Featured Products

Vestibulum urna ipsum

product

Price: $180

Detail | Add to cart

Aliquam sollicitudin

product

Price: $240

Detail | Add to cart

Pellentesque habitant

product

Price: $120

Detail | Add to cart

ARUS MUDIK DI PULAU JAWA DAN SELURUH KENANGANNYA


Iwan Mariono

Peristiwa arus mudik di Jawa adalah momen yang selalu bikin rindu. Saya merasakannya bahkan jauh sebelum menginjakkan kaki di pulau ini. Lho, kok bisa? Begini cerita selengkapnya.

Kerinduan ingin turut merasakan kemacetan mudik itu muncul sejak masa remaja ketika saya (hanya bisa) menyaksikan reporter melaporkan arus kendaraan setiap harinya menjelang Idul Fitri di layar TV, melalui kanal berita Liputan 6 SCTV dan Seputar Indonesia di RCTI. Hampir setiap musim di tahun 2000an awal saya mengikuti berita-berita itu melalui dua portal tadi. 

Entah kenapa, saya bisa begitu menikmati hanya dengan menyaksikan kendaran berjubel di jalur Pantura, atau laporan presenter berita terkait kondisi terkini di jalur Nagrek-Bandung saat itu yang padat lalu lintas. Kemudian terbayang dalam benak, saya ikut memeriahkan arus mudik itu dengan naik bis atau mengendarai motor di tengah-tengah lautan manusia itu. Betapa nikmatnya. 

Ditambah iklan-iklan TV yang ikut menyemarakkan momen mudik. Salah satu yang paling membekas dalam ingatan adalah iklan Djarum. Seorang pemuda sedang mudik mengendarai sepeda motor, singgah di sebuah masjid hendak shalat magrib kemudian berbuka. Sehabis  shalat, tiba-tiba bekal kurma yang ia bawa hanya tersisa satu butir –habis dimakan oleh pemudik lain yang juga singgah di masjid itu. Sebelum melanjutkan perjalanan, pemuda kita tadi juga mencoba mengingat kembali empat orang itu. Pemudik berempat –berkendara mobil sedan– yang memakan kurmanya barusan ternyata juga adalah pemudik yang mobilnya tak sengaja mencipratkan air dari kubangan jalan ke wajahnya saat papasan. Tapi pemuda tadi tidak marah, ia ikhlas hanya minum sebotol air dan sebutir kurma. Waktu berlalu. Saat tiba di kampungnya, pemuda kita bertemu kembali dengan pemudik dan pengedara mobil saat itu, yang kini tanpa sadar shalat ied mengambil shaf di sampingnya. Orang itu lupa membawa sajadah, tapi pemuda kita yang amat mulia hatinya ini tidak mencoba membahas yang sudah berlalu, ia justru berbagi sajadah untuk orang yang disampingnya. Mereka kemudian bersalaman dan bersahabat. 

Dari cerita di atas, semakin terbayang betapa nikmatnya mudik dengan berkendara motor. Kemudian singgah di masjid atau di rest area di mana saja yang kita jumpai sambil mendengarkan lagu-lagunya Ebiet G. Ade (apalagi iklan itu memang menggunakan backsound Ebiet pula, lagu Berita Kepada Kawan). Kita belajar untuk menguji keteguhan hati dengan berlelah-lelah di sepanjang jalan. Termasuk menghadapi ujian kesabaran dari kejadian-kejadian yang tidak mengenakkan. 

Dan imajinasi puluhan tahun silam itu benar-benar menjadi kenyataan. Saya tidak menyangka kalau belasan tahun kemudian saya benar-benar menginjakkan kaki di Pulau Jawa, pulau dengan populasi penduduk terbesar se-dunia. Kemudian benar-benar ikut merasakan gegap gempita arus mudik setiap tahunnya.  

Oleh karena selama kuliah –sampai lanjut kerja– saya hanya sekali lebaran di Sulawesi (2019), jadilah setiap menjelang Idul Fitri sebanyak sebelas kali saya memanfaatkan mudik ke berbagai tempat di mana saja di Pulau Jawa. Pernah mudik ke Probolinggo-Batu-Malang, Jember-Lumajang, Ponorogo, Solo-Jogja, Majalengka-Karawang, sampai Sukabumi di ujung Jawa Barat. Di tempat-tempat itu, saya mudik dan berlebaran mulai dari rumah teman kuliah, saudara sepupu, atau siapa saja kenalan yang bisa saya jadikan tempat mudik hari raya, sampai akhirnya saya ber-lebaran di rumah keluarga baru.

