Featured Products

Vestibulum urna ipsum

product

Price: $180

Detail | Add to cart

Aliquam sollicitudin

product

Price: $240

Detail | Add to cart

Pellentesque habitant

product

Price: $120

Detail | Add to cart

NAIRA

Papa memberimu nama Naira. Yang terpikir oleh banyak orang mungkin kosakata dalam bahasa Arab: nur/noura, yang berarti sinar atau cahaya. Tidak keliru. 


Namun inspirasi pertama Papa bukan dari bahasa Qur'an itu (kecuali nama belakangmu: Nuzula Firdha). Melainkan dari sebuah pulau kecil di sebelah tenggara provinsi Maluku bernama Banda Naira. Begitu berkesan sampai sempat terpikir akan memberi pula nama depan Banda jika kau punya adik laki-laki. 

Pulau dengan nilai sejarah. Papa tahu itu dari sebuah buku Memoir karya Bung Hatta, yang pernah tinggal di sana untuk waktu cukup lama bersama Sutan Sjahrir, dan dr. Tjipto Mangoenkoesoemo bersama istri, sebagai interniran Belanda. Mereka adalah manusia-manusia bebas dalam arti sesungguhnya, terpenjara fisiknya namun tidak pikirannya. 

Juga melalui catatan-catatan Des Alwi, yang melukiskan keindahan tempat itu dengan sempurna. Ia, bersama dua bapak angkatnya --Hatta dan Sjahrir-- menghabiskan waktu bermain di pantai dan mendayung perahu ke pulau-pulau kecil di sekitarnya. 

Entah kenapa pulau itu begitu istimewa buat Papa, sekalipun Papa belum pernah menginjakkan kaki ke sana. 

Kelak kita akan berkunjung ke sana. InsyaAllah.

GRANADA

Novel dengan setting waktu Spanyol akhir abad XV, menceritakan kisah Bangsa Moor yang memilih tetap bertahan di negerinya paska Reconquista (1492). 

Siksaan demi siksaan, fisik maupun psikis, mereka hadapi selama puluhan tahun. Yang paling menyakitkan adalah dilarangnya menyimpan apalagi mempelajari kitab-kitab ilmu, baik yang berbahasa Castile apalagi Arab. Ancamannya adalah hukuman mati dibakar hidup-hidup. Dan korbannya adalah sang tokoh utama: Gloria Alvarez (nama baptis dari Saleemah binti Jaafar). 

Saleemah adalah cucu dari seorang kakek yang berprofesi sebagai penjilid kitab (mungkin saat ini kita menyebutnya: penerbit buku) yang sangat menjaga dan mencintai ilmu. Kakeknya meninggal mendadak setelah menyaksikan pembakaran kitab-kitab yang berhasil disita oleh tentara (saya menduganya terkena serangan stroke). 

Saleemah berjanji akan melindungi kitab-kitab yang berhasil diselamatkannya (disembunyikan). Secara diam-diam ia mempelajarinya, dan kemudian merangkumnya (di antaranya magnum opus al-Kanun karya Avicenna). Kitab-kitab itu membawanya menjadi seorang dokter yang berhasil menemukan beberapa ramuan obat. 

Otoritas Gereja saat itu menjatuhkan sanksi kepadanya, salah satu dakwaannya adalah: mempelajari ilmu sihir.

Kisah selengkapnya silakan dibaca sendiri. 

BUNG HATTA BERCERITA TENTANG PKI

Buku tipis dan langka ini, hanya 215+vii halaman, berisi wawancara Dr. Z. Yasni bersama dosen beliau, Bung Hatta, tahun 1978.


Terdiri dari lima bab. Namun setengah dari isi buku ini dihabiskan hanya untuk bab 1 saja, yakni tanya-jawab seputar PKI. 

Bung Hatta, Negarawan pembaca karya-karya Marx, namun sekaligus tokoh yang sangat anti-PKI itu, memberikan jawabannya secara mengalir saat proses wawancara. Kadang singkat, namun lebih banyak panjang-lebar saat menjawab pertanyaan dan menjelaskannya secara detail. 

