Ini kali kedua saya menempuh perjalanan dari Kabupaten Morowali (Sulawesi Tengah) ke Kabupaten Sukabumi (Jawa Barat). Kalau yang pertama mengendarai mobil sedan bersama putri saya (Naira) yang waktu itu masih usia 3.5 tahun (April 2024), kali ini saya sendirian mengendarai sepeda motor.
Sudah lewat dari sebulan baru saya sempat menuliskannya.
Melalui tulisan ini, saya pengin mengabadikan momen yang saya anggap perlu
untuk dikenang, agar tidak hilang ditelan zaman. Meskipun demikian, perjalanan
dengan sedan tersebut tetap menjadi yang paling berkesan buat saya karena saya
tempuh hanya berdua dengan Naira. Saya sudah tuliskan kisahnya di sini: https://iwanmariono.blogspot.com/2024/05/perjalanan-seminggu-lintas-pulau.html
MINGGU, 31 MEI 2026
Saya berangkat pukul 13.30 WITA dari rumah mama di Desa
Lasampi, Kecamatan Bumi Raya, Kabupaten Morowali. Sengaja memilih waktu siang,
agar tidak kemalaman pas lewat hutan di perbatasan Kabupaten Morut (Morowali
Utara)-Kabupaten Poso. Targetnya mau bermalam di Masjid Al-Muhajirin dekat
perbatasan tersebut. Masjid ini terkenal sebagai tempat istirahat orang-orang
yang safar lintas daerah. Jarak dari rumah ke situ sekitar 150 km.
Meskipun singgah cukup lama di rumah kawan saya Andi
(Morut), sampai di perbatasan ternyata suasana masih tampak terang. Rencana
menginap di masjid batal. Perjalanan saya lanjutkan.
Awal masuk Kabupaten Poso, sampailah saya di perbukitan
Pamona Timur. Sejak SMA, ini daerah padang ilalang paling menyejukkan mata
setiap kali saya hendak menempuh perjalanan jauh keluar daerah.
Agak lama saya berhenti di sini, menikmati angin sore dan
sekaligus menunggu matahari terbenam. Dari bukit ini saya bisa melihat Morowali
dari jauh. Kalau lima belas tahun lalu, pegunungannya masih berwarna biru
pekat, sekarang banyak kemerahan, bukaan hutannya semakin banyak, untuk
perkebunan kelapa sawit.
Saya masih harus menempuh perjalanan hampir 50 km untuk
sampai di Pamona Selatan, kecamatan terakhir yang menjadi batas antara provinsi
Sulawesi Tengah. Sampai di Desa Pendolo, saya putuskan untuk istirahat di
musholla POM bensin yang ada di sana. Hari sudah malam: 21.00 WITA.
SENIN, 1 JUNI 2026
Saya melanjutkan perjalanan selepas sholat subuh. Jalanan
berkabut disertai rintik gerimis, kecepatan rata-rata 30-40 km/h. Sejam
perjalanan saya akhirnya sampai di perbatasan provinsi. Cuaca cerah.
Selanjutnya saya lebih banyak berhenti selama melewati
pegunungan yang menjadi batas dua provinsi ini, dengan jarak tempuh 60 km.
Singgah di beberapa titik yang masuk kawasan hutan lindung untuk menikmati
kicau burung atau menyaksikan monyet bergelantungan. Jalanan sepi dan lengang.
Suasana seperti ini yang saya dambakan.
Selepas pegunungan saya langsung tancap gas sampai ke kota Palopo. Jaraknya masih sekitar 150 km. Kalau tak ada halangan pukul 11.00 sudah sampai.
Masjid Agung Palopo menjadi tempat pemberhentian saya.
Masjidnya besar, punya banyak kamar mandi, banyak pohon rindang di parkirannya,
dan ada banyak sekali kantin. Benar-benar tempat yang nyaman buat istirahat
para musafir. Saya mandi, cuci baju, sholat jamak, makan siang, dan ngopi.
Pokoknya istirahat untuk waktu yang cukup lama di sini.
Pukul 14.00 saya harus menentukan apakah akan melanjutkan
lewat jalur Wajo-Sidrap atau berputar lewat Toraja-Enrekang. Palopo merupakan
jantung kota di bagian utara Sulawesi Selatan. Untuk menuju ke Makassar pilihan
pertama tentu lebih cepat secara waktu dan jarak tempuh. Pilihan kedua waktu
tempuh lebih lama dan jaraknya nambah 50 km, tapi menyajikan pemandangan yang
indah sepanjang jalan. Titik temu kedua jalur ini nantinya di kota Parepare.
