Featured Products

Vestibulum urna ipsum

product

Price: $180

Detail | Add to cart

Aliquam sollicitudin

product

Price: $240

Detail | Add to cart

Pellentesque habitant

product

Price: $120

Detail | Add to cart

KOLONIALISME DI PAPUA

Tempo akhirnya menggunakan diksi kolonialisme. Tak mudah untuk meyakinkan banyak orang bahwa yang terjadi di sana adalah sebentuk kolonialisme. Kita harus belajar antropologi, selain belajar sejarah kolonialisme yang pernah terjadi di masa lalu. 





Untuk mendiagnosis apa yang terjadi di Papua sebagai sebentuk kolonialisme, mau tak mau, suka tak suka, orang harus menggunakan analisa kiri. Pendekatan marxis menjadi jelas dalam melihat perkara ini. 


Apakah ini yang membuat kebanyakan ormas Islam -disadari atau tidak- sebagai satu kekuatan organisasi, enggan untuk menunjukkan keberpihakan secara terbuka? Bahkan secara subtil dan tanpa sadar, ormas justru menjadi bagian dari kelas borjuis kapitalis tersebut? 


Mempelajari Karl Marx dan marxisme tentu lebih sulit, dibanding Anda percaya pada tuduhan film Pesta Babi didanai asing. Sosialisme marxis dapat dukungan dari George Soros, bukankah itu sesuatu yang kontradiktif? Hehe. 





Masalah Papua adalah perkara yang kompleks. Bukan saja masalah ekologi, tetapi juga perkara memori kolektif sebagai kawasan yang belum tuntas dengan sejarah masa lalunya.


Menjelang lahirnya Republik Indonesia, para pendiri bangsa pernah terlibat dalam diskusi yang hangat terkait masalah pulau berbentuk burung ini. Bung Hatta, lebih cenderung untuk melepas Irian Barat dan membiarkan mereka menentukan nasibnya sendiri. 


Hatta memandang, ada potensi menjadi imperialisme baru bila kita memaksakan kehendak untuk menyamakan negara yang akan berdiri nantinya, sesuai dengan garis batas warisan Hindia Belanda. Kekhawatiran yang cukup beralasan. Tetapi ia kalah suara dibanding Sukarno dan Mohammad Yamin. 


Karena gagal sejak dari embrio, dan mungkin untuk mengurangi potensi menjadi negara imperialisme, Hatta cenderung memilih federal atau serikat (seperti Amerika Serikat) sebagai bentuk negara Indonesia. Cita-cita itu berhasil namun berumur pendek. Republik Indonesia Serikat (RIS) hanya berusia 7 bulan (27 Desember 1949-17 Agustus 1950). 


Mohammad Natsir, lewat mosi integral berhasil meyakinkan parlemen untuk mengubah bentuk Indonesia menjadi negara kesatuan (NKRI). Tentu ada alasan kuat kenapa semua pihak sepakat waktu itu, sebab RIS dicurigai sebagai bentukan Belanda, yang dengan cara itu ia bisa menjalankan politik pecah belah.


48 tahun kemudian. Sebenarnya kita punya kesempatan untuk membentuk lagi cita-cita federal atau negara serikat itu. Tepatnya paska runtuhnya rezim Orde Baru. Kita menyebutnya sebagai Reformasi, tetapi sebenarnya adalah revolusi setengah hati. Debat mengenai negara serikat atau kesatuan kembali menghangat. 


Dalam hal ini, saya setuju dengan pendapat YB. Mangunwijaya dan Arief Budiman, yang cenderung menginginkan cita-cita tersebut dihidupkan kembali. Kekhawatiran di masa lalu terkait integrasi kita sebagai bangsa mestinya sudah tidak relevan untuk dijadikan alasan penolakan. 


Arief Budiman memberi penjelasan yang eksplisit terkait perbedaan cara kerja antara negara kesatuan dan serikat. Hanya dalam pertahanan dan kebijakan luar negeri, negara bagian tak punya peran. Di luar itu negara bagian bebas menentukan nasibnya. Dalam bidang ekonomi, misal, negara bagian boleh mengajukan bekerjasama dengan luar negeri tanpa menunggu restu dan izin dari pusat. 


