10.00 pagi saya sudah melanjutkan perjalanan. Belum sampai setengah jam perjalanan saya sudah merasakan kantuk yang sangat berat, saya singgah di sebuah masjid langsung menggelepar di serambinya sampai kira-kira sejam. Istirahat memang harusnya dengan tidur, bukan ngobrol ngalor-ngidul. Hehe. Jarak tempuh masih sekitar 350 kilometer lagi. Waktu tempuh berdasarkan google map tidak pernah saya pakai. Saya kadang bisa istirahat di satu tempat lebih lama, atau putar balik sekiranya ada hal yang menarik untuk dilihat atau diabadikan kamera.

 

Tidur pagi selama sejam sudah cukup untuk memulihkan kekuatan. Saya langsung tancap gas, dan baru istirahat lagi setelah sore hari sampai di ujung Kabupaten Tasikmalaya. Saya puaskan istirahat selama hampir sejam, sebelum memasuki jalan berkelok dan menanjak sepanjang hampir 50 kilometer melintasi Jalur Nagreg (Kabupaten Bandung), jalan raya paling legendaris di Jawa Barat.

 

Pukul 16.40 WIB, setelah menempuh perjalanan santai selama hampir 2 jam, saya tiba di akhir (pangkal) jalur Nagreg. Jangan lupa singgah menikmati ubi cilembu di sini. Ubinya selalu disajikan dalam kondisi hangat dan ada lelehan madunya. Rasanya manis, dipadu dengan kopi pahit sungguh nikmat sekali.

 


Kopi sudah tandas, saya melanjutkan lagi perjalanan, menuju kota Bandung. Seperti dugaan, baik di hari libur apalagi hari kerja, sore hari melewati Cileunyi macetnya minta ampun. Jalanan padat dengan kendaraan roda dua, para buruh baru keluar pabrik. Bertepatan dengan adzan magrib saya baru sampai di Bandung.

 

Saya tidak singgah di kota Bandung, memilih lanjut terus lewat boulevard Jalan Soekarno-Hatta yang relatif lebih lancar, kecuali penumpukan kendaraan di lampu merah simpang Kiaracondong. Saya sudah banyak berkeliling kota-kota besar di pulau Jawa, terutama Jakarta, tapi belum pernah menemukan lampu merah terlama kecuali di simpang ini: +5 menit! Dengan lampu hijau hanya 90 detik. Benar-benar melatih kesabaran. Jangan lewat sini kalau lagi kebelet, Anda bisa berak di celana.

 

Saya baru memutuskan istirahat lagi setelah menjelang masuk ke wilayah Kabupaten Cinjur, pukul 21.00. Di ujung barat Kabupaten Bandung Barat itulah saya memutuskan untuk istirahat. Saya rebahkan badan di teras mushola, di pom bensin daerah Mandalawangi. Mungkin sekitar sejam saya tertidur di sini. Pukul 22.30 baru saya lanjutkan perjalanan yang jarak tempuhnya tinggal 70 km lagi. Target saya sebelum pergantian tanggal/hari, saya sudah harus tiba di rumah.

 

Dengan sisa-sisa tenaga, target itu tercapai. Saya tiba di rumah pukul 23.58, dua menit menjelang pergantian hari. Alhamdulillah.

 


***

 

Hakikatnya hidup ini adalah menempuh perjalanan. Seberapa jauh dan seberapa lama, seberapa terjal dan seberapa beratnya, pada akhirnya kita akan sampai di ujung jalan. Semoga kelak kita tiba dengan selamat.

 

Demikian saya akhiri tulisan ini.

 

Kabupaten Sukabumi, 17 Agustus 2026

Iwan Mariono

SETELAH ARGENTINA LOLOS 8 BESAR


Betapa korupnya FIFA sejak puluhan tahun yang lalu bisa dibaca di buku ini. Korupnya tak hanya di dalam, di luar lapangan lebih parah. Saya pendukung Argentina. Penulis buku ini juga (ternyata) pendukung Argentina. Saya tak tahu bagaimana perasaannya usai nonton pertandingan semalam. Adapun perasaan saya campur aduk. 


Jujur saja, semalam saya ikut selebrasi sewaktu Messi berhasil mencetak gol dan menyamakan kedudukan. Tapi kemudian saya ikut kecewa, terlebih setelah melihat tangis Mo Salah, dan komentarnya di depan media. Terasa sekali pertandingan ini jadi tidak fair. Terutama terkait gol kedua Mesir yang dianulir, seharusnya wasit meniup peluit pelanggaran jauh sebelum Mostafa Ziko berhasil melesakkan golnya ke gawang Martinez. 


