Featured Products

Vestibulum urna ipsum

product

Price: $180

Detail | Add to cart

Aliquam sollicitudin

product

Price: $240

Detail | Add to cart

Pellentesque habitant

product

Price: $120

Detail | Add to cart

LOYALITAS KEPADA FIGUR POLITIK





Saya tak menyangka pendukung Prabowo jauh lebih militan daripada para pendukung Jokowi. Influencer dan buzzer-nya juga jauh lebih ganas. 


Majalah yang saya pegang ini terbit 2009, menjelang Pemilu. Waktu itu saya mencoblos paslon no. 3 Jusuf Kalla-Wiranto. Alasannya mencari suasana baru. Meskipun saya mewarisi 1/3 keturunan Jawa, tapi saya tak pengin kepresidenan kita dipimpin melulu oleh orang Jawa. 


2014 saya tak ikut memilih. Walaupun kawan-kawan saya, terutama yang ikut liqo, mengajak untuk mendukung paslon 01. 


2019 ikut mencoblos lagi. Saya menjadi pendukung Prabowo. Alasannya, saya merasa Jokowi tak layak dua periode. Terlalu banyak janjinya yang tak ditepati. Nawacitanya hanyalah slogan. Meskipun waktu itu ramai seruan golput, tapi saya merasa tetap harus memilih asal bukan Jokowi. 


2024 saya tak ikut memilih. Meskipun demikian, saya turut mengampanyekan: asal bukan Prabowo-Gibran. Alasannya, duh banyak sekali kalau mau dituliskan. 


Dari sini saya hanya ingin menegaskan kalau dalam dunia politik, selain tak ada persahabatan yang abadi, juga tak ada figur yang abadi. Loyalitas kepada figur tak layak disematkan di ranah ini. 


Tidak tepat kalau kita menganggap cara berpikir orang itu tidak berubah alias tetap sama. Prabowo, sejak ia bergabung dengan pemerintahan Jokowi, menurut saya, memang sudah banyak berubah: cara berpikir dan orientasinya yang lebih ambisi terhadap kekuasaan. 


Tapi begitulah, akan ada saja orang yang tetap memilih setia pada satu figur, meskipun ia bukan siapa-siapanya, dan tak mendapat apa-apa dari sikap loyalnya. 

KOLONIALISME DI ZAMAN KITA


Saya sepakat dengan sub-judul dalam film Pesta Babi: Kolonialisme di zaman kita. 


Tentu kriteria itu tidak langsung asal comot diksi untuk kemudian ditempelkan menjadi sub-judul. Ada proses panjang sebelum leksikon yang penuh dengan polemik itu akhirnya dipilih dan disematkan. 


Untuk menilai apakah sesuatu tersebut termasuk penjajahan atau bukan, diperlukan wawasan yang luas. Yang sudah pasti adalah Anda harus belajar sejarah kolonialisme yang pernah terjadi di masa lampau. 


Begitu juga dalam menentukan apakah yang terjadi di Papua Selatan kiwari termasuk kategori kolonialisme, Anda tidak cukup melakukan kerja advokasi hanya dalam sehari dua hari, atau bahkan setahun dua tahun. Pekerjaan itu memakan waktu belasan bahkan puluhan tahun. Kita bisa berdebat panjang mengenai hal ini. 


Kalau Anda mengenal Dandhy Laksono baru 2-3 tahun terakhir, atau baru mengenalnya lewat 2-3 film yang ia sutradarai seperti Dirty Vote dan Sexy Killer, sangat wajar bila Anda meragukan kredibilitasnya. 


Keraguan itu mungkin akan sedikit sirna bila Anda sudah mengikuti perjalanannya mengelilingi Indonesia sepuluh tahun terakhir dan menyaksikan video-video dokumenter yang ia hasilkan. Yang sangat terkait dengan film Pesta Babi adalah film The Mahuze's yang sudah rilis sejak sepuluh tahun silam. 


Dan mungkin akan benar-benar sirna bila Anda mundur 15 tahun terakhir, dengan membaca buku Jurnalisme Investigasi yang ia tulis. Buku ini tidak berisi teori-teori tentang jurnalisme yang kaku, melainkan bercerita pengalaman bagaimana ia jatuh bangun dalam melakukan kerja investigasi yang penuh dengan risiko. 


Kendala besar yang ia hadapi sebagai jurnalis dalam menginvestigasi kasus Munir di awal kematiannya, saya anggap yang paling heroik. Masih banyak hal lain yang ia ceritakan, frustrasinya terhadap tv swasta, yang lebih mengutamakan tayangan norak tapi penuh komersial, sehingga dia harus membangun media yang independen. 


Saya menilai ada standar moral dan nilai integritas yang dijunjung tinggi dalam buku itu. Secara filosofis, pekerjaan seorang jurnalis yang bergerak dalam misi investigasi, sesungguhnya adalah kerja untuk kemanusiaan.