Tapi pada akhirnya, bukan negara federal, yang dipilih justru otonomi daerah. Frasa yang sangat pengecut dan setengah hati. 


Apakah otonomi daerah memberi keistimewaan seperti yang kita sebutkan itu pada Papua (dan provinsi lain yang ada di Indonesia)? Jelas tidak. 


Inilah pangkal dari kolonialisme itu. Atas nama proyek strategis nasional, negara bisa melakukan perampasan aset daerah (termasuk tanah adat). Omong kosong seorang menteri bilang yang terjadi di Papua adalah pesta panen. Panen untuk siapa? Oligarki? Ya, itulah pesta babi. 


Sebenarnya bukan hanya Papua. Saya ambil satu contoh lain di Sulawesi Tengah, merujuk pada video yang diunggah oleh gubernurnya: Anwar Hafid, di akun media sosialnya. Kekayaan yang dihasilkan dari nikel di provinsi itu mencapai ratusan triliun, tetapi berapa yang didapat oleh daerah? Hanya 222 milyar. Sangat tidak sebanding. 


Apakah negara (yang diwakili oleh pemerintah pusat) bisa melakukan kolonialisme? 


Jawabannya tegas: sangat bisa!



LOYALITAS KEPADA FIGUR POLITIK





Saya tak menyangka pendukung Prabowo jauh lebih militan daripada para pendukung Jokowi. Influencer dan buzzer-nya juga jauh lebih ganas. 


Majalah yang saya pegang ini terbit 2009, menjelang Pemilu. Waktu itu saya mencoblos paslon no. 3 Jusuf Kalla-Wiranto. Alasannya mencari suasana baru. Meskipun saya mewarisi 1/3 keturunan Jawa, tapi saya tak pengin kepresidenan kita dipimpin melulu oleh orang Jawa. 


2014 saya tak ikut memilih. Walaupun kawan-kawan saya, terutama yang ikut liqo, mengajak untuk mendukung paslon 01. 


2019 ikut mencoblos lagi. Saya menjadi pendukung Prabowo. Alasannya, saya merasa Jokowi tak layak dua periode. Terlalu banyak janjinya yang tak ditepati. Nawacitanya hanyalah slogan. Meskipun waktu itu ramai seruan golput, tapi saya merasa tetap harus memilih asal bukan Jokowi. 


2024 saya tak ikut memilih. Meskipun demikian, saya turut mengampanyekan: asal bukan Prabowo-Gibran. Alasannya, duh banyak sekali kalau mau dituliskan. 


Dari sini saya hanya ingin menegaskan kalau dalam dunia politik, selain tak ada persahabatan yang abadi, juga tak ada figur yang abadi. Loyalitas kepada figur tak layak disematkan di ranah ini. 


Tidak tepat kalau kita menganggap cara berpikir orang itu tidak berubah alias tetap sama. Prabowo, sejak ia bergabung dengan pemerintahan Jokowi, menurut saya, memang sudah banyak berubah: cara berpikir dan orientasinya yang lebih ambisi terhadap kekuasaan. 


Tapi begitulah, akan ada saja orang yang tetap memilih setia pada satu figur, meskipun ia bukan siapa-siapanya, dan tak mendapat apa-apa dari sikap loyalnya. 

KOLONIALISME DI ZAMAN KITA


Saya sepakat dengan sub-judul dalam film Pesta Babi: Kolonialisme di zaman kita. 


Tentu kriteria itu tidak langsung asal comot diksi untuk kemudian ditempelkan menjadi sub-judul. Ada proses panjang sebelum leksikon yang penuh dengan polemik itu akhirnya dipilih dan disematkan. 


Untuk menilai apakah sesuatu tersebut termasuk penjajahan atau bukan, diperlukan wawasan yang luas. Yang sudah pasti adalah Anda harus belajar sejarah kolonialisme yang pernah terjadi di masa lampau. 


