Featured Products

Vestibulum urna ipsum

product

Price: $180

Detail | Add to cart

Aliquam sollicitudin

product

Price: $240

Detail | Add to cart

Pellentesque habitant

product

Price: $120

Detail | Add to cart

EKONOM ALIRAN STRUKTURALIS VS CEO MBG



Saya senang almamater saya --Universitas Muhammadiyah Surakarta-- pernah menerbitkan buku ini 24 tahun tahun silam, sebagai bentuk partisipasi dalam peringatan 100 tahun Bung Hatta, waktu itu (2002). 

Penulisnya, Prof. Sritua Arief (1938-2002), yang tutup usia di tahun yang sama ketika buku ini diterbitkan, adalah seorang ekonom aliran strukturalis (sama seperti Bung Hatta, sosok yang ia kagumi). Ekonomi, dalam pandangannya, bukanlah ilmu yang bebas nilai (positive economics), melainkan ilmu yang punya tujuan sosial (normative economics). Ia menolak demarkasi antara keduanya. Untuk penjelasan lengkapnya silakan baca langsung buku ini. 

Pada masa Orde Baru, ia (bersama Adi Sasono) pernah menulis buku berjudul 'Ketergantungan dan Keterbelakangan'. Buku itu berisi kritik terhadap kebijakan ekonomi-pembangunan ala rezim Orba, yang dianggapnya hanya menekankan pada aspek pertumbuhan ekonomi.

Ini bisa dipahami. Sebab, pertumbuhan ekonomi tidak bisa dijadikan sebagai indikator pemerataan kesejahteraan. Kadang pertumbuhan tersebut hanya dinikmati sebagian kelompok, sementara kesenjangan sosial tetap tinggi.

Pertumbuhan yang lahir dari ketergantungan pada negara maju, lewat utang luar negeri, dan eksploitasi sumber daya alam untuk kepentingan asing, justru menjadi penyebab utama keterbelakangan struktural. Buku ini semakin menguatkan kebenaran istilah 'kemiskinan struktural' yang mulai populer sejak awal dekade 1980-an. 

Andai mereka berdua (Prof. Sritua Arief dan Bung Hatta) masih hidup saat ini, tentu akan geleng-geleng kepala. Sebab, alih-alih pemerataan kesejahteraan, bahkan pertumbuhan ekonomi-pun masih jauh dari yang diharapkan. 

Orde Baru pernah mencatat rekor pertumbuhan ekonomi sampai lebih dari 10% (1968), sementara rezim yang sekarang setengahnya pun masih diragukan. Kalau meminjam perkataan Rocky Gerung, pemerintah tidak ngapa-ngapain pun pertumbuhan ekonomi akan tetap segitu. 

Apakah MBG (yang mengambil anggaran paling tinggi dari semua kementerian) bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi, sebagaimana klaim Presiden Prabowo? Saya justru berpikir sebaliknya. Sebab kalau memang iya, Menkeu Purbaya-lah yang akan duluan berkoar sejak awal. Andai Bung Hatta dan Prof. Sritua masih hidup, saya yakin mereka akan mengkritik program ini, minimal mempertanyakan prioritas anggaran. 

MBG ini program pemerintah paling menyedihkan: (1) pemborosan anggaran; (2) lahan bancakan; (3) tidak ada dampak kemajuan untuk masa depan; (4) yang lapar segelintir tapi yang diberi makan adalah anak sekolah secara massal; dan (5) yang defisit pemikiran massal tapi anggarannya dibuat kerdil. 

Akhirnya, yang stunting atau kekurangan gizi tidak tertangani dengan maksimal, yang kelebihan gizi justru semakin bertambah obesitasnya.

MBG ibarat Anda diberi pepes ikan setiap hari, padahal yang sesungguhnya Anda butuhkan adalah joran disertai keterampilan untuk menangkap ikannya. Ironisnya, justru ini yang tidak diberikan oleh Negara kepada anak-anak Anda (termasuk saya). Mereka harus berjuang sendiri bersama orang tuanya. 

MBG tidak melatih kemandirian, justru menciptakan ketergantungan. 

Iwan Mariono
Sukabumi, 5 April 2026

No Response to " EKONOM ALIRAN STRUKTURALIS VS CEO MBG"

Posting Komentar