Featured Products

Vestibulum urna ipsum

product

Price: $180

Detail | Add to cart

Aliquam sollicitudin

product

Price: $240

Detail | Add to cart

Pellentesque habitant

product

Price: $120

Detail | Add to cart

BELAJAR BERDEMOKRASI LEWAT KONSTIUTANTE


Buku ini seharusnya dicetak ulang, dan dibaca oleh generasi yang baru lahir belakangan. Atau generasi Adnan Buyung yang tak membaca, bahkan mungkin tidak tahu, pernah terbit disertasi yang merekam dengan baik sekali eksistensi Konstiuante selama dua tahun delapan bulan. 

Sangat perlu untuk generasi sekarang mengetahui pentingnya Konstituante sebagai lembaga aspirasi pemerintahan yang konstitusional. Apalagi sekarang kita hidup di zaman di mana koalisi partai bukan lagi berdasarkan ideologi, melainkan cenderung bersikap pragmatis: hanya mementingkan kekuasaan, dan tak pelak menjadi bagian dari kartelisasi. 

Bang Buyung (demikian sapaan akrab Adnan Buyung Nasution), dengan tegas menolak keputusan Sukarno membubarkan lembaga yang dipilih secara sah oleh rakyat ini. Dan menganggapnya sebagai pelanggaran terhadap konstitusi. Paska pembubaran Konstituante, Indonesia berubah menjadi negara otoriter. Istilah "Demokrasi Terpimpin" hanyalah manipulasi terhadap prinsip demokrasi. Padahal, inti dari demokrasi adalah pembatasan terhadap kekuasaan. 

Alasan "deadlock" tak bisa diterima. Sebab setelah mengkaji naskah sidang Konstituante yang sangat tebal tersebut, Adnan Buyung berkesimpulan bahwa sebenarnya sudah ada kompromi terkait Dasar Negara --yang menjadi inti perdebatan paling menguras tenaga dan emosi-- di antara kelompok/aliran yang berdebat sengit saat itu: (1) Islam, (2) Pancasila, dan (3) Sosial-Ekonomi. 

Yang menarik buat saya terkait perdebatan mengenai Dasar Negara, adalah kenyataan bahwa di antara partai Islam sendiri ternyata ada perbedaan interpretasi, mengenai bagaimana Islam memandang demokrasi --meskipun sama-sama sepakat menjadikan Islam sebagai dasar negara. Yang saya baca selama ini hanya sebatas penjelasan dari Mohammad Natsir sebagai perwakilan Masyumi, teorinya tentang Demokrasi Bertuhan (Theistic Democracy) sebagai vis a vis demokrasi sekuler. Bahkan di antara kelompok Masyumi itu, ada perbedaan pula antara pak Natsir dengan Muhammad Isa Anshari. 

Dalam buku ini, Bang Buyung seperti seorang juri yang berada di luar ketiga aliran ini. Ia bertugas untuk memberikan perspektif mana yang konstitusional dan mana yang tidak konstitusional dalam setiap pendapat yang diajukan dari ketiga aliran ini. 

Butuh waktu selama 5 tahun Bang Buyung mendalami risalah sidang Konstituante yang tebalnya hampir sepuluh ribu halaman itu, sebelum mengajukannya sebagai topik disertasi. Bukan hanya berfokus pada perdebatan mengenai Dasar Negara, tapi juga semua hal yang diperbincangkan, terutama terkait HAM yang oleh semua aliran sepakat mengenai pentingnya memasukkan aspek ini ke dalam UUD. 

Saya baru membaca 3 bab, masih ada 3 bab lagi yang harus saya selesaikan. Sejauh ini, buku ini termasuk most recommended book, yang harus dibaca oleh siapa pun yang mencintai dan menghargai perbedaan pendapat, sebagai bagian dari proses belajar berdemokrasi. 

Ya, bahkan sampai hari ini, sebenarnya kita adalah bangsa yang masih belajar berdemokrasi.



No Response to " BELAJAR BERDEMOKRASI LEWAT KONSTIUTANTE "

Posting Komentar