Saya akan membuat ringkasan random, ada beberapa poin penting yang disampaikan Bung Hatta dalam buku ini:

1. Perbedaan mendasar antara Marx sebagai pencetus ide komunis, dan Lenin (dilanjutkan Stalin) sebagai pelaksana pertama dari ide tersebut adalah pada cara pelaksanaannya. Marx menginginkan prosesnya berjalan secara evolusi, sementara Lenin menghendaki jalan revolusi. 

Demikian jawaban Bung Hatta: "Menurut Marx, masyarakat lama tidak akan rubuh dan masyarakat baru akan tumbuh, sebelum pusat-pusat produksi yang mendukungnya berkembang seluas-luasnya. Jadi, pendek kata prosesnya adalah dinamis, tetapi bukan revolusioner, hanya adalah evolusioner, dalam arti harus berkembang dengan baik lebih dulu. Ini ditentang oleh Lenin. Pahamnya menyatakan, bila saja ada kesempatan, rebut kekuasaan. Marx menghendaki perkembangan kapitalisme dan ekspansi produksi terus menerus yang nantinya akan menyebabkan verelendung dan kemiskinan itulah yang memungkinkan saat yang matang untuk perebutan kekuasaan itu dapat dilakukan." (Hlm. 77-78) 

"Saya hantam dengan tajam bagaimana komunis yang dipraktekkan sekarang bertentangan dengan Marx-Engels." (Hlm. 15) 

2. Tidak ada pernyataan Bung Hatta yang tegas apakah sebaiknya komunisme dilarang di Indonesia, tapi menurut beliau yang terpenting bukanlah pelarangannya, melainkan bagaimana sebuah negara mampu mensejahterakan rakyatnya. Kalau rakyat sudah makmur hidupnya, komunis tidak akan bangkit di negara tersebut. 

"Dilarang atau tidak, yang terpenting adalah menghilangkan alasan-alasan serta keadaan yang memungkinkan timbulnya komunis kembali. Kemiskinan yang sangat besar, perbedaan antara si kaya dan si miskin yang menyolok sekarang masih ada dan akan senantiasa menjadi bahan yang ampuh bagi gerakan komunis baik secara nyata dan terbuka maupun secara diam-diam di bawah tanah. Selama ini ada, PKI akan senantiasa pula mengajarkan pengikut-pengikutnya begitu rupa sehingga menjadi fanatik. Makin hebat perbedaan itu, semakin tebal kefanatikan itu bisa ditanamkan komunis kepada penyokong-penyokongnya." (Hlm. 85) 

"Makin cepat kita meningkatkan kemakmuran dan meratakan kemakmuran itu makin tidak mungkin mereka mempengaruhi rakyat kembali. Di saat itu walaupun mereka dilepaskan kembali ke masyarakat, tidak akan berbahaya lagi. Ringkasnya pertanyaan itu harus dijawab oleh generasi yang sekarang dan yang akan datang, sehingga tidak usah ditakutkan lagi akan berbahaya." (Hlm. 5).

"Dalam berbagai kesan saya, negara-negara komunis yang tidak terlalu doktriner dalam pembangunan ekonomi dalam arti menggunakan juga unsur-unsur mekanisme harga, nampak lebih maju di bidang ekonomi seperti Yugoslavia. Dengan kata lain semakin jauh dia dari ajaran asli Stalinisme, semakin maju dia di bidang ekonomi." (Hlm. 6) 

3. Fakta sejarah sekaligus sebuah ironi, komunis di Indonesia lahir justru dari tubuh Syarikat Islam (SI). Pada 1921, tokoh-tokoh idealis seperti Darsono dan Semaun yang telah mendapat didikan dari Sneevlit (orang pertama yang membawa ide komunis ke Indonesia) oleh Hadji Agus Salim dikeluarkan dari organisasi, bersamaan dengan SI yang berubah menjadi PSI (Partai Syarikat Islam). 