Saya ambil pilihan kedua. Jalanan mendaki dan meliuk-liuk
seperti ular menjadi semacam sirkuit yang kita lalui sepanjang Toraja-Enrekang.
Masih jalur Palopo-Toraja, saya singgah sejenak di sebuah warung tepi jurang
untuk ngopi dan menikmati pemandangan jalananan yang sudah saya lalui hampir
sejam. Jika Anda seorang bikers, Anda tidak akan pernah menyesal melalui jalan
ini.
Tana Toraja adalah kampung leluhur alamarhum bapak (tiri)
saya. Saya tiba sore hari. Rehat sejenak di Rante Pao (ibukota Kabupaten Toraja
Utara) di rumah tongkonan yang menjadi ciri khas Toraja. Saya tiba-tiba
teringat jokes di antara sesama orang Toraja: “Apa Bahasa Jepangnya monyet?”,
jawabannya: “Susiko”. Susiko kosakata Toraja yang artinya mirip ko (mirip
kamu). Hehe.
Meskipun ada banyak sekali destinasi wisata yang bisa
dikunjungi, tak ada satu pun yang saya singgahi. Apalagi ini sudah menjelang
magrib, dan saya masih harus menempuh jarak 350an km untuk sampai di pelabuhan.
Saya fokus mengejar target harus sampai di Makassar sebelum kapal Ferry
berangkat Selasa sore tanggal 2 Juni (sesuai jadwal yang tertera di aplikasi
Ferryzy, kapal berangkat pukul 17.00 WITA).
600/850 km. Menjelang magrib saya tiba di Angeraja,
Kabupaten Enrekang. Saya singgah ngopi di sebuah warkop di lereng bukit dengan
landscape pemandangan Gunung Nona. Kenapa diberi nama Gunung Nona? Saya pernah
bertanya kepada salah satu warga, jawabannya karena bentuknya gunung tersebut
seperti cekungan kemaluan Wanita. Hehe. Saya tak tahu itu jawaban serius atau
bercanda. Tapi sepertinya serius.
Saya lanjutkan perjalanan dari Enrekang ke Pinrang selepas
magrib, dan baru istirahat lagi setelah tiba di Parepare jam 21.00. Sebenarnya
masih pengin melanjutkan perjalanan sampai Makassar, tapi entah kenapa setelah
makan durian di anjungan kota tiba-tiba kantuk berat. Saya putuskan untuk
menginap di kota in. Istri saya lewat aplikasi memilihkan saya hotel dekat
tempat saya nongkrong. Jadilah saya tidur di hotel malam ini, namanya Parenium
Hotel.
SELASA, 2 Juni 2026
Saya enggan segera beranjak dari hotel sampai menjelang
waktunya check out. Waktu tempuh perjalanan masih estimasi 3 jam (150 km)
sampai Makassar, saya masih bisa berleha-leha lebih lama di kasur. Tak lupa
semua pakaian kotor saya cuci. Tepat pukul 11.00, saya meninggalkan Parepare.
Jalan poros Parepare-Makassar adalah rute yang paling asyik
untuk berkendara. Saya sering melintas di jalan ini dengan sepeda motor, mobil
sedan, atau dengan bus. Jalannya terbagi dua lajur dengan pemandangan dominan
laut di sisi kanan, perbukitan di sisi kiri.
Selasa sore pukul 16.00, saya sampai di Makassar. Yang bikin
perjalanan agak molor karena kebanyakan singgah di beberapa tempat, paling lama
di toko roti Maros: sholat, istirahat ngopi, dan beli roti. Saya pesan satu
kotak rasa pisang untuk bekal di kapal nanti. Sebelum ke Pelabuhan
Sukarno-Hatta, saya sempatkan berfoto sejenak di Centre Point Indonesia, tak
jauh dari Pantai Losari.
Saya sudah menempuh jarak 850 kilometer, dengan waktu tempuh
3 hari perjalanan.