Begitu juga dalam menentukan apakah yang terjadi di Papua Selatan kiwari termasuk kategori kolonialisme, Anda tidak cukup melakukan kerja advokasi hanya dalam sehari dua hari, atau bahkan setahun dua tahun. Pekerjaan itu memakan waktu belasan bahkan puluhan tahun. Kita bisa berdebat panjang mengenai hal ini. 


Kalau Anda mengenal Dandhy Laksono baru 2-3 tahun terakhir, atau baru mengenalnya lewat 2-3 film yang ia sutradarai seperti Dirty Vote dan Sexy Killer, sangat wajar bila Anda meragukan kredibilitasnya. 


Keraguan itu mungkin akan sedikit sirna bila Anda sudah mengikuti perjalanannya mengelilingi Indonesia sepuluh tahun terakhir dan menyaksikan video-video dokumenter yang ia hasilkan. Yang sangat terkait dengan film Pesta Babi adalah film The Mahuze's yang sudah rilis sejak sepuluh tahun silam. 


Dan mungkin akan benar-benar sirna bila Anda mundur 15 tahun terakhir, dengan membaca buku Jurnalisme Investigasi yang ia tulis. Buku ini tidak berisi teori-teori tentang jurnalisme yang kaku, melainkan bercerita pengalaman bagaimana ia jatuh bangun dalam melakukan kerja investigasi yang penuh dengan risiko. 


Kendala besar yang ia hadapi sebagai jurnalis dalam menginvestigasi kasus Munir di awal kematiannya, saya anggap yang paling heroik. Masih banyak hal lain yang ia ceritakan, frustrasinya terhadap tv swasta, yang lebih mengutamakan tayangan norak tapi penuh komersial, sehingga dia harus membangun media yang independen. 


Saya menilai ada standar moral dan nilai integritas yang dijunjung tinggi dalam buku itu. Secara filosofis, pekerjaan seorang jurnalis yang bergerak dalam misi investigasi, sesungguhnya adalah kerja untuk kemanusiaan.

ADAKAH RATU ADIL?


Seorang kawan yang biasa debat masalah negara dengan saya, mengirimi video ini via WA. Bukan tanpa sebab video tersebut dikirim ke saya. Sejak lama, dia punya sosok yang menurutnya memenuhi kriteria sebagaimana dimaksud oleh Mbah Nun. Sosok tunggal yang bisa membuat Indonesia lepas dari jeratan BI. Sebab BI, dalam pandangannya, dianggap sebagai biang kerok kemunduran bangsa Indonesia. Sudah selayaknya saya juga turut mendukungnya, kira-kira begitu maksudnya. 


Saya tidak akan mempromosikan namanya di sini. Sebab begini (alasan ini saya sampaikan pula kepadanya). Sejak saya terpapar oleh buku-buku karya Kuntowijoyo, terutama yang berjudul Selamat Tinggal Mitos Selamat Datang Realitas, saya sudah tidak percaya lagi pada sosok yang dianggap sebagai Ratu Adil. 


Saya mengakui, butuh sosok yang super hebat untuk bisa memimpin Indonesia, tapi sekaligus saya tidak percaya akan adanya Ratu Adil, sebab itu hanya mitos. Jauh sebelum Indonesia merdeka, sampai zaman kiwari, masih ada yang menganggap mitos tersebut sebagai realitas. 


Pada abad ke-19, (1) Pangeran Diponegoro pernah dianggap sebagai sosok Ratu Adil. Satu abad kemudian, orang menganggap sosok tersebut ada pada diri (2) HOS Cokroaminoto. Setelah Indonesia merdeka, "gelar" tersebut sempat disematkan pada Presiden (3) Sukarno (Pemimpin Besar Revolusi). Dan terakhir, di awal munculnya (4) Jokowi, tidak sedikit yang memercayai dia sebagai wujud dari Satrio Piningit (nama lain dari Ratu Adil), sebagaimana yang diramalkan oleh Jayabaya (sampai ada yang menerbitkan bukunya). 