Apakah wasit benar-benar mendukung kemenangan di pihak Argentina, saya tak punya komentar. Saya baca di Goal, sebelum pertandingan dimulai, penunjukan wasit asal Perancis ini justru ramai penolakan di pihak suporter Argentina. 


Dengan segala fakta betapa culas dan korupnya FIFA, apakah membuat pagelaran Piala Dunia menjadi tak menarik lagi untuk ditonton? Seharusnya iya! Tapi sayangnya, saya tak pernah benar-benar bisa meninggalkannya. Saya tetap menontonnya. Perbedaannya mungkin, euforia saya tak lagi seperti tahun-tahun yang usai. 


Mungkin sama seperti penulis buku ini, saya menikmati kompetisi Piala Dunia bukan sekadar sebagai pendukung Argentina. Lebih dari itu, saya menikmatinya sebagai pencinta sepakbola.

DEBU MOROWALI


Saya senang Bhima menulis novel tentang tambang di Morowali. Namanya novel, tentu ada dramatisasi cerita. Tapi nasib pekerja sebagaimana ia kisahkan dalam buku ini, jelas bukan cerita fiktif. 

Saya mendengar dan menyaksikan sendiri bagaimana kecelakaan kerja hampir setiap hari terjadi: (1) ada yang jatuh dari ketinggian 23 meter menyebabkan multipel fraktur di lengan dan bahu; (2) ketiban material ore sampai mematahkan tulang paha; (3) terperosok ke dalam limbah panas dengan luka bakar nyaris seratus persen ; (4) luka bakar akibat ledakan tungku PLTU; (5) dan kecelakaan kerja lain yang tak terhitung jumlahnya. 

Saya pernah bertanya ke salah satu rekan kerja orang yang jatuh dari ketinggian itu. Bagaimana pengawasan dari K3-nya kok bisa sampai ada yang jatuh dari tempat setinggi itu? Jawaban dia: "Ah, hanya formalitas saja itu, Pak." 

Bukan hanya nasib pekerja, termasuk keluarganya pun banyak yang terdampak, terutama anak-anak. Sebagian besar yang sudah berkeluarga datang ke Morowali dengan memboyong istri dan anaknya. Banyak anak balita yang dibawa ke poli dengan keluhan batuk-pilek, kadang disertai sesak. Saat saya tempelkan stetoskop di dadanya, sebagian besar terdengar suara rhonki (suara kasar bunyi grok-grok di organ paru). Itu jelas bukan batuk-pilek biasa. 

Orang tuanya biasa mengeluh kenapa batuk anaknya sering kambuhan, habis obat, sebulan dua bulan kambuh lagi. Saya hanya bisa memberikan saran: sebaiknya sang anak dititip ke neneknya di kampung, atau pasangan merawat anak di kampung, jadi orang tua yang kerja saja yang tinggal di sini. 

Mungkin hanya saya dokter yang tak melewatkan bertanya kampung asal pasien yang datang berkunjung ke poli rawat jalan. Dari situ saya jadi tahu, ratusan atau bahkan seribuan pengujung poli itu, sebagian besar didominasi oleh pekerja yang datang dari Tana Toraja, Enrekang, dan Luwu raya. 

Banyak dari mereka ini, statusnya sebagai pekerja helm kuning. Sebagian besar jelas indekos di tempat yang terbuka, alias non-AC. Sementara debu dan asap tak pernah istirahat, siang-malam selalu menghiasi udara di Fatufia dan desa-desa lain di sekitarnya. Jadi jangan heran, kalau anak-anak yang tinggal di sekitar pabrik sangat rentan terserang penyakit saluran nafas.

Pengalaman serupa cerita saya di atas itu, sebagian ditulis juga oleh Bhima dalam buku ini. Saya tak tahu siapa saja yang menjadi narasumber Bhima dalam penelitiannya. Jelas ini bukan novel yang asal mengarang cerita.

Buku ini pertama kali diterbitkan pada tahun 2023, bersamaan dengan saya masih kerja di sana.


KOLONIALISME DI PAPUA

Tempo akhirnya menggunakan diksi kolonialisme. Tak mudah untuk meyakinkan banyak orang bahwa yang terjadi di sana adalah sebentuk kolonialisme. Kita harus belajar antropologi, selain belajar sejarah kolonialisme yang pernah terjadi di masa lalu. 