Pukul 20.00 Ferry Dharma Kencana 7 baru berangkat. Meskipun
di jadwal tertulis pukul 17.00 kapal berangkat, namun dalam kenyataannya bisa
molor berjam-jam, tergantung banyaknya antrian kendaraan. Dua tahun lalu
sewaktu bersama Naira putri saya, di kapal yang sama, jadwal berangkat hari
Jumat pukul 22.00, ternyata baru lepas jangkar Sabtu dini hari pukul 04.00
WITA.
RABU, 3 Juni 2026
Kapal sudah berlayar melintasi Laut Jawa, meninggalkan Selat
Makassar jauh di belakang.
Saya selalu update perjalanan ini di media sosial
sebelum sinyal hilang. Ada kawan yang bertanya berapa ongkos perjalanan hingga
sampai di Sukabumi. Sebenarnya tidak ada rincian yang saya buat setiap kali
melakukan perjalanan jauh seperti sekarang, sebagaimana yang sudah-sudah. Tapi
kali ini mari kita coba hitung.
Perjalanan dengan motor scoopy, untuk bensin tentu lebih
irit. Sebelum berangkat saya isi penuh. Di Morowali jangan harap nemu pom
bensin jual pertalite, sebab sejak awal datang sudah diborong oleh pengecer.
Eceran dijual seharga Rp 20.000,- per 1.5 liter (1 botol air mineral besar).
Tangki motor saya kapasitas 3.5 liter, jadi awal berangkat sudah hampir 50 ribu
untuk bensin. Tangki penuh bisa menempuh jarak 150 km. Maka untuk sampai
Makassar yang menempuh jarak 850 km via Toraja, saya butuh sekitar 20 liter.
Kalau sepanjang jalan mudah mendapat pom bensin, tentu kita
hanya butuh 200rb untuk bensin. Sayangnya itu sesuatu yang jarang kita jumpai
di sini. Ini bukan pulau Jawa. Hehe. Jadi saya lebih sering isi bensin lewat
pengencer, atau sekali ketemu pom bila antrian merayap saya isi pertamax (harga
masih 12rb per liter). Jarak dari Surabaya ke Sukabumi hampir sama. Maka total
untuk bensin Anda harus menyiapkan sekitar 500rb-an (untuk jarak tempuh 1.750
km).
Sekarang tiket kapal. Untuk motor (semua kendaraan
tergantung berapa cc) scoopy 125cc saya biayanya 711 ribu (belum termasuk
orangnya). Biaya per orang tergantung kelas, saya ambil kamar ekonomi harganya
475rb. Harga yang melonjak jauh dibanding dua tahun sebelumnya, waktu itu kamar
kelas 1 berisi 2 bed hanya 500rb. Saya tidak coba tanya harga terbaru untuk
kamar kelas II, I, dan VIP, mestinya sudah naik drastis.
Untuk tempat tinggal, selama perjalanan ini sebenarnya saya
tidak menentukan akan istirahat di mana. Kadang tidur di mushola yang ada di
pom bensin seperti yang saya lakukan kemarin. Tidur di hotel kemarin juga
sebenarnya karena permintaan istri. Saya pilih yang paling murah, 250rb. Jadi
estimasi untuk biaya tinggal (termasuk biaya makan) silakan Anda buat sendiri.
Yang jelas, selama masih di Sulawesi, saya tidak melakukan perjalanan di malam
hari.
Ini kebalikan setelah saya tiba di Jawa yang lebih banyak
melakukan perjalanan di malam hari. Sebab di Jawa, ada banyak kawan yang saya
temui, saya bisa bercengkrama berjam-jam dengan mereka. Dan terutama sekali:
(1) di Jawa tidak ada hutan yang benar-benar hutan dengan jarak tempuh sampai
puluhan kilometer; (2) pom bensin 24 jam tersedia di banyak titik.
Kembali ke tiket kapal. Saya sengaja baru memesan kamar
setelah di dalam kapal. Awalnya di aplikasi tertulis penuh kecuali
ekonomi-kursi, tapi saya tak percaya. Jadi saya hanya pesan tiket untuk
kendaraan saja. Pengalaman ini saya dapatkan sejak dua tahun yang lalu: kamar
kelas 1 saya dapatkan tanpa sengaja justru dari seorang ABK yang menjualnya ke
saya seharga yang saya cantumkan di atas. Waktu itu saya sedang di anjungan
bersama putri saya, tiba-tiba ada yang mengajak diskusi dan menawarkan kamar.