Hasilnya apa? Sosok pertama sudah dibungkam sebelum berhasil mengepakkan sayapnya lebih jauh. Sosok kedua sudah meninggal dunia sebelum cita-citanya berhasil. Sosok ketiga justru menjadi sebuah tragedi saking lamanya ia berkuasa. Sosok keempat, silakan Anda tuliskan sendiri. Orangnya masih hidup, kisahnya belum usai, tapi yang sudah jelas usai: Satrio Piningit yang disematkan padanya adalah mitos terbesar yang pernah diciptakan oleh bangsa ini. 


Buat saya, berdasarkan pembacaan saya selama ini, solusi dengan menghadirkan (mitos) pemimpin Ratu Adil itu tidak akan pernah berhasil mengentaskan permasalahan bangsa Indonesia yang maha kompleks ini. Yang bisa kita lakukan adalah terus-menerus mendidik karakter anak bangsa: (1) menjunjung tinggi moralitas berdasarkan tuntunan agama, (2) punya perangai ilmiah, (3) sadar hukum secara kolektif, dan punya (4) jiwa altruistis yang tinggi. 


Minimal 4 poin tersebut yang perlu kita kuantifikasi skalanya. Itu semua diciptakan, tidak datang sendiri dari langit apalagi dibentuk oleh hanya satu sosok tunggal. Dia adalah proyek lintas generasi. Pendidikan karakter tersebut jelas mensyaratkan adanya guru yang inspiratif. 


Jika Presiden Prabowo punya kehendak politik untuk membentuk pengkaderan guru-guru yang inspiratif dan punya wawasan luas, jelas hasilnya bukan dia yang menikmati. Bahkan setelah seratus kali pergantian presiden (semoga presiden masih hidup sampai seribu tahun): hasilnya belum tentu seratus persen. Tapi setidaknya dia punya sumbangsih. 


Jadi, pemimpin menjalankan tugasnya bukan karena dia punya wangsit sebagai Ratu Adil, melainkan bekerja berdasarkan undang-undang yang mengatur. Itulah yang paling realistis. 


Dan pemimpin tersebut akan lahir jika masyarakat sipil (civil society) sebagai pemilihnya, sudah memenuhi (minimal) empat poin di atas.

MEMAHAMI BEKERJANYA KEBIJAKAN TOTALITER LEWAT KARYA GEORGE ORWELL

Saya baru menyelesaikan novel Animal Farm (Pertanian Hewan --sesuai judul aslinya) dengan tambahan sub-judul Republik Hewan untuk versi terjemahan Indonesia. Rasa tertarik pada novel ini muncul setelah saya terlebih dahulu mendengarkan siniar AI-nya di kanal YouTube beberapa pekan lalu. 


Novel ini disajikan dalam bentuk semi-fabel, dengan karakter utamanya seekor babi bernama Napoleon, pemimpin utama Animal Farm. Ia digambarkan sebagai sosok yang licik dan jahat, serakah, suka memanipulasi kebenaran, dan anti perbedaan pendapat. 


Ya, tokoh utamanya adalah para babi yang sekaligus menjadi antagonis. Adapun tokoh protagonis justru menjadi tokoh kedua yang diwakili oleh kuda, sapi, domba, keledai, dan beberapa jenis unggas, serta seekor babi yang karena sifat altruisnya justru membuat ia tersingkir dari Animal Farm. 


Cerita bermula dari seorang pemilik usaha pertanian dan peternakan bernama Jones. Tuan Jones ini seorang pemabuk, yang karena keseringan mabuk dia jadi menelantarkan hewan-hewan ternaknya. 


Suatu hari, hewan-hewan tersebut mengadakan pertemuan yang dipimpin oleh seekor babi sepuh bernama Mayor (usianya 12 tahun). Intinya, Mayor memberi ceramah 'subversif' yang membuka kesadaran para hewan bahwa selama ini mereka hanya dijadikan sebagai budak oleh manusia. 