Untuk mendiagnosis apa yang terjadi di Papua sebagai sebentuk kolonialisme, mau tak mau, suka tak suka, orang harus menggunakan analisa kiri. Pendekatan marxis menjadi jelas dalam melihat perkara ini. 


Apakah ini yang membuat kebanyakan ormas Islam -disadari atau tidak- sebagai satu kekuatan organisasi, enggan untuk menunjukkan keberpihakan secara terbuka? Bahkan secara subtil dan tanpa sadar, ormas justru menjadi bagian dari kelas borjuis kapitalis tersebut? 


Mempelajari Karl Marx dan marxisme tentu lebih sulit, dibanding Anda percaya pada tuduhan film Pesta Babi didanai asing. Sosialisme marxis dapat dukungan dari George Soros, bukankah itu sesuatu yang kontradiktif? Hehe. 





Masalah Papua adalah perkara yang kompleks. Bukan saja masalah ekologi, tetapi juga perkara memori kolektif sebagai kawasan yang belum tuntas dengan sejarah masa lalunya.


Menjelang lahirnya Republik Indonesia, para pendiri bangsa pernah terlibat dalam diskusi yang hangat terkait masalah pulau berbentuk burung ini. Bung Hatta, lebih cenderung untuk melepas Irian Barat dan membiarkan mereka menentukan nasibnya sendiri. 


Hatta memandang, ada potensi menjadi imperialisme baru bila kita memaksakan kehendak untuk menyamakan negara yang akan berdiri nantinya, sesuai dengan garis batas warisan Hindia Belanda. Kekhawatiran yang cukup beralasan. Tetapi ia kalah suara dibanding Sukarno dan Mohammad Yamin. 


Karena gagal sejak dari embrio, dan mungkin untuk mengurangi potensi menjadi negara imperialisme, Hatta cenderung memilih federal atau serikat (seperti Amerika Serikat) sebagai bentuk negara Indonesia. Cita-cita itu berhasil namun berumur pendek. Republik Indonesia Serikat (RIS) hanya berusia 7 bulan (27 Desember 1949-17 Agustus 1950). 


Mohammad Natsir, lewat mosi integral berhasil meyakinkan parlemen untuk mengubah bentuk Indonesia menjadi negara kesatuan (NKRI). Tentu ada alasan kuat kenapa semua pihak sepakat waktu itu, sebab RIS dicurigai sebagai bentukan Belanda, yang dengan cara itu ia bisa menjalankan politik pecah belah.


48 tahun kemudian. Sebenarnya kita punya kesempatan untuk membentuk lagi cita-cita federal atau negara serikat itu. Tepatnya paska runtuhnya rezim Orde Baru. Kita menyebutnya sebagai Reformasi, tetapi sebenarnya adalah revolusi setengah hati. Debat mengenai negara serikat kembali menghangat. 


Dalam hal ini, saya setuju dengan pendapat YB. Mangunwijaya dan Arief Budiman, yang cenderung menginginkan cita-cita tersebut dihidupkan kembali. Kekhawatiran di masa lalu terkait integrasi kita sebagai bangsa mestinya sudah tidak relevan untuk dijadikan alasan penolakan. 


Arief Budiman memberi penjelasan yang eksplisit terkait perbedaan cara kerja antara negara kesatuan dan serikat. Hanya dalam pertahanan dan kebijakan luar negeri, negara bagian tak punya peran. Di luar itu negara bagian bebas menentukan nasibnya. Dalam bidang ekonomi, misal, negara bagian boleh mengajukan bekerjasama dengan luar negeri tanpa menunggu restu dan izin dari pusat. 


Tapi pada akhirnya, bukan negara federal, yang dipilih justru otonomi daerah. Frasa yang sangat pengecut dan setengah hati. 


Apakah otonomi daerah memberi keistimewaan seperti yang kita sebutkan itu pada Papua (dan provinsi lain yang ada di Indonesia)? Jelas tidak. 


Inilah pangkal dari kolonialisme itu. Atas nama proyek strategis nasional, negara bisa melakukan perampasan aset daerah (termasuk tanah adat). Omong kosong seorang menteri bilang yang terjadi di Papua adalah pesta panen. Panen untuk siapa? Oligarki? Ya, itulah pesta babi. 


Sebenarnya bukan hanya Papua. Saya ambil satu contoh lain di Sulawesi Tengah, merujuk pada video yang diunggah oleh gubernurnya: Anwar Hafid, di akun media sosialnya. Kekayaan yang dihasilkan dari nikel di provinsi itu mencapai ratusan triliun, tetapi berapa yang didapat oleh daerah? Hanya 222 milyar. Sangat tidak sebanding. 