Terkait fakta tersebut, Bung Hatta berkomentar demikian: "Di Semarang itulah terjadi pertemuan yang sering antara dia (Sneevlit) dengan Darsono dan Semaun. Syarikat Islam yang kurang memperhatikan nasib buruh, telah merupakan lowongan baik bagi ide-ide radikal yang dimasukkan oleh Semaun dan Darsono yang tadinya diinspirasikan oleh Sneevlit." (Hlm. 7)

4. Sebenarnya Bung Hatta bercerita banyak mengenai bagaimana sosok DN Aidit tiba-tiba masuk ke dalam kekuasaan dan menjadi anak kesayangan Bung Karno, juga (sebaliknya) bagaimana Bung Karno dan Sutan Sjahrir menjadi renggang karena masalah sentimen pribadi. Tapi saya ceritakan kapan-kapan saja ya, karena ringkasan ini saya rasa sudah terlalu panjang. Hehe. 

Cukup tahu bahwa bibit kerenggangan itu berawal dari Sutan Sjahrir yang menegur Bung Karno saat sedang mandi sambil bernyanyi, "Houd je mond!" (Tutup mulutmu!). Soekarno jadi jengkel. 

Itu terjadi saat Bung Karno, Sutan Sjahrir, dan Hadji Agus Salim diasingkan ke Berastagi (Sumatera Utara) oleh penjajah saat terjadi agresi Militer Belanda. Bung Hatta mendapat cerita-cerita semua dari kesaksian Hadji Agus Salim.

Kerenggangan itu terlihat sepele namun penting untuk diketahui, karena sedikit banyak memberi pengaruh dalam jalannya sejarah bagaimana PKI semakin dekat dengan Orde Lama saat PSI yang menjadi partainya Sutan Sjahrir bersama Masyumi dibubarkan oleh Sukarno.

BUKU PERINTIS CALON KRISTOLOG SEKALIGUS PAKAR ISLAMOLOGI

BUKU PERINTIS CALON KRISTOLOG SEKALIGUS PAKAR ISLAMOLOGI

Iwan Mariono

Tidak banyak kita jumpai literasi yang mengambil tema seperti buku ini, karena dianggap sebagai obrolan sensitif ---apalagi judulnya memang mengesankan konfrontasi--- yang membahasnya hanya akan membuat bangsa ini jadi terpolarisasi. 

Namun pendapat itu tidak sepenuhnya benar. Kebencian terhadap Kristenisasi, atau sebaliknya Islamisasi ---yang berakhir pada tindakan kekerasan--- adalah disebabkan oleh gagalnya menilai problem tersebut dari berbagai sisi: teologi, sejarah, sosial, politik dan budaya. 

Tidak semua orang bisa membahasnya secara objektif dan ilmiah. Umumnya pembahasan seperti ini lebih banyak dilandasi oleh sentimen (dan bukan argumen) kelompok tertentu atau pribadi. Maka kefatalan yang terjadi adalah: simplifikasi. 

Nah, buku yang baru saya khatamkan ini merupakan pengecualian. Apa yang ditulis dalam buku ini merupakan fenomena yang dihadapi oleh kaum beragama ---khususnya Abrahamic Religions--- sehari-hari. Bedanya, kita diarahkan untuk melihatnya dari berbagai sudut pandang ilmu. Setelah selesai membacanya, ia akan memberi kita perspektif yang berbeda. 

Arif Wibowo (kami biasa memanggilnya Ust. Arif) adalah orang yang banyak mengkaji literasi Kekristenan dari berbagai sumber, bukan hanya dari subyek Muslim, namun juga dari kalangan seberang. Kadang kita jadi melihatnya sebagai sosok outsider. 

Sekurang-kurangnya ada lima (5) poin dari buku ini yang bisa kita bahas dan kembangkan:

1. Persamaan antara misi dan dakwah adalah seruannya kepada kebenaran, antara Islam dan Kristen, dengan keyakinan bahwa (penulis mengutip pernyataan Prof. Thomas W Arnold): "Jiwa kebenaran agama, bagi pemeluk agama ini, tidak cukup bersemayam di hati nurani seseorang. Kebenaran agama harus diaktualisasikan melalui pemikiran, perkataan, tulisan, perbuatan, dan pengajaran kepada orang lain. Agama yang dianutnya harus merasuk dalam jiwa setiap manusia hingga hal yang diyakini sebagai kebenaran agamanya, diterima pula sebagai kebenaran oleh seluruh manusia." Dengan adanya persamaan tersebut, praktis pertemuan antara Islam dan Kristen secara alamiah memunculkan kontestasi, benturan, bahkan tidak jarang pula: konflik. 

