Featured Products

Vestibulum urna ipsum

product

Price: $180

Detail | Add to cart

Aliquam sollicitudin

product

Price: $240

Detail | Add to cart

Pellentesque habitant

product

Price: $120

Detail | Add to cart

MEMAHAMI BEKERJANYA KEBIJAKAN TOTALITER LEWAT KARYA GEORGE ORWELL

Saya baru menyelesaikan novel Animal Farm (Pertanian Hewan --sesuai judul aslinya) dengan tambahan sub-judul Republik Hewan untuk versi terjemahan Indonesia. Rasa tertarik pada novel ini muncul setelah saya terlebih dahulu mendengarkan siniar AI-nya di kanal YouTube beberapa pekan lalu. 


Novel ini disajikan dalam bentuk semi-fabel, dengan karakter utamanya seekor babi bernama Napoleon, pemimpin utama Animal Farm. Ia digambarkan sebagai sosok yang licik dan jahat, serakah, suka memanipulasi kebenaran, dan anti perbedaan pendapat. 


Ya, tokoh utamanya adalah para babi yang sekaligus menjadi antagonis. Adapun tokoh protagonis justru menjadi tokoh kedua yang diwakili oleh kuda, sapi, domba, keledai, dan beberapa jenis unggas, serta seekor babi yang karena sifat altruisnya justru membuat ia tersingkir dari Animal Farm. 


Cerita bermula dari seorang pemilik usaha pertanian dan peternakan bernama Jones. Tuan Jones ini seorang pemabuk, yang karena keseringan mabuk dia jadi menelantarkan hewan-hewan ternaknya. 


Suatu hari, hewan-hewan tersebut mengadakan pertemuan yang dipimpin oleh seekor babi sepuh bernama Mayor (usianya 12 tahun). Intinya, Mayor memberi ceramah 'subversif' yang membuka kesadaran para hewan bahwa selama ini mereka hanya dijadikan sebagai budak oleh manusia. 


Hari demi hari berlalu, akhirnya saat yang telah ditentukan tiba, hewan-hewan memberontak kepada majikannya. Pemberontakan tersebut berhasil mengusir Tuan Jones dan para pekerjanya untuk pergi keluar dari rumah dan wilayah pertaniannya. Membuat hewan-hewan tersebut menjadi merdeka tanpa tuan. 


Para hewan yang tanpa tuan ini kemudian menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada para babi yang dianggap sebagai pemrakarsa utama pemberontakan. Mereka kemudian memberi nama wilayahnya tersebut sebagai Animal Farm. 


Animal Farm berdiri di atas 7 Sila:


1. Apapun yang berjalan dengan dua kaki adalah musuh.


2. Apapun yang berjalan dengan empat kaki, atau memiliki sayap, adalah teman.


3. Tidak ada hewan yang boleh mengenakan pakaian.


4. Tidak ada hewan yang boleh tidur di tempat tidur.


5. Tidak ada hewan yang boleh meminum alkohol.


6. Tidak ada hewan yang boleh membunuh hewan lain.


7. Semua hewan itu sama.


Bertahun-tahun kemudian, Animal Farm, yang semula hanyalah sebuah komunitas pertanian yang dikerjakan secara mandiri oleh para hewan (kecuali para babi yang bertindak sebagai koordinator), di kemudian hari bertransformasi menjadi sebuah negara republik dengan pemimpinnya (tentu saja) si babi Napoleon. 


Ceritanya penuh dengan paradoks. Sebab, Animal Farm di bawah kepemimpinan para babi, yang semula diharapkan menjadikan hewan-hewan (tanpa tuan) tersebut menjadi binatang yang hidupnya bahagia dan serba berkecukupan, ternyata nasibnya tidak lebih baik daripada ketika mereka masih hidup sebagai "budak" manusia. 


Secara bertahap, beberapa Sila diberi keterangan tambahan secara dian-diam demi kepentingan para babi. Saya ambil contoh Tiga Sila yang saya ingat:


4. Tidak ada hewan yang boleh tidur di tempat tidur DENGAN SELIMUT. 


5. Tidak ada hewan yang boleh meminum alkohol SECARA BERLEBIHAN.


6. Tidak ada hewan yang boleh membunuh hewan lain TANPA ALASAN.


7. Semua hewan itu sama TETAPI BEBERAPA HEWAN LEBIH SETARA DARI YANG LAIN.


Para hewan yang buta huruf tidak menyadari bahwa Sila yang ditulis dengan jelas tersebut telah diubah oleh para babi secara diam-diam. Ada seekor keledai (pandai membaca) bernama Benjamin yang menyadari perubahan tersebut, tapi ia tak berani protes sebab ia takut nyawanya terancam. 


Untuk selengkapnya silakan baca langsung bukunya. Goerge Orwell dalam buku ini berhasil mengaduk-aduk emosi pembaca, bahkan membuat saya beberapa kali harus berhenti sejenak untuk merenungkan banyak hal. 


*** 


Novel ini sebenarnya merupakan alegori bagaimana sebuah negara diktator terbentuk --lebih tepatnya dibentuk. Yang paling utama lewat propaganda dan indoktrinasi. Yang kedua adalah memberi citra kepada pemimpin sebagai sosok yang baik, dengan menyembunyikan karakter aslinya. Dalam versi modern, karakter pemimpin dibentuk sedemikian rupa oleh media, hingga publik terkesan bahwa ia memang figur terbaik yang layak menjadi pemimpin. 


Propaganda tersebut akan sukses jika dalam komunitas (baca: negara) tersebut mayoritas penghuninya dihuni oleh orang-orang yang masih buta huruf. Buta huruf di sini tak bisa hanya dimaknai sebagai buta aksara, melainkan ketidakmampuan untuk memahami bagaimana 


Saya termasuk yang telat mengenal novel ini. Tapi justru dengan ke-telat-an itulah novel ini jadi terbaca dengan jelas buat saya. Sepanjang membacanya, secara spontan, entah kenapa saya menduga kuat sosok Napoleon ini adalah Stalin versi dunia nyata. 


Ternyata dugaan tersebut ada benarnya. Sebab, di akhir halaman buku ini ada dicantumkan biografi singkat dari Goerge Orwell (nama pena), yang bernama asli Eric Arthur Blair. Ia seorang jurnalis beraliran sosialis-demokratis (dugaan saya termasuk marxist) yang anti-Stalin. Ia pernah bergabung sebagai prajurit POUM (Partido Obrero de Unificación Marxista --Partai Pekerja untuk Pemersatu Marxist). 


Lewat novel ini, Orwell ingin memberikan pelajaran kepada pembacanya, bagaimana totalitarianisme itu dibentuk secara sistematis, tidak secara natural.


Sukabumi 

29 April 2026



No Response to "MEMAHAMI BEKERJANYA KEBIJAKAN TOTALITER LEWAT KARYA GEORGE ORWELL "

Posting Komentar