Apakah negara (yang diwakili oleh pemerintah pusat) bisa melakukan kolonialisme? 


Jawabannya tegas: sangat bisa!



LOYALITAS KEPADA FIGUR POLITIK





Saya tak menyangka pendukung Prabowo jauh lebih militan daripada para pendukung Jokowi. Influencer dan buzzer-nya juga jauh lebih ganas. 


Majalah yang saya pegang ini terbit 2009, menjelang Pemilu. Waktu itu saya mencoblos paslon no. 3 Jusuf Kalla-Wiranto. Alasannya mencari suasana baru. Meskipun saya mewarisi 1/3 keturunan Jawa, tapi saya tak pengin kepresidenan kita dipimpin melulu oleh orang Jawa. 


2014 saya tak ikut memilih. Walaupun kawan-kawan saya, terutama yang ikut liqo, mengajak untuk mendukung paslon 01. 


2019 ikut mencoblos lagi. Saya menjadi pendukung Prabowo. Alasannya, saya merasa Jokowi tak layak dua periode. Terlalu banyak janjinya yang tak ditepati. Nawacitanya hanyalah slogan. Meskipun waktu itu ramai seruan golput, tapi saya merasa tetap harus memilih asal bukan Jokowi. 


2024 saya tak ikut memilih. Meskipun demikian, saya turut mengampanyekan: asal bukan Prabowo-Gibran. Alasannya, duh banyak sekali kalau mau dituliskan. 


Dari sini saya hanya ingin menegaskan kalau dalam dunia politik, selain tak ada persahabatan yang abadi, juga tak ada figur yang abadi. Loyalitas kepada figur tak layak disematkan di ranah ini. 


Tidak tepat kalau kita menganggap cara berpikir orang itu tidak berubah alias tetap sama. Prabowo, sejak ia bergabung dengan pemerintahan Jokowi, menurut saya, memang sudah banyak berubah: cara berpikir dan orientasinya yang lebih ambisi terhadap kekuasaan. 


Tapi begitulah, akan ada saja orang yang tetap memilih setia pada satu figur, meskipun ia bukan siapa-siapanya, dan tak mendapat apa-apa dari sikap loyalnya. 

KOLONIALISME DI ZAMAN KITA


Saya sepakat dengan sub-judul dalam film Pesta Babi: Kolonialisme di zaman kita. 


Tentu kriteria itu tidak langsung asal comot diksi untuk kemudian ditempelkan menjadi sub-judul. Ada proses panjang sebelum leksikon yang penuh dengan polemik itu akhirnya dipilih dan disematkan. 


Untuk menilai apakah sesuatu tersebut termasuk penjajahan atau bukan, diperlukan wawasan yang luas. Yang sudah pasti adalah Anda harus belajar sejarah kolonialisme yang pernah terjadi di masa lampau. 


Begitu juga dalam menentukan apakah yang terjadi di Papua Selatan kiwari termasuk kategori kolonialisme, Anda tidak cukup melakukan kerja advokasi hanya dalam sehari dua hari, atau bahkan setahun dua tahun. Pekerjaan itu memakan waktu belasan bahkan puluhan tahun. Kita bisa berdebat panjang mengenai hal ini. 


Kalau Anda mengenal Dandhy Laksono baru 2-3 tahun terakhir, atau baru mengenalnya lewat 2-3 film yang ia sutradarai seperti Dirty Vote dan Sexy Killer, sangat wajar bila Anda meragukan kredibilitasnya. 


Keraguan itu mungkin akan sedikit sirna bila Anda sudah mengikuti perjalanannya mengelilingi Indonesia sepuluh tahun terakhir dan menyaksikan video-video dokumenter yang ia hasilkan. Yang sangat terkait dengan film Pesta Babi adalah film The Mahuze's yang sudah rilis sejak sepuluh tahun silam. 


Dan mungkin akan benar-benar sirna bila Anda mundur 15 tahun terakhir, dengan membaca buku Jurnalisme Investigasi yang ia tulis. Buku ini tidak berisi teori-teori tentang jurnalisme yang kaku, melainkan bercerita pengalaman bagaimana ia jatuh bangun dalam melakukan kerja investigasi yang penuh dengan risiko. 


Kendala besar yang ia hadapi sebagai jurnalis dalam menginvestigasi kasus Munir di awal kematiannya, saya anggap yang paling heroik. Masih banyak hal lain yang ia ceritakan, frustrasinya terhadap tv swasta, yang lebih mengutamakan tayangan norak tapi penuh komersial, sehingga dia harus membangun media yang independen. 