2. Sejarah pertemuan dan benturan itu tidaklah baru muncul beberapa tahun belakangan ini. Ia sudah dimulai, bahkan sejak agama Islam baru lahir. Dua keyakinan ini, pernah sama-sama berusaha menaklukkan bangsa Arab yang terkenal sebagai bangsa yang sangat individualis. Sejarah mencatat, Islam berhasil mengambil hati dan mengubah peradaban bangsa Arab dari yang semula individualis menjadi bangsa yang punya semangat kolektif, hanya dalam dua dekade. 

3. Perbedaan mendasar antara misi dan dakwah terletak pada caranya. Kristen sebagai misionary religion pertama kali dicetuskan oleh Paulus sebagai orang yang pertama kali menyebarkan Kristen ke kalangan non-Yahudi. Dalam buku ini ada kutipan dari penulis demikian: "Spirit misionarisme Paulus ini dilandasi oleh pesan Yesus: " Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertaimu kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman" (Matius 28: 19-20)." 

4. Berbeda dengan Islam yang tidak mengenal sistem hierarki seperti gereja. Kosakata "dakwah Islam" lebih dipahami sebagai upaya meningkatkan kualitas keislaman individu, masyarakat, dan institusi sosial. Sehingga ia tidak lahir dari atas ke bawah seperti halnya instruksi gereja kepada jemaahnya, melainkan sebaliknya, dari bawah ke atas (bottom up). 

5. Namun demikian, misi tidaklah sesederhana seperti yang dipahami oleh kebanyak umat Islam, yakni upaya mengajak orang lain untuk mempercayai keyakinan Kristen (proselitisasi), atau yang lebih populer di kalangan aktivis dakwah: gerakan pemurtadan. Pendapat penulis dalam buku ini demikian: "Ketika mencoba berdiskusi langsung dengan tertuduh pemurtadan dan juga membaca buku-buku tenteng penginjilan, saya dapati kenyataan misi Kristen tidak sesederhana gerakan proselitisasi."

Saya tidak akan mengurai lebih dalam poin-poin di atas karena akan membuat tulisan ini jadi panjang sekali. Silakan baca langsung bukunya. 

***

Karena dalam membaca buku ini saya lebih sebagai penikmat daripada seorang kritikus, maka sampai khatam banyak saya gunakan untuk mengoreksi kesalahan penulisan, mulai dari kosakata yang kurang atau sebaliknya berulang; puluhan typo; penulisan tempat dan nama yang kurang tepat; sampai paragraf yang berulang, semuanya saya beri centang dengan stabilo orange untuk saya serahkan langsung ke Ust. Arif demi kesempurnaan tulisan dan kenikmatan bacaan saat cetakan selanjutnya nanti, jika buku ini menjadi best-seller. InsyaAllah. 

Akan tetapi, jika kelak ada edisi revisi, saya berharap dalam buku ini akan dicantumkan pula hasil wawancara Ust. Arif langsung ke narasumber yang tinggal di Lereng Merapi-Merbabu (hal yang tidak saya temukan sepanjang membaca). Jangan lupa buatkan pula daftar index, agar memudahkan peneliti selanjutnya yang menjadikan buku ini sebagai salah satu referensi.

Dai tentu harus membaca banyak buku jika ingin menjadi seorang kristolog atau sebaliknya menjadi pakar Islamologi. Dan kalau boleh saya berkata: buku ini sangat cocok sebagai pengantarnya. Ada banyak buku-buku yang dijadikan referensi oleh penulis buku ini, dan tugas dai atau kita selanjutnya adalah, membaca pula buku-buku yang digunakan sebagai sumber referensinya tersebut.

BUNG HATTA DAN GILA BACA

BUNG HATTA DAN GILA BACA

Setelah menyelesaikan studinya, sewaktu pulang dari Rotterdam ke Indonesia, Bung Hatta membawa pula koleksi bukunya sebanyak dua meter kubik yang dibagi ke dalam enam belas kotak peti berukuran setengah meter kubik. Buku sebanyak itu adalah koleksinya selama sebelas tahun menempuh pendidikan di Belanda sejak umur 19 tahun (1921-1932 M).

