Featured Products

Vestibulum urna ipsum

product

Price: $180

Detail | Add to cart

Aliquam sollicitudin

product

Price: $240

Detail | Add to cart

Pellentesque habitant

product

Price: $120

Detail | Add to cart

AGUS MUSTOFA DAN TADABUR QUR'AN




Saya masih termenung mendapat kabar lewat Catatan Dahlan Iskan, Pak Agus Mustofa meninggal dunia. 
https://www.facebook.com/share/1CDsQC42js/?mibextid=wwXIfr

Saya punya banyak kenangan dengan karya-karyanya (ya, sebatas karyanya, tidak pernah bertemu langsung dengan orangnya). 

Begini ceritanya. Saya pernah menjalani masa nganggur di Jogja selama setahun lebih (2011-menjelang akhir 2012), benar-benar nganggur. Waktu kosong itu saya manfaatkan untuk melahap buku apa saja yang saya temukan di toko buku, salah satunya buku Serial Diskusi Tasawuf Modern (SDTM). 

Waktu itu di Shopping Book Centre Jogja harga normal buku-bukunya kisaran 40-60rb, tapi karena saya belanja banyak bisa dapat diskon, 100rb dapat 3 judul. Setelahnya, setiap 3-4 bulan ia selalu menerbitkan buku. 

Saya mengenal namanya setelah membaca buku Quantum Ikhlas karya Erbe Sentanu, di situ Pak Agus memberikan komentar endorsnya untuk buku tersebut. 

Bukunya yang termasuk awal-awal saya baca kalau tak salah judulnya "Tak Ada Adzab Kubur", dari judulnya saja sudah jelas kontroversial. Tapi buku ini memang banyak mengubah saya dalam memandang yang namanya adzab kubur. Maksud Agus Mustofa dalam buku itu bukan sama sekali tak ada adzab. Tetap ada, tapi bukan dalam bentuk siksaan fisik, melainkan siksaan psikis. Argumennya karena jasad dan ruh kita ketika dalam kubur itu masih terpisah, belum disatukan kembali. Tunggu nanti setelah hari kiamat. 

Anda boleh setuju atau tidak dengan argumennya. Sebenarnya latar belakang ditulisnya buku ini adalah untuk mencounter sinema dan sinetron adzab kubur yang mulai marak di tivi-tivi saat itu (yang paling saya ingat Rahasia Ilahi di TPI), yang dianggapnya menyesatkan. Sekadar membuat orang takut berbuat dosa, tapi tidak mencerahkan. Belakangan kemudian sinema itu memang menghilang begitu saja dalam peredaran. 

Yang jelas setelah membaca buku itu, saya jadi tertarik untuk membaca buku-bukunya yang lain. Dua judul yang juga kontroversial adalah buku "Ternyata Adam Dilahirkan" dan "Adam Tak Diusir dari Surga". Jadi sebelum saya membaca polemik teori evolusi yang ditulis oleh Shoaib Ahmed Malik, saya sudah lebih dulu membaca karya Agus Mustofa "Ternyata Adam Dilahirkan", jadi buku-buku yang datang kemudian tidak begitu mengejutkan saya. 

Banyak yang mengkritiknya, tentu saja. Saya bahkan sampai membeli dan saya membaca buku yang disusun oleh dua kiai dari Pesantren Sidogiri Jawa Timur, judulnya: "Menelaah Pemikiran Agus Mustofa, Koreksi Terhadap Buku Serial Diskusi Tasawuf Modern". Tidak semua serial dikritik dalam buku itu, hanya yang kontroversial. Yang kontroversial dari buku-buku Agus Mustofa memang hanya judulnya, melainkan judul merepresentasikan isi. 

Poin-poin yang saya tangkap dari kritik kiai dari Pesantren Sidogiri demikian: (1) Agus Mustofa tidak menggunakan metode tafsir yang baku, ia hanya mengambil ayat yang sifatnya random, lewat indeks terjemahan Al-Qur'an; (2) mengabaikan penggunaan hadits, termasuk hadits shahih, (3) tidak pernah mencantumkan referensi dalam membangun argumentasi. 