Hari demi hari berlalu, akhirnya saat yang telah ditentukan tiba, hewan-hewan memberontak kepada majikannya. Pemberontakan tersebut berhasil mengusir Tuan Jones dan para pekerjanya untuk pergi keluar dari rumah dan wilayah pertaniannya. Membuat hewan-hewan tersebut menjadi merdeka tanpa tuan. 


Para hewan yang tanpa tuan ini kemudian menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada para babi yang dianggap sebagai pemrakarsa utama pemberontakan. Mereka kemudian memberi nama wilayahnya tersebut sebagai Animal Farm. 


Animal Farm berdiri di atas 7 Sila:


1. Apapun yang berjalan dengan dua kaki adalah musuh.


2. Apapun yang berjalan dengan empat kaki, atau memiliki sayap, adalah teman.


3. Tidak ada hewan yang boleh mengenakan pakaian.


4. Tidak ada hewan yang boleh tidur di tempat tidur.


5. Tidak ada hewan yang boleh meminum alkohol.


6. Tidak ada hewan yang boleh membunuh hewan lain.


7. Semua hewan itu sama.


Bertahun-tahun kemudian, Animal Farm, yang semula hanyalah sebuah komunitas pertanian yang dikerjakan secara mandiri oleh para hewan (kecuali para babi yang bertindak sebagai koordinator), di kemudian hari bertransformasi menjadi sebuah negara republik dengan pemimpinnya (tentu saja) si babi Napoleon. 


Ceritanya penuh dengan paradoks. Sebab, Animal Farm di bawah kepemimpinan para babi, yang semula diharapkan menjadikan hewan-hewan (tanpa tuan) tersebut menjadi binatang yang hidupnya bahagia dan serba berkecukupan, ternyata nasibnya tidak lebih baik daripada ketika mereka masih hidup sebagai "budak" manusia. 


Secara bertahap, beberapa Sila diberi keterangan tambahan secara dian-diam demi kepentingan para babi. Saya ambil contoh Tiga Sila yang saya ingat:


4. Tidak ada hewan yang boleh tidur di tempat tidur DENGAN SELIMUT. 


5. Tidak ada hewan yang boleh meminum alkohol SECARA BERLEBIHAN.


6. Tidak ada hewan yang boleh membunuh hewan lain TANPA ALASAN.


7. Semua hewan itu sama TETAPI BEBERAPA HEWAN LEBIH SETARA DARI YANG LAIN.


Para hewan yang buta huruf tidak menyadari bahwa Sila yang ditulis dengan jelas tersebut telah diubah oleh para babi secara diam-diam. Ada seekor keledai (pandai membaca) bernama Benjamin yang menyadari perubahan tersebut, tapi ia tak berani protes sebab ia takut nyawanya terancam. 


Untuk selengkapnya silakan baca langsung bukunya. Goerge Orwell dalam buku ini berhasil mengaduk-aduk emosi pembaca, bahkan membuat saya beberapa kali harus berhenti sejenak untuk merenungkan banyak hal. 


*** 


Novel ini sebenarnya merupakan alegori bagaimana sebuah negara diktator terbentuk --lebih tepatnya dibentuk. Yang paling utama lewat propaganda dan indoktrinasi. Yang kedua adalah memberi citra kepada pemimpin sebagai sosok yang baik, dengan menyembunyikan karakter aslinya. Dalam versi modern, karakter pemimpin dibentuk sedemikian rupa oleh media, hingga publik terkesan bahwa ia memang figur terbaik yang layak menjadi pemimpin. 


Propaganda tersebut akan sukses jika dalam komunitas (baca: negara) tersebut mayoritas penghuninya dihuni oleh orang-orang yang masih buta huruf. Buta huruf di sini tak bisa hanya dimaknai sebagai buta aksara, melainkan ketidakmampuan untuk memahami bagaimana 


Saya termasuk yang telat mengenal novel ini. Tapi justru dengan ke-telat-an itulah novel ini jadi terbaca dengan jelas buat saya. Sepanjang membacanya, secara spontan, entah kenapa saya menduga kuat sosok Napoleon ini adalah Stalin versi dunia nyata. 