Saya menilai ada standar moral dan nilai integritas yang dijunjung tinggi dalam buku itu. Secara filosofis, pekerjaan seorang jurnalis yang bergerak dalam misi investigasi, sesungguhnya adalah kerja untuk kemanusiaan.

ADAKAH RATU ADIL?


Seorang kawan yang biasa debat masalah negara dengan saya, mengirimi video ini via WA. Bukan tanpa sebab video tersebut dikirim ke saya. Sejak lama, dia punya sosok yang menurutnya memenuhi kriteria sebagaimana dimaksud oleh Mbah Nun. Sosok tunggal yang bisa membuat Indonesia lepas dari jeratan BI. Sebab BI, dalam pandangannya, dianggap sebagai biang kerok kemunduran bangsa Indonesia. Sudah selayaknya saya juga turut mendukungnya, kira-kira begitu maksudnya. 


Saya tidak akan mempromosikan namanya di sini. Sebab begini (alasan ini saya sampaikan pula kepadanya). Sejak saya terpapar oleh buku-buku karya Kuntowijoyo, terutama yang berjudul Selamat Tinggal Mitos Selamat Datang Realitas, saya sudah tidak percaya lagi pada sosok yang dianggap sebagai Ratu Adil. 


Saya mengakui, butuh sosok yang super hebat untuk bisa memimpin Indonesia, tapi sekaligus saya tidak percaya akan adanya Ratu Adil, sebab itu hanya mitos. Jauh sebelum Indonesia merdeka, sampai zaman kiwari, masih ada yang menganggap mitos tersebut sebagai realitas. 


Pada abad ke-19, (1) Pangeran Diponegoro pernah dianggap sebagai sosok Ratu Adil. Satu abad kemudian, orang menganggap sosok tersebut ada pada diri (2) HOS Cokroaminoto. Setelah Indonesia merdeka, "gelar" tersebut sempat disematkan pada Presiden (3) Sukarno (Pemimpin Besar Revolusi). Dan terakhir, di awal munculnya (4) Jokowi, tidak sedikit yang memercayai dia sebagai wujud dari Satrio Piningit (nama lain dari Ratu Adil), sebagaimana yang diramalkan oleh Jayabaya (sampai ada yang menerbitkan bukunya). 


Hasilnya apa? Sosok pertama sudah dibungkam sebelum berhasil mengepakkan sayapnya lebih jauh. Sosok kedua sudah meninggal dunia sebelum cita-citanya berhasil. Sosok ketiga justru menjadi sebuah tragedi saking lamanya ia berkuasa. Sosok keempat, silakan Anda tuliskan sendiri. Orangnya masih hidup, kisahnya belum usai, tapi yang sudah jelas usai: Satrio Piningit yang disematkan padanya adalah mitos terbesar yang pernah diciptakan oleh bangsa ini. 


Buat saya, berdasarkan pembacaan saya selama ini, solusi dengan menghadirkan (mitos) pemimpin Ratu Adil itu tidak akan pernah berhasil mengentaskan permasalahan bangsa Indonesia yang maha kompleks ini. Yang bisa kita lakukan adalah terus-menerus mendidik karakter anak bangsa: (1) menjunjung tinggi moralitas berdasarkan tuntunan agama, (2) punya perangai ilmiah, (3) sadar hukum secara kolektif, dan punya (4) jiwa altruistis yang tinggi. 


Minimal 4 poin tersebut yang perlu kita kuantifikasi skalanya. Itu semua diciptakan, tidak datang sendiri dari langit apalagi dibentuk oleh hanya satu sosok tunggal. Dia adalah proyek lintas generasi. Pendidikan karakter tersebut jelas mensyaratkan adanya guru yang inspiratif. 


Jika Presiden Prabowo punya kehendak politik untuk membentuk pengkaderan guru-guru yang inspiratif dan punya wawasan luas, jelas hasilnya bukan dia yang menikmati. Bahkan setelah seratus kali pergantian presiden (semoga presiden masih hidup sampai seribu tahun): hasilnya belum tentu seratus persen. Tapi setidaknya dia punya sumbangsih. 


Jadi, pemimpin menjalankan tugasnya bukan karena dia punya wangsit sebagai Ratu Adil, melainkan bekerja berdasarkan undang-undang yang mengatur. Itulah yang paling realistis. 


Dan pemimpin tersebut akan lahir jika masyarakat sipil (civil society) sebagai pemilihnya, sudah memenuhi (minimal) empat poin di atas.