Tentu saja saya terima tawaran itu dengan senang hati, anak saya bisa tidur
lebih tenang, tidak berbaur dengan banyak orang yang membuat saya tidak bebas
meniggalkannya bahkan sekadar untuk ke kamar mandi.
Fasilitas kamar kelas I: kamar mandi dalam + air hangat, dua
bed, satu kursi gabus panjang dan meja, dan TV antena. Bedanya dengan kamar VIP hanya di luasnya
kamar mandi yang disertai bathtup. Adapun kamar kelas II berisi 4 ranjang
disertai satu meja lesehan dan TV antena, tanpa kamar mandi dalam. Kalau Anda
membawa anak kecil seperti saya dua tahun yang lalu, apalagi hanya berdua
dengannya, kamar kelas I dan VIP seperti wajib dipesan. Kamar mandi dalam
adalah privilese yang sangat berharga di perjalanan jauh dengan kapal seperti
ini. Anda tidak akan bertemu dengan toilet yang baunya pesing atau tinja
mengambang.
Karena hanya sendiri, kamar ekonomi ini sudah istimewa buat
saya. Apalagi dalam perjalanan kapal selama 33-35 jam ini, waktu lebih banyak
saya gunakan untuk melek membaca buku ditemani sampai 8 gelas kopi. Sebagai
orang yang keranjingan baca buku, berada di kapal yang tanpa sinyal seluler dan
internet adalah benar-benar berkah buat saya. Saya bisa mengkhatamkan satu
buku. Buku kedua bahkan hampir khatam juga. Saya membaca buku tanpa ada
gangguan sama sekali. Bisa membaca hampir 300 halaman adalah momen yang
istimewa. Terakhir kali bisa seperti ini adalah 15 tahun yang lalu saat masih
bujang dan belum punya android.
KAMIS, 4 JUNI 2026
Sudah pukul 00.30 dini hari, saya putuskan untuk segera
tidur meskipun keinginan membaca masih ada. Saya perlu istirahat sebelum kapal
sandar di Pelabuhan Tanjung Perak, beberapa jam lagi.
Pukul 04.00 kapal sandar. Setengah jam sebelumnya saya sudah
selesai kemas-kemas, termasuk sudah mandi. Kira-kira setengah jam kemudian baru
saya bisa keluar dari kapal setelah antri menunggu kendaraan paling depan
duluan keluar.
Saya sholat shubuh di masjid dekat pintu keluar pelabuhan.
Hawa panas Surabaya sudah mulai terasa. Tidur 3 jam untuk musafir seperti saya
sebenarnya sudah lebih dari cukup. Saya sudah merasa fit untuk melanjutkan
perjalanan ke arah barat. Saya sempatkan singgah sebentar di Tugu Pahlawan
untuk mengambil gambar, setelahnya gas pol. Kota Solo adalah tujuan saya.
Matahari masih berada di titik kulminasi ketika saya tiba di
Solo. Tujuan pertama saya ke bengkel Ahas dekat kampus UMS (almamater saya):
ganti oli mesin dan oli gardan, ganti kampas rem depan. Selesai urusan motor
barulah saya temui orang-orang yang sejak awal memang sudah masuk daftar pengin
saya temui. Saya putuskan untuk menginap semalam di Polokarto (Kabupaten
Sukoharjo), di rumah Mbahputri (ibu dari bapak sambung saya).
JUM’AT, 5 JUNI 2026
Selepas shalat shubuh saya sudah berkemas-kemas, tapi baru
benar-benar meninggalkan Solo raya setelah pukul 10.00. Ternyata masih banyak
orang-orang yang harus saya temui, yang itu pun tidak semua agenda itu
kesampaian. Hehe.
Tujuan selanjutnya adalah Yogyakarta.
Saya Jum’at-an di sebuah masjid di gang sempit, tak jauh
dari Stasiun Lempuyangan. Sehabis sholat saya istirahat sejenak di rumah
seorang bapak yang rumahnya tepat di samping masjid. Beliau seorang paruh baya,
kenalan yang menampung saya ketika pertama kali menginjakkan kaki di Yogyakarta
15 tahun yang lalu. Karena saya kejar target perjalanan, pertemuan di rumah itu
hanya berlangsung sekira satu jam saja. Sehabis minum es teh dan makan kupat
tahu saya lanjutkan perjalanan.
