Lewat buku Erich Fromm ini saya jadi sadar kenapa seorang Sukarno atau bahkan Mohammad Hatta tak pernah saya dapati --dalam pidato maupun karangan mereka-- menolak total apalagi mengutuk pemikiran Karl Marx.
Dalam salah satu wawancaranya (bersama DR. Z Yasni, yang kemudian dihimpun menjadi satu buku berjudul 'Bung Hatta Menjawab'), Bung Hatta pernah menjawab, bahwa konsep sosialisme yang dikehendaki oleh Karl Marx justru bertentangan dengan yang dipraktikkan oleh Lenin.
Bung Karno lebih jauh lagi, dalam jilid 1 DBR, ada satu karangannya khusus memperingati hari lahir Karl Marx (saya lupa judulnya dan tidak bisa kroscek, buku tersebut ada di Sulawesi). Kesan saya waktu membaca karangan itu, Sukarno menunjukkan betapa ia sangat mengagumi Marx, dan menempatkannya sebagai sosok terpuji. Konsep marhaenisme Sukarno tak lain adalah pengembangan pemikiran Marx yang sudah disesuaikan dengan kondisi alam dan budaya masyarakat Nusantara.
Ini bukan berarti Karl Marx bebas dari kritik (buat saya pribadi terutama konsepnya mengenai determinisme ekonomi, seolah interaksi antar manusia hanya berdiri atas dasar materi). Kita hanya tidak akan membahasnya di sini oleh karena diskursus tentang Marx dan marxisme kiwari justru didominasi oleh kritikan. Bukan saja kritik, tapi sampai hujatan, yang kemudian menempatkan sosoknya menjadi seperti hantu yang menakutkan.
Fromm juga mengkritik Marx, tapi di bukunya yang lain (misal dalam buku: The Sane Society, 1955). Fromm menulis kritiknya terhadap Karl Marx meliputi: "Ketidaksetujuan saya dengan Marx terkait dengan kenyataan bahwa Marx tidak berhasil melihat seberapa tinggi kapitalisme sanggup memodifikasi diri agar mampu memenuhi kebutuhan ekonomi bangsa-bangsa yang terindustrialisasi. Marx juga gagal melihat secara cukup jelas bahaya birokratisasi dan sentralisasi, dan ia juga gagal meramalkan sistem otoritarian yang bisa muncul sebagai alternatif bagi sosialisme." (Hlm. 11).
Ada pun dalam buku "Marx's Concept of Man" ini, dia coba menilai Karl Marx secara lebih adil. Filsafat Marx, dalam pandangan Fromm, sama seperti sebagian besar pemikiran eksistensialis lainnya, merupakan protes terhadap keterasingan (alienasi) yang menimpa manusia, yaitu bahwa manusia kehilangan (jati) dirinya dan berubah menjadi barang. Filsafat Marx adalah gerak melawan dehumanisasi dan otomatisasi manusia.
Sama seperti Bung Hatta, Fromm dengan tegas mengatakan bahwa Uni Soviet dan (bahkan ditambah) Tiongkok, bertentangan dengan gagasan Karl Marx. "Keadaan yang sesungguhnya," tulis Fromm, "Uni Soviet adalah sebuah negara dengan sistem kapitalisme konservatif, bukan sosialisme yang digagas oleh Marx. Sedangkan dengan berbagai cara, Tiongkok menolak pembebasan individu, padahal pembebasan individu adalah inti sosialisme itu sendiri. Tetapi, memang kedua negara itu menggunakan daya tarik marxisme untuk menawarkan diri kepada negara-negara lain di Asia dan Afrika." (Hlm. 8-9).
Fromm memberi labelnya untuk kedua negara itu sebagai pengusung ideologi: pseudo-marxisme.
Dalam menganalisis perkembangan politik di negara-negara berkembang (termasuk Indonesia disebutkan), Fromm memberikan alternatif solusi untuk negara-negara tersebut. Solusinya bukan antara sosialisme dan kapitalisme, melainkan antara sosialisme dan sosialisme-humanis-marxis.
Buat Anda yang belum pernah membaca buku-buku kiri, membaca langsung buku ini mungkin hanya bikin tambah bingung. Jadi saya tidak merekomendasikan untuk dibaca sekarang. Sebagai penggantinya, Anda bisa mulai mengenal Karl Marx lewat siniar-siniar berbasis AI yang banyak tersebar di kanal YouTube.
Saya pribadi belum mengelaborasi lebih jauh seperti apa sosialisme-humanis-marxis itu (buku ini juga belum saya baca sampai khatam). Tetapi saya sepakat dengan Fromm bahwa kapitalisme tidak sama sekali menjadi solusi. Sosialisme non-marxis pun ada banyak, ide koperasi yang dikembangkan (bukan penggagas) oleh Mohammad Hatta termasuk salah satunya. Islam-pun punya konsepnya sendiri, yang saya tahu bapak bangsa seperti HOS Cokroaminoto, termasuk ulama karismatik seperti Hamka, pernah membahas konsep sosialisme dan menghubungkannya dengan Islam.
***
Lewat catatan ini sebenarnya saya hanya ingin menegaskan seperti ini: Anda belum tentu menjadi seorang marxis hanya karena mempelajari ajaran Karl Marx.
Di tengah gempuran pasar bebas dan kapitalisme liberal, tidak mungkin pemerataan kesejahteraan akan tercipta. Mempelajari Karl Marx menjadi relevan meskipun ia bukan satu-satunya solusi. Minimal ia bisa membantu Anda dalam mempertajam pisau analisa terhadap ketimpangan sosial yang terjadi.
Islam juga punya solusi. Kuntowijoyo pernah mengulas hal ini, dan dengan jujur mengakui bahwa (sayang sekali) Islam telat memahami perkembangan kapitalisme. Setelah lebih dari setengah abad sejak Marx membangun teorinya, barulah Islam mulai mengembangkan konsep sosialisme-nya yang perdana lewat karya HOS Cokroaminoto: 'Islam dan Sosialisme'. Otomatis diksi-diksi (seperti proletar, borjuis, dll) harus meminjam dari yang konsep mapan yang sudah ada sebelumnya.
Tetapi ini bisa dipahami, sebab secara spesifik kapitalisme lahir bukan di tanah tempat Islam menyebar secara luas, melainkan di Eropa bagian barat, tempat di mana doktrin gereja masih menguat --sekalipun arus liberalisme juga berkembang pesat. Dalam posisi itulah Karl Marx melontarkan pernyataan kontroversialnya, bahwa agama adalah candu rakyat (opium of the people). Dalam konteks abad ke-19, yang menjadi puncak kejayaan kapitalisme, gereja memang dipandang sebagai penghambat rakyat dalam melawan penindasan kapitalisme, yang menganggap bahwa nasib pekerja (proletar) memang sudah ditakdirkan demikian. Bahkan secara umum, gereja justru dianggap sebagai penyokong utama eksisnya kapitalisme.
Semoga tulisan ini tidak dianggap makar oleh negara, dan tidak dianggap kafir oleh ummat. Hehe.
Iwan Mariono
Sukabumi, 13 April 2026
21.25
Rumahku Surgaku

Posted in
No Response to " MARX VS MARXISME "
Posting Komentar