Ternyata dugaan tersebut ada benarnya. Sebab, di akhir halaman buku ini ada dicantumkan biografi singkat dari Goerge Orwell (nama pena), yang bernama asli Eric Arthur Blair. Ia seorang jurnalis beraliran sosialis-demokratis (dugaan saya termasuk marxist) yang anti-Stalin. Ia pernah bergabung sebagai prajurit POUM (Partido Obrero de Unificación Marxista --Partai Pekerja untuk Pemersatu Marxist). 


Lewat novel ini, Orwell ingin memberikan pelajaran kepada pembacanya, bagaimana totalitarianisme itu dibentuk secara sistematis, tidak secara natural.


Sukabumi 

29 April 2026



YAHUDI VS ZIONISME

 

 

Ucapan Ana Kasparian --jurnalis Amerika-- ini bisa kita jadikan standpoint dalam mengutuk kebengisan zionis israel. Ini memang harus diperjelas: kita tidak membenci seseorang karena lahir sebagai Yahudi. 

Buat seorang Muslim, bahkan Nabi pernah hidup berdampingan secara rukun dengan orang Yahudi di Madinah. Meskipun pernah terjadi pengkhianatan, tapi tak semua Yahudi turut dalam kejahatan tersebut. Bahkan tidak sedikit rabi Yahudi yang mengakui kenabian Muhammad Shallallahu alaihi wassalam. 

Sikap anti-semit harus kita jauhi. Bagaimana caranya? Dengan mulai membedakan antara Yahudi sebagai etno-religius dan zionis sebagai ideologi nasionalis Yahudi yang menjadi tulang punggung berdirinya negara apartheid bernama israel. 

Ini yang kadang susah dibedakan oleh beberapa orang. Tidak usah jauh-jauh, kadang kita membaca cuitan dari warganet yang mengutuk serangan israel, tapi kesan tulisannya sangat melaknat Yahudi secara general. Bahkan ada yang tanpa sadar membenarkan tindakan Hitler membantai mereka. 

Begitu juga sebaliknya. Orang israel sendiri mudah sekali menuduh orang yang mengecam serangan zionis israel kepada Palestina sebagai anti-semit. Dia pun tak bisa lagi membedakan antara Yahudi dan zionisme. Termasuk netanyahu si tukang jagal anak-anak sering menggunakan tuduhan antisemitisme untuk merespon berbagai kritik internasional. 

Jadi mengkritik zionis israel sebagai tukang genosida, tidak otomatis menolak keberadaan orang Yahudi di dunia. Menurut Roger Garaudy dalam bukunya yang pernah saya baca, sebenarnya organisasi ini (zionis) didirikan oleh para nasionalis sekuler (profan), tapi menjadikan agama yang sakral sebagai basis, sekadar untuk mendapat legitimasi. Nama israel kemudian sengaja dipilih. 

Lebih jauh lagi. Dalam buku ‘Mitos dan Politik Israel’ yang ditulis oleh Roger Garaudy ini, dijelaskan bahwa kelompok zionis justru melakukan kolusi dengan Nazi. Jadi mereka bukannya tidak tahu ada pembantaian terhadap orang-orang Yahudi (kaumnya sendiri). Itu dibuktikan lewat surat-menyurat dan memorandum Partai Nazi dan kelompok zionis Jerman. 

Tak heran ketika awal mula negara apartheid ini hendak dideklarasikan (1948), banyak penentangnya dari kalangan Yahudi (etno-religius) sendiri. Saya sebut saja satu nama dari kalangan sosialis yang fokal menentangnya: Albert Einstein. Lewat suratnya, dengan tegas Einstein menyebut zionis sebagai agen teroris.

Label yang diberikan oleh Einstein itu masih valid sampai hari ini.