Ketika tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, butuh satu mobil truk khusus untuk mengangkut buku-buku tersebut.

Sebenarnya koleksi bukunya lebih dari itu, tapi Bung memang sudah merencanakan harus membatasi barang bawaannya sehingga lebihnya ditinggalkan untuk dua orang temannya. “Apa yg lebih dari itu,” demikian tutur Hatta, “akan aku tinggalkan. Kubagi antara dua orang yang dekat di waktu itu dengan aku.” Dua orang itu adalah Sumadi (teman se-kos) dan Rasjid Manggis, teman semasa kecilnya di Bukittinggi. 

Bung Hatta adalah penggila baca! 

Di era milenial ini, anak muda yang ingin menghidupkan literasi bisa mengambil semangat baca dari beliau. Apalagi jika dia masih bujang, tidak bekerja, dan mendapat uang bulanan dari orang tua, tidak ada alasan untuk tidak membaca. Manfaatnya mungkin bukan untuk saat dia masih muda, boleh jadi setelah lanjut usia. 

Selama di Den Haag, dalam sehari Bung Hatta bisa menghabiskan waktunya untuk membaca selama sepuluh sampai dua belas jam. Demikian rincian waktunya: Pukul 08.00 beliau sarapan dilanjutkan membaca selama satu jam. Pukul 09.00 sampai 10.00 beliau gunakan untuk jalan berjalan-jalan mengelilingi kota selama satu jam. Pukul 10.00 sampai 12.00 beliau lanjut lagi membaca. Setelah break lunch, beliau membaca lagi dari pukul 13.30 sampai 17.30. Malam hari dari jam 19.30 jika tidak ada teman yg datang mengajak diskusi beliau bisa membaca lagi sampai pukul 24.00, bahkan kadang 02.00 dini hari (bayangkan hampir tujuh jam non-stop!). Waktu malam lebih banyak digunakan untuk membaca buku-buku berat sesuai bidangnya.

Membaca adalah soal budaya. 

“Memang, membaca dan mempelajari ada lain,” demikian kata H. Agus Salim suatu hari sebagaimana tertulis dalam buku memoir Bung Hatta. “Tetapi, tidak ada bacaan yg hilang dari kepala sama sekali. Banyak juga yg tersangkut dalam otak yg kemudian dapat menjadi dasar pembacaan dan pelajaran terus dalam masalah hidup. Banyak membaca, itulah jalan yg baik untuk menambah pengetahuan dan mengasah kecerdasaan. Di luar sekolah tidak sedikit pelajaran yg dapat diperoleh jadi pembantu penyambung yg dipelajari di sekolah.”

Buku-buku yang dibaca oleh Hatta sangat bervariasi, tidak melulu sesuai bidang yang digelutinya. Berikut daftar bacaan Bung di luar bidangnya (ekonomi): Ilmu tatanegara dan ilmu hukum internasional, sejarah umum, filosofi (filsafat), buku-buku tentang politik kolonial dan penjajahan, dan buku-buku tentang pergerakan nasional di Turki, Arab, Mesir, India, China. Mungkin masih banyak lagi, hanya secara umum tema-tema seperti itu. 

Jadi kita tidak perlu heran jika kemudian Bung Hatta bisa menghasilkan banyak karya pemikiran lintas bidang, juga menjadi seorang diplomat yang ulung seperti ketika berjuang di KMB (Konferensi Meja Bundar) tahun 1949 –tiga dekade dari sejak menyandang gelar doktorandus. Saya sangat yakin, kemampuan itu dibentuk oleh bacaan-bacaannya sewaktu masih kuliah, berlanjut sampai masa menjalani hidup sebagai seorang interniran. 

***

Nah, teman-teman atau adik-adik mahasiswa yang baaanyak sekali waktu longgarnya, sudah berapa buku yang kalian baca? 