Pengalaman unik di perjalanan itu baik pula saya ceritakan di sini. Misalnya, tahun 2013 ketika mudik bersama mama dari Solo naik bis ke Jember. Perjalanan itu kami tempuh selama sehari semalam (waktu itu belum ada tol trans Jawa). Padahal di hari normal waktu tempuh hanya setengahnya. Pemandangan dan pengalaman uniknya begini. Jalanan merayap, saking macetnya, dalam perjalanan bis Solo-Surabaya itu, saya melihat hampir semua penumpang turun untuk kencing atau sekadar berdiri meluruskan kaki di pinggir jalan dan di tegalan sepanjang Madiun-Caruban, tidak terkecuali saya dan mama. Saya juga kencing di tegalan itu. Selesai buang hajat danleyeh-leyeh sejenak saya kembali masuk ke dalam bis. Tapi di mana ibu saya? Kok tidak ada? Walaupun sama-sama PO Eka (ada banyak bis yang sama), tapi yang saya tumpangi sudah maju agak jauh di depan. Ternyata saya salah masuk bis. Saya langsung turun dan berlari ke mencari bis yang saya tumpangi. Mama hanya tertawa setelah saya ceritakan pengalaman itu.  

Pengalaman lain saat mudik naik kerata api ekonomi Solo-Cirebon (2018). Saya sudah pesan tiket sehari sebelumnya. Jadwal keberangkatan di tiket tertulis pukul 16.00 dari Stasiun Purwosari. Saya yang tidak fokus membaca jam justru berangkat ke stasiun menjelang magrib, saya pikir pukul 16.00 itu jam 6, ternyata jam 4 sore. Haha. Jadilah petugas penjaga pintu stasiun bengong sejenak waktu memeriksa tiket saya. “Loh, Mas, ini sudah berangkat keretanya sejak sore tadi.” Mampuslah. Saya tanya apa masih ada tiket jurusan ke Cirebon hari ini. Setelah dibantu cek oleh petugas loket, katanya masih ada tapi saya harus berangkat lewat Stasiun Jebres. Setengah jam lagi! Saya langsung minta mamang ojek untuk mengantarkan saya ke stasiun itu secepat yang ia bisa. Sampai di sana saya pesan lagi tiket ekonomi. Sebagai mahasiswa dompet pas-pasan, saya tidak beli tiket eksekutif demi menghemat biaya. Tapi dua kali beli tiket ekonomi itu pada akhirnya setara harga satu tiket eksekutif. 

Demikian pengalaman unik saya. Ada banyak pengalaman mudik orang lain yang lebih unik dan konyol yang bisa kita baca melalui berita atau medsos. Seperti yang pernah viral, seorang bapak yang ketinggalan istrinya di rest area. Itu belum termasuk hiburan membaca kutipan-kutipan yang dibawa oleh para pengendara motor di sepanjang jalan. Ada jeritan hati seorang jomblo menulis di belakang sepeda motornya: “Maafkan anakmu Mak, hanya bisa bawa ilmu, belum bisa bawa mantu”. Atau seperti seorang perantau bersepeda motor yang juga membawa tulisan: “Belum bisa beli Pajero, hanya bisa beli Revo”. Termasuk tulisan yang penuh makna seperti: “Wong tuo ora butuh bondo. Tapi butuh anak e teko. Sugih-kere tetep mulih Kediri (Orang tua tidak butuh harta benda. Tapi butuh anaknya tiba. Kayah-miskin tetap mudik ke Kediri).” Dan masih banyak lagi. Semuanya membawa kenangan indah tersendiri. 

Demikianlah. Saya benar-benar rindu kemacetan arus mudik di Jawa (sekali lagi, kemacetan arus mudik! Bukan kemacetan harian orang-orang yang hendak berangkat kerja. Seperti potret harian penduduk Jabodetabek, Bandung, dan Surabaya). Kangen menyaksikan bahkan menjadi bagian langsung, dari antrian padat orang-orang, yang merayap menuju jalan panjang untuk pulang. 

