Kalau hendak dibagi dalam dua hal,
maka dua inilah yang menjadi sumber kenapa warganet lebih mendukung kerja-kerja
personal atau NGO, dibandingkan pemerintah.
(1)
Kebijakan tak rasional bisa kita
lihat melalui alasan yang tidak masuk akal dari Presiden Prabowo, kenapa status
bencana nasional tak ditetapkan, dengan dalih Sumatera terkendali; hanya 3 dari
38 provinsi; atau alasan klise: kita bisa, kita kuat, kita mampu, dan sebagainya.
Melalui alasan itu semua, pemerintah menolak bantuan dari negara lain. Bahkan
(ini yang lebih menyakitkan) memulangkan bantuan yang sudah terlanjur masuk,
seperti 30 ton beras dari pemerintah Uni Emirat Arab.
Padahal untuk mendatangkan
apalagi memulangkan sebuah bantuan, butuh pula anggaran. Sementara di lapangan,
korban bencana berjejeran di pinggir-pinggir jalan mengemis bantuan. Yang kampungnya
terisolir harus jalan kaki “jemput bola” sejauh belasan kilometer dengan medan cukup
berat. Secara psikologis, kenyataan di lapangan ini jelas mengundang rasa kesal
terhadap pemerintah yang dengan entengnya justru menolak dan mengembalikan
bantuan. Ini preseden yang buruk terhadap respon tanggap darurat bencana.
Harus diakui, respon tanggap darurat
terhadap bencana pemerintahan Prabowo masih kalah jauh dari mantan presiden sebelum-sebelumnya.
SBY yang sudah menetapkan status bencana nasional untuk tsunami Aceh tak perlu
kita jadikan perbandingan. Jokowi sekalipun tidak menetapkan status nasional untuk
bencana alam yang terjadi selama kepemimpinannya, minimal ia tak menolak
bantuan dari negara asing.
Ambil contoh dari bencana gempa-tsunami
dan likuifaksi di Palu (dan sekitarnya) pada 2018, yang kita anggap sebagai yang
paling besar dalam sepuluh tahun terakhir. Saya hampir sebulan jadi relawan di sana,
saya melihat langsung bantuan dari negara asing tak terhitung jumlahnya. Tenda-tenda
pengungsian berbentuk rumah dari berbagai negara, dari Australia, China, bahkan
Turkey, berdiri tegak dengan jumlah puluhan di beberapa titik lokasi. Itu belum
termasuk dari WHO, Unicef, dan lembaga internasional lainnya.
(2)
Sudahlah kebijakannya tak
rasional, masih ditambah pula dengan komunikasi yang buruk. Hal tersebut sudah nampak
sejak awal-awal bencana saat ketua BNPB, tanpa melihat langsung di lapangan,
keburu mengatakan bahwa situasi tidak separah yang terlihat di media sosial. “Hanya
mencekam di medos,” demikian potongan pernyataannya.
Padahal sampai hari ke-17 paska
bencana (12 Desember 2025), saat saya berada di Aceh Tamiang, kondisi masih
mencekam. Ini di hari yang sama presiden berkunjung ke sana. Listrik masih
padam. Rumah sakit dan puskesmas belum beroperasi. Ada belasan kilometer akses
jalan perkampungan yang belum terbuka. Bahkan tenda BNPB untuk korban pengungsi
baru dibangun 2-3 hari sebelumnya, menjelang presiden datang.
Komentar anggota dewan juga
setali tiga uang. Ia mencoba mengapresiasi kerja pemerintah justru dengan mendiskreditkan
bantuan yang digalang oleh warga negara. Sesuatu yang seharusnya tidak bisa
disandingkan. Urusan mendiskreditkan ini tidak hanya ke warga negara, bahkan sekelas
mendagri dalam salah satu wawancaranya mengatakan bahwa bantuan dari negeri
jiran tidaklah seberapa. Semua komentar itu terlontar demi untuk memuji sendiri
kerja pemerintahannya yang selama ini memang tidak mendapat pujian.
Soal pujian ini harusnya tidak
perlu dijadikan permasalahan oleh pemerintah. Saya tidak melihat rezim-rezim
sebelumnya sangat haus akan pujian. Cukuplah bahwa ia benar-benar mendengar
aspirasi rakyat. Setiap masukan yang baik dijadikan pertimbangan kebijakan. Bukan
sebaliknya, menganggap setiap masukan sebagai serangan, bahkan menuduh ada
pihak asing yang tidak senang jika Indonesia kompak. Ketidakkompakkan antara
pemerintah dan warganya justru dimulai oleh jajaran pemerintahan sendiri
melalui komunikasi buruknya.
Kalau kita telisik lebih jauh,
bahkan penolakan bantuan asing ini pun untuk memuji kinerja pemerintah sendiri.
Ketua DPD RI memberikan komentarnya bahwa penolakan terhadap donasi asing
adalah terkait harga diri bangsa. Harga diri bangsa yang mana? Saya tidak tahu.
Yang ada justru, dengan komentar dia yang seperti itu, harga diri pemerintah
yang jatuh.
***
Masih banyak uneg-uneg yang lain yang
sebenarnya ingin saya tuliskan. Tapi cukuplah pemerintah tahu, bahwa kegagalan
mereka menangani bencana ini justru dimulai dari kebijakannya yang tak
rasional, dilengkapi dengan komunikasi yang buruk.