AGUS MUSTOFA DAN TADABUR QUR'AN




Saya masih termenung mendapat kabar lewat Catatan Dahlan Iskan, Pak Agus Mustofa meninggal dunia. 
https://www.facebook.com/share/1CDsQC42js/?mibextid=wwXIfr

Saya punya banyak kenangan dengan karya-karyanya (ya, sebatas karyanya, tidak pernah bertemu langsung dengan orangnya). 

Begini ceritanya. Saya pernah menjalani masa nganggur di Jogja selama setahun lebih (2011-menjelang akhir 2012), benar-benar nganggur. Waktu kosong itu saya manfaatkan untuk melahap buku apa saja yang saya temukan di toko buku, salah satunya buku Serial Diskusi Tasawuf Modern (SDTM). 

Waktu itu di Shopping Book Centre Jogja harga normal buku-bukunya kisaran 40-60rb, tapi karena saya belanja banyak bisa dapat diskon, 100rb dapat 3 judul. Setelahnya, setiap 3-4 bulan ia selalu menerbitkan buku. 

Saya mengenal namanya setelah membaca buku Quantum Ikhlas karya Erbe Sentanu, di situ Pak Agus memberikan komentar endorsnya untuk buku tersebut. 

Bukunya yang termasuk awal-awal saya baca kalau tak salah judulnya "Tak Ada Adzab Kubur", dari judulnya saja sudah jelas kontroversial. Tapi buku ini memang banyak mengubah saya dalam memandang yang namanya adzab kubur. Maksud Agus Mustofa dalam buku itu bukan sama sekali tak ada adzab. Tetap ada, tapi bukan dalam bentuk siksaan fisik, melainkan siksaan psikis. Argumennya karena jasad dan ruh kita ketika dalam kubur itu masih terpisah, belum disatukan kembali. Tunggu nanti setelah hari kiamat. 

Anda boleh setuju atau tidak dengan argumennya. Sebenarnya latar belakang ditulisnya buku ini adalah untuk mencounter sinema dan sinetron adzab kubur yang mulai marak di tivi-tivi saat itu (yang paling saya ingat Rahasia Ilahi di TPI), yang dianggapnya menyesatkan. Sekadar membuat orang takut berbuat dosa, tapi tidak mencerahkan. Belakangan kemudian sinema itu memang menghilang begitu saja dalam peredaran. 

Yang jelas setelah membaca buku itu, saya jadi tertarik untuk membaca buku-bukunya yang lain. Dua judul yang juga kontroversial adalah buku "Ternyata Adam Dilahirkan" dan "Adam Tak Diusir dari Surga". Jadi sebelum saya membaca polemik teori evolusi yang ditulis oleh Shoaib Ahmed Malik, saya sudah lebih dulu membaca karya Agus Mustofa "Ternyata Adam Dilahirkan", jadi buku-buku yang datang kemudian tidak begitu mengejutkan saya. 

Banyak yang mengkritiknya, tentu saja. Saya bahkan sampai membeli dan saya membaca buku yang disusun oleh dua kiai dari Pesantren Sidogiri Jawa Timur, judulnya: "Menelaah Pemikiran Agus Mustofa, Koreksi Terhadap Buku Serial Diskusi Tasawuf Modern". Tidak semua serial dikritik dalam buku itu, hanya yang kontroversial. Yang kontroversial dari buku-buku Agus Mustofa memang hanya judulnya, melainkan judul merepresentasikan isi. 

Poin-poin yang saya tangkap dari kritik kiai dari Pesantren Sidogiri demikian: (1) Agus Mustofa tidak menggunakan metode tafsir yang baku, ia hanya mengambil ayat yang sifatnya random, lewat indeks terjemahan Al-Qur'an; (2) mengabaikan penggunaan hadits, termasuk hadits shahih, (3) tidak pernah mencantumkan referensi dalam membangun argumentasi. 

Tak lama kemudian Agus Mustofa membalas tuduhan itu dalam satu buku utuh yang ia masukan dalam Serial ke-25 Diskusi Tasawuf Modern dan diberi judul: "Membela Allah". Di situ ia menjawab semua kritik yang pernah dilontarkan kepadanya, termasuk kritik yang datang dari Pesantren Sidogiri. 