Perjalanan baru berjarak sekitar 5 kilometer ke arah
selatan, saya harus menyempatan singgah sejenak untuk bertemu dua kawan lama
saya, sejak sekolah menengah di Kota Palu. Muhammad Annas dan Dede Maulana.
Kami bertiga dari produk yang sama: Smansa Palu. Ketika lulus sama-sama memilih
ke Jogja. Bedanya, saya akhirnya terdampar ke Solo. Sementara mereka justru
mendarah daging bersama Jogja, yang satu menjadi dosen, satunya lagi pengusaha.
Sebelum berpisah, kami foto bareng dengan gaya seperti terakhir kali kami
berpose bersama waaktu mereka datang menjenguk saya di Solo, duabelas tahun
silam.
Saya kira pertemuan itu hanya akan berlansung sejenak: sejam
atau dua jam saja. Ternyata tidak ada sejenak. Keasyikan ngobrol membuat waktu
seperti melesat begitu cepat, ba’da magrib baru saya benar-benar melanjutkan
perjalanan ke arah barat.
Diskusi kami akhiri sebelum adzan magrib. Juga sebelum
adzan, saya sempatkan untuk singgah sejenak di hotel Grand Palace yang terletak
di Jalan Parangtritis (tidak jauh dari masjid yang hendak saya tuju). Bukan
untuk menginap, melainkan untuk tapak tilas. Di hotel ini (kamar nomor 215),
limabelas tahun yang lalu (2011), untuk pertama kalinya, di usia sembilanbelas,
saya bertemu dengan bapak kandung saya. Saya tak ingin menceritakan mengenai
hal ini lebih panjang di sini, cukuplah dirasakan oleh banyak orang bahwa Jogja
pancen Istimewa, termasuk buat saya.
Saya salat magrib jamak isya di Masjid Jogoariyan. Kalau
Anda ke Jogja, mungkin tak akan Anda temukan masjid sebaik Jogokariyan dalam
memberikan pelayanan kepada ummat/jamaahnya, terlebih saat bulan Ramadhan.
Setelah membaca buku berjudul ‘Manifesto Masjid Nabi’ yang mengisahkan dengan
baik dan lengkap tentang “dapur” dari masjid ini, saya semakin menaruh hormat
dan kagum kepada ketua takmirnya yang belum lama ini meninggal dunia. Buat
saya, ini arketipe masjid yang benar-benar menjalankan fungsinya sebagai pusat
peradaban.
SABTU, 6 JUNI 2026
Dini hari, pukul 00.30 saya istirahat di rest area Gombong.
Perjalanan dari Jogja sampai Kapaten Purworerjo saya tempuh lewat Jalan
Daendels (entah kenapa diberi nama Daendels, kenapa tidak diganti menjadi
Pangeran Diponegoro). Sempat singgah makan malam di pecel lele di jalur Pantai
Selatan (Pansela) ini. Saya juga bertemu dengan seorang kawan pelapak buku di
fesbuk yang domisilinya tak jauh dari ini.
Selesai dan ngobrol seputar perbukuan, saya pamit. Dia
menyarankan saya agar lewat Jalan Nasional III, sebab lewat Pansela selain
minim penerangan jalan, juga banyak are yang berlubang. Saya turuti sarannya.
Saya belok lurus ke utara, sampai di Stasiun Kutoarjo, kemudian belok kiri
melanjutkan perjalanan tanpa berhenti sampai tiba di Gombong. Saya pesan kopi
untuk menghilangkan kantuk. Ternyata tidak mempan. Saya putuskan untuk baring
di kursi panjang warkop di rest area ini.
Saya terbangun pukul 03.00. Saya anggap cukup waktu
istirahat saya. Saya melanjutkan perjalanan sampai tiba adzan shubuh di sebuah
masjid dekat jalur lingkar Banyumas. Sehabis salat, sambil menunggu matahari
bersinar, iseng saya inbox fesbuk Pak Nass (Nassirun Wijaya aka Nassirun
Purwokartun), seorang novelis dan sejarawan babad asal Banyumas. Ternyata
mendapat jawaban. Jadilah saya putuskan untuk istirahat pagi di rumah beliau. Rumahnya
tidak jauh dari masjid tempat saya istirahat, hanya sekira 2 kilometer.