Tak lama kemudian Agus Mustofa membalas tuduhan itu dalam satu buku utuh yang ia masukan dalam Serial ke-25 Diskusi Tasawuf Modern dan diberi judul: "Membela Allah". Di situ ia menjawab semua kritik yang pernah dilontarkan kepadanya, termasuk kritik yang datang dari Pesantren Sidogiri. 

Ada banyak pembelaannya, tapi jawaban yang paling saya ingat bahwa, semua yang dituliskannya sesungguhnya sebatas diskusi, makanya ia namanya "Serial Diskusi Tasawuf Modern", bukan "Serial Kebenaran Tasawuf Modern". Juga di akhir diskusi selalu ia akhiri dengan mengucap wallahu a'lam bishawab (Dan Allah lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya). 

Klaim diskusi itu memang benar adanya. Sejak 2011 memang saya aktif mengikuti diskusi dan debatnya dengan seorang atheis di Facebook. Bahkan tidak sedikit dari diskusi tersebut kemudian lahir sebagai buku. 

Saya lupa persisnya berapa banyak bukunya yang sudah saya baca, yang jelas lebih dari 30 judul. Beberapa tahun karena kesibukan di kampus, saya tidak mengikuti lagi buku-buku terbarunya. Bukunya yang terakhir saya baca dan bahkan saya ulas baru-baru saja adalah tentang Hisab dan Rukyat.
https://www.facebook.com/share/18Lf32JYNr/?mibextid=wwXIfr 

***

Sesuai dengan judul catatan di atas, saya ingin mengakhiri tulisan saya ini dengan renungan begini. Belakangan baru saya ketahui, bahwa apa yang dituliskan oleh Agus Mustofa (di hampir seluruh isi bukunya) itu sesungguhnya adalah tadabur qur'an, dan bukan tafsir. 

Untuk menjadi seorang ahli tafsir, ada banyak kualifikasinya, dan yang pertama-tama yang tidak-mungkin-tidak seseorang harus menguasai bahasa Arab. Sementara untuk menjadi ahli tadabur Anda tidak harus menguasai bahasa Arab. Cukup sering membaca dan merenungkan artinya. 

Tadabur pada hakikatnya adalah sesuatu yang sifatnya intrinsik dan esoteris (personal). Dalam mentadaburi Qur'-an sata yakin Anda pasti punya pengalaman yang sifatnya personal, yang mana hal tersebut boleh jadi tidak berlaku buat orang lain. Jadi dalam hal ini, cocologi atau dalam bahasa Jawa-nya otak-atik gatuk itu tidak masalah buat seorang Muslim. Yang menjadi masalah kalau hasilnya ia pamerkan ke luar. 

Ambil contoh, sekarang coba buka Qur'an yang ada di depan Anda secara random, kemudian baca satu atau dua ayat. Bisa saja Anda tiba-tiba tersungkur menangis, sebab ada jawaban untuk masalah yang sedang Anda hadapi hari ini. Tapi itu bukan berarti berlaku untuk orang lain. Itulah hasil dari tadabur. 

Sementara tafsir sebaliknya, ekstrinsik. Kalau kemudian Agus Mustofa mendapat banyak kritik dari para ahli (Qur'an maupun hadits) --termasuk olok-olok dari kelompok atheis (bahkan setelah wafatnya)-- ya itu karena ia menulis dan mengekspose hasil renungan pengalamannya. Membawa ke luar sesuatu yang seharusnya cukup disimpan ke dalam. 

Apakah itu salah? Tentu saja tidak. Tapi konsekuensinya ia harus siap mendapat kritik, bahkan caci maki, dari orang yang berseberangan pemikiran dengannya. Yang paling menyakitkan memang kalau dijadikan bahan olokan. 

Saya pribadi sebagai seorang awam, tetap menghargai Pak Agus dan karya-karyanya. Buku-buku itu, meskipun saya tidak sepakat dengan semua isinya, minimal membuka cakrawala saya tentang betapa luas dan mendalamnya Qur'an bila hendak kita selami --baik sebagai ahli, atau seorang awam sekalipun. 

Doa saya untuk Pak Agus Mustofa: 

Allahummaghfirlahu warhamhu wa aafihi wafuanhu. 

Salam.

No Response to " AGUS MUSTOFA DAN TADABUR QUR'AN "

Posting Komentar