Featured Products

Vestibulum urna ipsum

product

Price: $180

Detail | Add to cart

Aliquam sollicitudin

product

Price: $240

Detail | Add to cart

Pellentesque habitant

product

Price: $120

Detail | Add to cart

DEBU MOROWALI


Saya senang Bhima menulis novel tentang tambang di Morowali. Namanya novel, tentu ada dramatisasi cerita. Tapi nasib pekerja sebagaimana ia kisahkan dalam buku ini, jelas bukan cerita fiktif. 

Saya mendengar dan menyaksikan sendiri bagaimana kecelakaan kerja hampir setiap hari terjadi: (1) ada yang jatuh dari ketinggian 23 meter menyebabkan multipel fraktur di lengan dan bahu; (2) ketiban material ore sampai mematahkan tulang paha; (3) terperosok ke dalam limbah panas dengan luka bakar nyaris seratus persen ; (4) luka bakar akibat ledakan tungku PLTU; (5) dan kecelakaan kerja lain yang tak terhitung jumlahnya. 

Saya pernah bertanya ke salah satu rekan kerja orang yang jatuh dari ketinggian itu. Bagaimana pengawasan dari K3-nya kok bisa sampai ada yang jatuh dari tempat setinggi itu? Jawaban dia: "Ah, hanya formalitas saja itu, Pak." 

Bukan hanya nasib pekerja, termasuk keluarganya pun banyak yang terdampak, terutama anak-anak. Sebagian besar yang sudah berkeluarga datang ke Morowali dengan memboyong istri dan anaknya. Banyak anak balita yang dibawa ke poli dengan keluhan batuk-pilek, kadang disertai sesak. Saat saya tempelkan stetoskop di dadanya, sebagian besar terdengar suara rhonki (suara kasar bunyi grok-grok di organ paru). Itu jelas bukan batuk-pilek biasa. 

Orang tuanya biasa mengeluh kenapa batuk anaknya sering kambuhan, habis obat, sebulan dua bulan kambuh lagi. Saya hanya bisa memberikan saran: sebaiknya sang anak dititip ke neneknya di kampung, atau pasangan merawat anak di kampung, jadi orang tua yang kerja saja yang tinggal di sini. 

Mungkin hanya saya dokter yang tak melewatkan bertanya kampung asal pasien yang datang berkunjung ke poli rawat jalan. Dari situ saya jadi tahu, ratusan atau bahkan seribuan pengujung poli itu, sebagian besar didominasi oleh pekerja yang datang dari Tana Toraja, Enrekang, dan Luwu raya. 

Banyak dari mereka ini, statusnya sebagai pekerja helm kuning. Sebagian besar jelas indekos di tempat yang terbuka, alias non-AC. Sementara debu dan asap tak pernah istirahat, siang-malam selalu menghiasi udara di Fatufia dan desa-desa lain di sekitarnya. Jadi jangan heran, kalau anak-anak yang tinggal di sekitar pabrik sangat rentan terserang penyakit saluran nafas.

Pengalaman serupa cerita saya di atas itu, sebagian ditulis juga oleh Bhima dalam buku ini. Saya tak tahu siapa saja yang menjadi narasumber Bhima dalam penelitiannya. Jelas ini bukan novel yang asal mengarang cerita.

Buku ini pertama kali diterbitkan pada tahun 2023, bersamaan dengan saya masih kerja di sana.


No Response to "DEBU MOROWALI"

Posting Komentar