Ini kunjungan kedua saya ke rumah beliau, sebelumnya 3.5
tahun yang lalu (Desember, 2022). Begitu sampai, Bu Yuli (istri Pak Nass)
menyediakan sarapan untuk kami. Jangan bayangkan istirahat saya adalah tidur di
kamar tamu, atau rebahan di ambal yang disediakan di teras rumah. Istirahat
yang saya maksud adalah ngobrol ngalor-ngidul. Saya seperti tak pernah
kehabisan bahan untuk ngobrol dengan beliau, seputar penulis dan perbukuan.
Dulu bahkan sampai hampir delapan jam. Sekarang lebih cepat, 3.5 jam “saja”.
Jam 10.00 pagi saya sudah melanjutkan perjalanan. Belum
sampai setengah jam perjalanan saya sudah merasakan kantuk yang sangat berat,
saya singgah di sebuah masjid langsung menggelepar di serambinya sampai
kira-kira sejam. Istirahat memang harusnya dengan tidur, bukan ngobrol
ngalor-ngidul. Hehe. Jarak tempuh masih sekitar 350 kilometer lagi. Waktu
tempuh berdasarkan google map tidak pernah saya pakai. Saya kadang bisa istirahat
di satu tempat lebih lama, atau putar balik sekiranya ada hal yang menarik untuk
dilihat atau diabadikan kamera.
Tidur pagi selama sejam sudah cukup untuk memulihkan
kekuatan. Saya langsung tancap gas, dan baru istirahat lagi setelah sore hari
sampai di ujung Kabupaten Tasikmalaya. Saya puaskan istirahat selama hampir
sejam, sebelum memasuki jalan berkelok dan menanjak sepanjang hampir 50
kilometer melintasi Jalur Nagreg (Kabupaten Bandung), jalan raya paling
legendaris di Jawa Barat.
Pukul 16.40 WIB, setelah menempuh perjalanan santai selama
hampir 2 jam, saya tiba di akhir (pangkal) jalur Nagreg. Jangan lupa singgah
menikmati ubi cilembu di sini. Ubinya selalu disajikan dalam kondisi hangat dan
ada lelehan madunya. Rasanya manis, dipadu dengan kopi pahit sungguh nikmat
sekali.
Kopi sudah tandas, saya melanjutkan lagi perjalanan, menuju
kota Bandung. Seperti dugaan, baik di hari libur apalagi hari kerja, sore hari
melewati Cileunyi macetnya minta ampun. Jalanan padat dengan kendaraan roda
dua, para buruh baru keluar pabrik. Bertepatan dengan adzan magrib saya baru sampai
di Bandung.
Saya tidak singgah di kota Bandung, memilih lanjut terus
lewat boulevard Jalan Soekarno-Hatta yang relatif lebih lancar, kecuali
penumpukan kendaraan di lampu merah simpang Kiaracondong. Saya sudah banyak
berkeliling kota-kota besar di pulau Jawa, terutama Jakarta, tapi belum pernah
menemukan lampu merah terlama kecuali di simpang ini: +5 menit! Dengan lampu
hijau hanya 90 detik. Benar-benar melatih kesabaran. Jangan lewat sini kalau
lagi kebelet, Anda bisa berak di celana.
Saya baru memutuskan istirahat lagi setelah menjelang masuk ke
wilayah Kabupaten Cinjur, pukul 21.00. Di ujung barat Kabupaten Bandung Barat
itulah saya memutuskan untuk istirahat. Saya rebahkan badan di teras mushola,
di pom bensin daerah Mandalawangi. Mungkin sekitar sejam saya tertidur di sini.
Pukul 22.30 baru saya lanjutkan perjalanan yang jarak tempuhnya tinggal 70 km
lagi. Target saya sebelum pergantian tanggal/hari, saya sudah harus tiba di
rumah.
Dengan sisa-sisa tenaga, target itu tercapai. Saya tiba di
rumah pukul 23.58, dua menit menjelang pergantian hari. Alhamdulillah.
***
Hakikatnya hidup ini adalah menempuh perjalanan. Seberapa
jauh dan seberapa lama, seberapa terjal dan seberapa beratnya, pada akhirnya kita akan sampai di ujung jalan. Semoga kelak kita tiba dengan selamat.
Demikian saya akhiri tulisan ini.
Kabupaten Sukabumi, 17 Agustus 2026
Iwan Mariono
00.46
Rumahku Surgaku
Posted in
No Response to "PERJALANAN SEMINGGU LINTAS PULAU (2)"
Posting Komentar