[Sumber rujukan utama: Mohammad Hatta, “UNTUK NEGERIKU, Sebuah Otobiografi” Jilid I: p.112-114, 242-243; Jilid II: p.15-18]

Hunayn ibn Ishaq dan Perhargaan Terhadap Ilmu Pengetahuan

Hunayn ibn Ishaq dan Perhargaan Terhadap Ilmu Pengetahuan (sebuah refleksi untuk Indonesia) 

Oleh: Iwan Mariono

Buku History of the Arabs karya Philip K Hitti ini saya baca baru sampai di Bab 16. Ada satu kisah di bab ini yang ingin saya bahas dan bagikan buat teman-teman, khususnya mengenai kebangkitan intelektual bangsa Arab (Hlm. 381-394).

Zaman dinasti Abbasiyah, khususnya masa Khalifah al-Ma'mun (786-833 M) putra dari khalifah ke-5 Harun Al-Rasyid, adalah zaman keemasan buat tumbuhnya ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Buku-buku dari bahasa Yunani banyak diterjemahkan ke bahasa Arab di zaman ini, terutama karya-karya ilmuan dan filsuf seperti Plato, Aristoteles, Dioscorides, Galenus, dan Hippocrates. Dua nama terakhir adalah seorang dokter. 

Buku-buku mereka semua diterjemahkan oleh seorang penerjemah bernama Hunayn ibn Ishaq (809-873 M), yang di Eropa ia dikenal dengan nama Joannitius. Nama yang asing di telinga bukan? Ya, karena selama ini kita memang tidak banyak melirik dan menghargai peran penerjemah. 

Hasil terjemahan Hunayn ini menjadi penting terutama karya-karya Claudius Galenus (129-199 M) mengenai anatomi sebanyak tujuh jilid, karena naskah dalam bahasa aslinya sudah tidak ditemukan lagi hari ini. Jika kita menemukan bukunya hari ini, itu adalah hasil terjemahannya dari bahasa Arab. Artinya naskah bahasa Arab-nya-lah yang kini menjadi sumber induknya.

Apa yang menjadi pendorong buat seorang Hunayn (dan para penerjemah lain tentunya) sampai semangat menerjemahkan karya sebanyak itu? Philip K Hitti tidak membahasnya, tapi dugaan saya karena penghargaan terhadap ilmu yang diberikan oleh Khalifah al-Ma'mun begitu sangat tinggi. 

Bayangkan, dari usahanya sebagai seorang penerjemah, Hunayn menerima gaji 500 dinar per bulan atau sekitar 25 juta rupiah jika mau dikonversi ke nilai mata uang kita hari ini. Dan hasil bukunya akan dihargai dengan emas seberat buku yang ia terjemahkan.

Tentu Hunayn dkk penerjemah lain tidak datang langsung ke Bizantium untuk mencari salinan naskah tersebut dalam bahasanya aslinya. Naskah-naskah itu sampai ke Baghdad (ibukota dinasti saat itu) melalui ekspedisi yang melibatkan militer. Dan itu tidak mungkin terjadi tanpa campur tangan penguasa. 

Yang perlu dicatat, dinasti Abbasiyah itu umurnya sangat panjang, lebih dari lima ratus tahun dan mengalami pergantian sebanyak 38 khalifah. Tidak semua khalifah itu mempunyai karir cemerlang, yang banyak terjadi justru sebaliknya. Tinta emas sejarah mencatat dua nama khalifah yang paling cemerlang di zaman Abbasiyah, Harun al-Rasyid dan putranya al-Ma'mun. Apa yang membuat dua nama (bapak dan anak) ini harum? Menurut saya di urutan pertama adalah warisan peradabannya, yakni ilmu dan pengetahuan. 

Negara kita Indonesia tercinta, jika diberi umur panjang sampai 500 tahun, kita tidak pernah tahu di generasi siapa negeri ini akan menjadi negeri dengan generasi emas, apakah benar 2045 nanti? Masih belum pasti. Yang sudah nyata adalah, negara-negara akan lahir menjadi negara emas yang unggul jika negara itu menghargai dan menjunjung tinggi peradaban ilmu. 