Dalam makna yang lebih sufistik, mudik tidak sekadar pulang ke kampung halaman. Pada akhirnya, mudik adalah pengalaman yang akan dilewati oleh seluruh umat manusia: kembali kepada-Nya.


Morowali, Sulawesi Tengah, 7 April 2024  
Foto: mudik saya terakhir kali di Jawa (2022) 

JAWA TENGAH

[Zaman awal-awal covid, kegabutan karena pembatasan aktivitas #DiRumahAja membuat saya iseng menghitung jumlah seluruh kabupaten (415) dan kota (99) di Indonesia. Bukan hanya menghitung jumlah, tapi juga menelusuri BPS untuk mencari tau berapa luasnya. Benar-benar kurang kerjaaan. Hahahaha.. Di bawah ini khusus untuk daerah Jawa Tengah.]


Total kabupaten/kota di Jawa Tengah diurutkan berdasarkan luas wilayah (km2) per Juli 2020:

1. Cilacap 2.124,47
2. Grobogan 2.013,86
3. Brebes 1.902,37
4. Blora 1.804,59
5. Wonogiri 1.793,67
6. Pati 1.489,19
7. Banyumas 1.335,30
8. Kebumen 1.211,74
9. Kendal 1.118,13
10. Pemalang 1.118,03
11. Magelang 1.102,93
12. Purworejo 1.091,49
13. Jepara 1.059,25
14. Banjarnegara 1.023,73
15. Boyolali 1.008,45
16. Wonosobo 981,4
17. Semarang 950,21
18. Sragen 941,54
19. Demak 900,12
20. Rembang 887,13
21. Tegal 876,10
22. Temanggung 837,71
23. Pekalongan 837,00
24. Batang 788,65
25. Karanganyar 775,44
26. Purbalingga 677,55
27. Klaten 658,22
28. Sukoharjo 489,12
29. Kudus 425,15
30. Kota Semarang 373,78
31. Kota Salatiga 57,36
32. Kota Surakarta 46,01
33. Kota Pekalongan 45,25
34. Kota Tegal 39,68
35. Kota Magelang 16,06

NB:
-Terdapat perbedaan data antara BPS provinsi dan BPS kabupaten. Data di atas dari BPS provinsi.
-Kota Magelang adalah Dati II sekaligus kota terkecil se-Indonesia.
-Gambar dari Wikipedia.

ZAMAN BERGERAK

Buku Zaman Bergerak-nya Takashi Shiraishi baru saya khatamkan malam ini. Sengaja saya sisakan beberapa halaman terakhir untuk diselesaikan setelah membaca buku yang lain. 


Sekadar untuk menyegarkan ingatan, saya harus membuka lagi buku-buku terkait yang pernah saya baca. Salah satunya adalah buku Gerakan Moderen Islam di Indonesia (disertasi Prof. Deliar Noer). Itu saya perlukan untuk mencari tahu (lagi) sebab-sebab kenapa terjadi disiplin partai dalam tubuh SI (Sarekat Islam). Ternyata sumber-sumber yang digunakan kedua karya di atas memang banyak yang berbeda. Kesimpulannya pun akhirnya beda. 

Namun ada beberapa kesamaan sumber antar keduanya. Jelas untuk memahami gambaran utuh mengenai zaman pergerakan di Indonesia, membaca buku ini ternyata tidak membuat dahaga menjadi tuntas. Kita butuh buku selanjutnya yang justru banyak digunakan sebagai referensi utama oleh Takashi (termasuk juga Deliar Noer) dalam karya mereka. 

Yang pasti saya angkat topi untuk Takashi Shiraishi yang membuka cakrawala berpikir kebanyakan orang (termasuk saya) tentang nasionalisme, dengan mengatakan pada kesimpulannya: "Misbach-lah yang mengingatkan kita akan kesalahan klasifikasi nasionalisme, Islam, dan komunisme itu dan memperingatkan kita akan pandangan nasionalis yang serampangan itu."