Ada banyak pembelaannya, tapi jawaban yang paling saya ingat bahwa, semua yang dituliskannya sesungguhnya sebatas diskusi, makanya ia namanya "Serial Diskusi Tasawuf Modern", bukan "Serial Kebenaran Tasawuf Modern". Juga di akhir diskusi selalu ia akhiri dengan mengucap wallahu a'lam bishawab (Dan Allah lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya). 

Klaim diskusi itu memang benar adanya. Sejak 2011 memang saya aktif mengikuti diskusi dan debatnya dengan seorang atheis di Facebook. Bahkan tidak sedikit dari diskusi tersebut kemudian lahir sebagai buku. 

Saya lupa persisnya berapa banyak bukunya yang sudah saya baca, yang jelas lebih dari 30 judul. Beberapa tahun karena kesibukan di kampus, saya tidak mengikuti lagi buku-buku terbarunya. Bukunya yang terakhir saya baca dan bahkan saya ulas baru-baru saja adalah tentang Hisab dan Rukyat.
https://www.facebook.com/share/18Lf32JYNr/?mibextid=wwXIfr 

***

Sesuai dengan judul catatan di atas, saya ingin mengakhiri tulisan saya ini dengan renungan begini. Belakangan baru saya ketahui, bahwa apa yang dituliskan oleh Agus Mustofa (di hampir seluruh isi bukunya) itu sesungguhnya adalah tadabur qur'an, dan bukan tafsir. 

Untuk menjadi seorang ahli tafsir, ada banyak kualifikasinya, dan yang pertama-tama yang tidak-mungkin-tidak seseorang harus menguasai bahasa Arab. Sementara untuk menjadi ahli tadabur Anda tidak harus menguasai bahasa Arab. Cukup sering membaca dan merenungkan artinya. 

Tadabur pada hakikatnya adalah sesuatu yang sifatnya intrinsik dan esoteris (personal). Dalam mentadaburi Qur'-an sata yakin Anda pasti punya pengalaman yang sifatnya personal, yang mana hal tersebut boleh jadi tidak berlaku buat orang lain. Jadi dalam hal ini, cocologi atau dalam bahasa Jawa-nya otak-atik gatuk itu tidak masalah buat seorang Muslim. Yang menjadi masalah kalau hasilnya ia pamerkan ke luar. 

Ambil contoh, sekarang coba buka Qur'an yang ada di depan Anda secara random, kemudian baca satu atau dua ayat. Bisa saja Anda tiba-tiba tersungkur menangis, sebab ada jawaban untuk masalah yang sedang Anda hadapi hari ini. Tapi itu bukan berarti berlaku untuk orang lain. Itulah hasil dari tadabur. 

Sementara tafsir sebaliknya, ekstrinsik. Kalau kemudian Agus Mustofa mendapat banyak kritik dari para ahli (Qur'an maupun hadits) --termasuk olok-olok dari kelompok atheis (bahkan setelah wafatnya)-- ya itu karena ia menulis dan mengekspose hasil renungan pengalamannya. Membawa ke luar sesuatu yang seharusnya cukup disimpan ke dalam. 

Apakah itu salah? Tentu saja tidak. Tapi konsekuensinya ia harus siap mendapat kritik, bahkan caci maki, dari orang yang berseberangan pemikiran dengannya. Yang paling menyakitkan memang kalau dijadikan bahan olokan. 

Saya pribadi sebagai seorang awam, tetap menghargai Pak Agus dan karya-karyanya. Buku-buku itu, meskipun saya tidak sepakat dengan semua isinya, minimal membuka cakrawala saya tentang betapa luas dan mendalamnya Qur'an bila hendak kita selami --baik sebagai ahli, atau seorang awam sekalipun. 

Doa saya untuk Pak Agus Mustofa: 

Allahummaghfirlahu warhamhu wa aafihi wafuanhu. 

Salam.