Khusus Indonesia, contoh kongkrit apa yang bisa negara lakukan dalam waktu dekat ini? Mulailah dari menghargai para penulis-penulis kita. Buku kalau bisa bebas cukai atau pajaknya serendah mungkin sehingga harga buku-buku tetap terjangkau; pembajakan harus diberantas sampai ke akar-akarnya. Bahkan kalau harga buku original terjangkau, usaha pembajakan itu akan mati dengan sendirinya. 

Untuk mengakhiri tulisan ini kita kembali ke sosok Hunayn. Apa yang istimewa darinya? Pertama, sebagai penerjemah tentu dialah orang pertama yang mendapat ilmu dari buku-buku yang dia terjemahkan. 

Kedua, ilmu itu pula yang menjadikan dia di kemudian hari diangkat menjadi dokter pribadi istana untuk khalifah selanjutnya, Al-Mutawakkil (822-861 M), keponakan Al-Ma'mun, cucu Harun al-Rasyid. 

Ketiga (ini yang paling penting), setelah menjadi dokter istana, Hunayn pernah dijebloskan ke penjara karena menolak meresepkan obat yang akan digunakan meracuni lawan politik tuannya. Ketika kemudian terbebas dan dibawa ke hadapan khalifah untuk diuji integritasnya, apa yang membuatnya menolak meresepkan racun tersebut? Sebagaimana dicatat oleh Ibnu al-'Ibri dan dikutip oleh Hitti, Hunayn menjawab: 

"Dua hal: agama dan profesi. Agama saya mengajarkan bahwa kita harus berbuat baik, bahkan kepada musuh kita sekalipun, apalagi kepada teman sendiri. Dan profesi saya dibangun untuk kemaslahatan manusia, hanya untuk kesembuhan mereka. Di samping itu, setiap dokter disumpah untuk tidak pernah memberikan obat mematikan bagi seseorang."

Saya menduga jawaban Hunayn yang sangat mulia itu terinspirasi dari bapak kedokteran modern: Hippocrates, yang buku-bukunya dia terjemahan ke dalam bahasa Arab. 

Itulah hasil dari peradaban ilmu, Hunayn yang beragama Kristen Nestor dari Hirah (Irak) itu benar-benar merasakan nikmatnya peradaban ilmu: peradaban yang lahir dari zaman keemasan Islam di masa Khalifah Al-Ma'mun.

KEMEJA KENANGAN

KEMEJA KENANGAN
9 Februari 2018

Kemeja yg aku kenakan saat ini memang penuh kenangan. Kemeja pemberian kepala sekolah saat itu Drs. Abd. Chair A. Mahmud (kami memanggilnya 'Abah) sebagai ganti pakaianku yg ludes dicuri maling.

Jadi ceritanya, dua tahun sebelum lulus SMA, aku resmi jd penghuni sekolah sampai lulus. Aba menawarkan aku untuk jadi penjaga masjid sekolah yg baru dibangun. Aku dibuatkan kamar di bekas musholla yg dijadikan gudang sekaligus tempatku tidur. 

Suatu saat aku menjemur pakaian termasuk seragam sekolah di malam hari (karena tidak mungkin mencuci dan menjemur pakaian di lingkungan sekolah siang hari) :p tiba2 saat bangun pagi seluruh pakaian hilang kecuali sempak dan seragam. Alamak, ternyata aku baru saja kemalingan. Jaket organisasi, kemeja, kaos dan celana hilang semua. Untunglah si maling masih berbaikhati meninggalkan seragam sekolah dan celananya, kalau tidak mungkin aku sudah pake sarung aja di sekolah. 😂

Beberapa hari kemudian datanglah pakaian bekas se-kardus, jumlahnya cukup banyak, diantarkan langsung oleh anak asuh kepala sekolah ke kamar kecil tempat tinggalku di pojokan sekolah. Betapa senangnya dapat kiriman pakaian ini (walaupun semua kebesaran 😂) mengingat hampir semua pakaianku hilang.

Hari ini, hampir sepuluh tahun berlalu, ternyata aku masih menyimpan salah satu kemeja pemberiannya. Kalau dulu kebesaran, sekarang justru mulai kekecilan. 

Demi mengenang manisnya sebuah kenangan, sepuluh tahun yg akan datang, insya Allah kemeja ini akan aku museumkan di perpus pribadiku. :)

#Memorable
#SmansaPalu