Berikut karya-karya (di luar buku, artikel dan surat kabar berbahasa asing yang jelas susah menemukannya) terkait yang perlu dibaca setelah membaca kedua buku di atas: Bulan Sabit dan Matahari Terbit karya Harry J. Benda; Kemunculan Komunis di Indonesia karya Ruth T. McVey; dan Bulan Sabit Terbit di Atas Pohon Beringin karya Mitsuo Nakamura.

YAHUDI, ZIONISME, DAN KOLONIALIS ISRAEL

Bagi saya, salah satu cara terbaik untuk berpihak, mendukung, bahkan menumbuhkan rasa cinta pada Palestina, adalah dengan membaca. Bacaan itu akan menjadi suluh buat kita agar tak mudah goyah, oleh banyaknya apologi yang beredar di luar sana. 

***

Mungkin masih banyak yang belum bisa membedakan antara penganut Yahudi dan Zionisme. Penganut Yahudi belum tentu seorang Zionis, sedangkan Zionisme sudah pasti orang Yahudi. Silakan buka KBBI untuk mengetahui definisi lengkapnya. 

Memahami dua perbedaan ini penting, sebab di awal berdirinya negara Israel (1948) yang diperjuangkan oleh kelompok Zionis justru banyak ditentang oleh penganut Yahudi (Judaisme). 

Di antara keturunan Yahudi yang namanya paling popular mengutuk pendirian negara Israel adalah Albert Einstein. Pada 1938, sepuluh tahun sebelum Israel resmi menjadi sebuah negara (state), Einstein pernah berkata demikian: 

“Menurut pendapat saya, akan lebih masuk akal untuk mencapai kesepakatan dengan orang-orang Arab atas dasar kehidupan bersama yang damai daripada menciptakan negara Yahudi. Kesadaran yang saya miliki tentang sifat yang penting mengenai Judaisme akan bertabrakan dengan ide negara Yahudi yang dilengkapi dengan perbatasan, angkatan bersenjata, proyek kekuasaan sementara, bagaimanapun sederhananya hal itu. Saya takut akan kerusakan internal yang akan diderita Judaisme karena berkembangnya dalam barisan kita sebuah nasionalisme sempit. Kita bukan lagi orang-orang Yahudi dalam periode Macchabea. Kembali lagi dalam konsep negara, dalam arti politik, akan sama halnya dengan membelok dari spiritualisasi masyarakat kita yang kita terima dari kejeniusan nabi-nabi kita.” (Rabi Moshe Menuhin, The decadence of Judaisme in Our Time, [1969], hlm. 324) (Roger Garaudy, Mitos dan Politik Israel [2000], hlm. 6). 

Maka jangan heran jika sampai hari ini masih kita dapati orang Yahudi yang justru mengecam kebrutalan Israel terhadap warga Palestina. Seperti yang terjadi di Washington DC (18 Oktober 2023). 

Dalam buku ‘Mitos dan Politik Israel’ yang ditulis oleh Roger Garaudy ini, dijelaskan bahwa kelompok Zionis justru melakukan kolusi dengan Nazi. Jadi, pembantaian atas orang-orang Yahudi itu sendiri bukan tidak diketahui oleh Zionis. Bukti-buktinya banyak dipaparkan dalam buku ini. Mulai dari deklarasi pemimpinnya sendiri, sampai surat-menyurat dan memorandum antara Partai Nazi dan kelompok Zionis Jerman. 

Di antara banyaknya pernyataan yang dicantumkan dalam buku ini oleh Garaudy, berikut adalah salah satu memorandum yang berhasil dikutip dari Ben Gurion (pemimpin pertama negara Israel), saat memproklamirkan di hadapan para pemimpin Zionis “buruh” pada tanggal 7 Desember 1938: 

“Haruskah kita membantu semua orang yang membutuhkan tanpa memperhitungkan karakteristik setiap orang? Tidakkah kita harus memberikan satu karakter nasional Zionis pada aksi ini dan berusaha menyelamatkan mereka yang berguna bagi tanah air Israel dan Judaisme? Saya tahu bahwa tampaknya kejam untuk mengajukan pertanyaan semacam ini, teapi kita harus menegaskan secara jelas bahwa kita dapat menyelamatkan 10.000 dari 50.000 orang yang benar-benar dapat memberikan kontribusi bagi pendirian negara dan kelahiran kembali bangsa, atau menyelamatkan satu juta orang Yahudi yang akan menjadi beban bagi kita, atau paling kurang tidak memberikan kontribusi apa pun, kita harus menyelamatkan yang 10.000 itu walaupun dipersalahkan dan dipanggil oleh jutaan orang yang diabaikan.” (Garaudy, ibid, hlm. 37). 

Jadi, negara Yahudi lebih penting daripada kehidupan orang Yahudi itu sendiri. 

Dalam buku ini juga dijelaskan doktrin teologis mengenai tanah yang dijanjikan sesungguhnya hanyalah mitos untuk membenarkan penjajahan negara Israel atas Palestina. Setelah mengutip pendapat beberapa sejarawan dan teolog yang menentang doktrin ini, Garaudy menyimpulkan bahwa janji kepada orang nomaden (baca: Yahudi) tersebut sesungguhnya bukanlah untuk penaklukan politik dan militer atas suatu kawasan atau seluruh negeri, melainkan sekadar menetap (sedentarisasi) dalam wilayah tertentu.

Fundamentalis Zionis justru menjadikan ayat “Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Euprates.” untuk membenarkan pembantaian terhadap orang-orang Arab. Profesor Benjamin Cohen dari Universitas Tel-Aviv pada 8 Juni 1982 (saat berlangsungnya invasi Israel ke Lebanon) bahkan sampai mengatakan: “Sukses terbesar dari Zionisme hanya ini: ‘dejudaisasi’ orang-orang Yahudi.” (Le Monde 19 Juni 1982, hlm. 2).

Inilah pembelokan ideologi Yahudi yang semula bersifat spiritual religius ke nasionalisme Israel. Ideologi yang dicetuskan oleh pendiri Zionisme, Theodore Herzl (1860 – 1904) pada tahun 1897, setengah abad sebelum mereka (para penerusnya) berhasil menduduki tanah Palestina atas bantuan Inggris. Bukan tidak mungkin, jika mengacu pada teks dalam kitab yang kita sebut di atas (Genesis, XV: 18), bahkan seandainya seluruh wilayah Palestina itu ditaklukkan oleh Israel, tetap tidak akan cukup buat mereka. Sebab tanah yang “dijanjikan” tersebut membentang jauh dari selatan (Mesir) sampai ke utara di sungai Eufrat (Irak). 

Watak kolonial memang tidak akan pernah puas –bahkan bila dunia dan seluruh isinya sudah diberikan kepada mereka. Justru sebaliknya, semakin buas.[]

Morowali, 4 November 2023
Iwan Mariono

JILID 1 KARYA LENGKAP BUNG HATTA

Jilid pertama (Buku 1) ini justru menjadi buku terakhir yang saya dapatkan dari koleksi 'Karya Lengkap Bung Hatta'. Saya sudah membulatkan tekad harus mengoleksi semua jilid (dengan menyicil tentunya) dan membacanya dari awal, ditemani pulpen, penggaris, dan stabilo --sebagaimana kebiasaan saya, yang membuat diri ini susah beralih dari buku fisik ke buku digital, dan tentu saja bukan buku pinjaman. 


Sebenarnya banyak tulisan yang akhirnya nanti akan saya baca ulang. Beberapa buku Bung terbitan Sinar Harapan, Bulan Bintang, dan Kompas yang sudah saya baca dan miliki juga masuk dalam proyek karya lengkap ini. 

Namun hal itu tidak menjadi perkara, demi menghargai khazanah ke-intelektualan-nya. 

Magnum opus ini menghimpun semua tulisan Bung Hatta yang tersebar di seluruh media cetak (dalam maupun luar negeri) seperti: Jong Sumatra, Daulat Ra'jat, Indonesia Merdeka, De Socialist, Gedenkboek der Indonesische Vereeniging, dan masih banyak lagi. Dari sejak Bung masih berumur 16 tahun sampai menjelang ajalnya (77 tahun). 

Total buku sebanyak sepuluh jilid, namun yang sudah diterbitkan oleh LP3ES saat ini baru sampai jilid 8. Jilid 9 baru rencana terbit tahun ini (info tersebut saya konfirmasi ke penerbitnya langsung). Padahal, ini adalah proyek besar yang sudah berjalan puluhan tahun, diketuai oleh Prof. Emil Salim dengan anggotanya yang juga para professor. Bahkan dua di antaranya sudah meninggal dunia: Prof. Deliar Noer dan Prof. Dawam Rahardjo. Mereka tidak sempat melihat buku ini terpampang cantik dalam satu box.

Bagi saya, bisa mengkhatamkan karya lengkap Bung Hatta adalah kerja untuk memahami bagaimana pemikiran manusia ber-evolusi, yang sebagian besarnya mempengaruhi bagaimana negara ini dibentuk dan berdiri.

DEKOLONISASI

DEKOLONISASI. Kolonisasi (perpindahan wilayah huni) pada dasarnya adalah kosakata yang netral. Namun dalam perjalanannya, kata tersebut berkembang menjadi sebuah paham (isme) yang kemudian memiliki makna dan arti negatif. Kita akhirnya menyamakannya sebagai penjajahan bangsa Barat (Eropa) atas bangsa Timur (Asia dan Afrika). 


Dalam perjalanan terbentuknya bangsa jajahan, eksploitasi tidak hanya mencakup tanah atau wilayah geografi. Melainkan sampai pada tahap eksploitasi pemikiran. Konsep pribumi malas adalah hasil dari studi (antropologi) kolonial Belanda atas wilayah jajahannya. Hasil kajian itu mereka anggap sebagai ilmu, sementara studi dekolonisasi kontemporer menyatakan pemikiran tersebut sebagai mitos. 

Jika kolonisasi kita anggap sebagai penjajahan. Maka studi Dekolonisasi (penghapusan penjajahan pemikiran) dalam buku ini adalah upaya untuk menghapuskan penjajahan (pemikiran) tersebut. 

DR. Muhamamd Rofiq Muzakkir, yang adalah dosen Prodi HI di UMY dalam buku ini, tidaklah menuliskan hasil studi yang bersifat murni gagasannya. Melainkan menyusun gagasan-gagasan pemikir awal studi Dekolonisasi yang dimulai dari Edward W Said melalui karyanya dalam buku 'Orientalism' yang terbit tahun 1978, sampai studi kontemporer saat ini --yang sebagiannya adalah pengembangan dari buku Orientalism tersebut. 

Jadi, buku yang merupakan kumpulan catatan dari disertasi penulisnya selama di Arizona State University (2017-2020) adalah semacam prolegomena atau pengantar, yang menguraikan secara detail bagaimana studi dekolonisasi terbentuk dan menjadi satu cabang ilmu tersendiri. 

Saya secara pribadi berterima kasih kepada DR. Rofiq yang mengenalkan saya lebih dalam kepada banyak pemikir seperti Edward W Said, Talal Asad (dan murid-muridnya), Joseph Massad, Khaled Abou El-Fadl, Wael Hallaq, dan masih banyak lagi. Setelah membaca buku ini, jujur saya ingin membaca karya mereka semua. 

Siapa pun di antara kita yang tertarik mempelajari diskursus pemikiran Islam kontemporer, tidaklah lengkap jika belum membaca karya ini.

Salam 
Iwan Mariono

MENDAPAT KEPERCAYAAN

Bacaan yang ringan namun membuka banyak cakrawala pikiran. Eric Weiner mengunjungi sepuluh negara untuk mencari tahu mana yang penduduknya paling bahagia. Dari ujung barat sampai ujung timur. 


Ternyata, setiap negara yang dikunjungi punya definisi kebahagiaannya masing-masing. Tidak ada yang sama, bahkan terdapat saling kontradiksi. Ada kebahagiaan karena dominasi kekayaan materi, ada pula yang sebaliknya. 

Eric Weiner tidak menentukan satu pilihan. Tapi, dari membaca buku ini saya punya satu kesimpulan di mana terdapat satu titik persamaan. Jadi apa yang membuat umumnya orang bahagia? Jawabannya adalah kepercayaan. Kepercayaanlah --melebihi penghasilan bahkan kesehatan-- yang membuat manusia bisa mendapatkan kebahagiaannya. 

Jadi, lebih dari sekadar lingkungan fisik, lingkungan budaya sangat terkait erat dengan kehidupan yang menjadi penentu kebahagiaan seseorang. 

Buku ini memang lebih cocok disebut sebagai buku analisa sosial budaya.