Ada beberapa keistimewaan dalam buku Manifesto Masjid Nabi (xxvi+248 halaman) yang membuat saya tak bisa berhenti membacanya sampai khatam.
Ada beberapa pernyataan diulang-ulang dalam beberapa bab yang menurut saya memang penting untuk diulang sebagai penegasan.
Saya mengulas buku ini dalam posisi tak pernah bertemu langsung Kiai Jazir, sampai ia meninggal dunia pada 22 Desember 2025. Bahkan belum pernah mendengar satu pun kajiannya yang tersebar di kanal YouTube.
Jadi, saya mengenal pemikirannya secara mendalam hanya melalui buku ini yang menjadi legasi terakhirnya. Dan tentu, sedikit tulisan dari Pak Yusuf Maulana sebagai penyunting buku ini lewat media sosialnya.
Setelah tuntas membaca, secara konkret dapat saya katakan, bahwa K.H. Muhammad Jazir ASP, telah berhasil menjadikan masjid sebagai pusat peradaban. Bahkan dengan keyakinan yang teguh masjid sebenarnya bisa menjadi lawan tanding kapitaslime (peradaban pasar).
Ada satu hal yang membuat saya tiba-tiba tersadar. Dalam sejarah kehidupan ummat manusia setelah Islam dihidupkan kembali oleh Nabi, kita mengenal dua peradaban: masjid dan pasar. Sayangnya, setelah Rasulullah Muhammad meninggal dunia, peradaban yang pertama ini justru bergeser dari masjid ke istana. Hal tersebut membuat masjid justru kehilangan peran sentralnya. Dan ketika istana gagal mengemban misinya, peradaban tersebut sepenuhnya menjadi milik pasar. Masjid kemudian sekadar menjadi tempat ritual.
Itu salah satu wawasan yang saya tangkap setelah membaca bab 1 dalam buku ini. Maka tugas terberat seorang mukmin adalah mengembalikan fungsi masjid tersebut seperti sediakala. Peran takmir jelas menjadi kunci keberhasilan di sini.
Tak hanya berteori, Kiai Jazir buktikan keyakinannya itu menjadi kenyataan lewat Masjid Jogokariyan yang dijadikannya sebagai semacam "laboratorium" penelitian, tak kurang selama lima dekade, terhitung sejak ia menjadi remaja masjid di tempat tersebut.
Proses menjalaninya memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar (evolusioner), tetapi ia tak mungkin menjadi seperti sekarang tanpa landasan berpikir yang revolusioner.
Prosesnya yang evolusioner itu pada akhirnya menuntut takmir masjid idelnya dari orang-orang lokal. Bukan pendatang yang sewaktu-waktu bisa pergi. Takmir harus menguasai sejarah, minimal latar belakang sosial-budaya jamaahnya yang menjadi tanggungjawabnya untuk dishalatkan, yang dalam bahasa Kiai Jazir: Menshalatkan Orang Hidup.
Gerakan Menshalatkan Orang Hidup bukanlah tugas yang mudah. Butuh waktu enam tahun untuk membuat warga Jogokariyan sebanyak 816 Muslim mukalaf (wajib shalat) yang belum bisa shalat pada 2005, menjadi hanya tinggal 4 orang tahun 2011. Siapa sangka ada sebanyak ini muslim di sekitar masjid yang belum bisa shalat. Ini hanya satu contoh bagaimana takmir menjalankan tugasnya. Apakah takmir di masjid sekitar kita ada yang terpikir untuk mendata hal serupa?
***
Mari kita bahas sekilas mengenai Kampung Jogokariyan dan keistimewaan masjidnya (khususnya buat yang belum tahu), melalui tulisan dalam buku ini dan sedikit pengalaman saya pribadi yang sudah pernah (lebih dari sekali) berkunjung ke sana. Ternyata ada banyak hal di balik layar yang saya sendiri baru mengetahui.
Jogokariyan adalah sebuah kampung yang letaknya di selatan Malioboro. Dulunya mayoritas warga di sini adalah prajurit perang, diubah menjadi prajurit upacara pada masa Sultan HB VIII dengan pengurangan jumlah prajurit yang sangat besar yakni dari 750 menjadi 75 orang. Mereka yang tidak mendapat gaji diganti pemberian tanah-tanah berstatus hak andarbe yang kemudian dikonversi menjadi hak milik.
Pada masa Sultan HB IX, setelah Indonesia merdeka dan keraton Yogya menyatakan melebur menjadi bagian dari Republik Indonesia, para abdi dalam tak lagi menerima gaji. Dampaknya, mereka mengalami kesulitan ekonomi.
Pada zaman Demokrasi Terpimpin, tempat ini pernah menjadi basis PNI yang paska kongres 1962 terpecah menjadi dua kubu: PNI Osa-Usep, akronim dari nama pimpinannya yakni Osa Maliki dan Usep Ranawidjaja; dan PNI ASU di bawah pimpinan Ali Satroamidjojo dan Ir. Surachman.
Tidak dijelaskan dalam buku ini apakah singkatan untuk kelompok yang terakhir itu sengaja dibuat sebagai ledekan. Yang jelas dikatakan bahwa Ir. Surachman dari kelompok yang terakhir ini adalah penyusup dari PKI. Gagasan kelompok ini: Pancasila adalah Marxisme ala Indonesia.
Kelompok kedua terbesar setelah PNI adalah PKI. Dengan perpecahan yang terjadi dalam PNI, boleh jadi yang terbesar adalah PKI itu sendiri. Apalagi sebelumnya PKI memang pernah menjadi pemenang pada pemilu pertama (1955) di kampung ini.
Waktu itu tak ada masjid di Kampung Jogokariyan, hanya ada musala ukuran 3x4 meter. Masjid baru dibangun pada 1966 paska Gestapu dan eks anggota PKI berhasil ditumpas oleh TNI-AD (Kiai Jazir masih berusia tiga tahun kala itu). Meskipun demikian, pergolakan ideologi tetap berlanjut di masa-masa setelahnya.
Bila penduduk di kampung ini kita kelompokkan berdasarkan trikotomi yang dibuat oleh Clifford Geertz, maka boleh dikata mayoritas penduduk kampung Jogokariyan waktu itu termasuk ke dalam golongan abangan. Tidak ada penjelasan seberapa banyak kaum priyayi di sana. Yang jelas, Ayah dari Kiai Jazir yang adalah anggota Muhammadiyah (santri) menjadi minoritas di kampung ini.
Bagaimana bisa kampung yang semula menjadi basis komunis, kini justru menjadi kampung yang boleh dikatakan masuk kategori Islami? Jamaah shalat shubuhnya menyerupai jamaah Jum'at? Gerakan ekonomi warganya banyak diinisiasi oleh masjid? Jawabannya terletak pada wawasan pengurus masjid generasi pertama dilanjutkan generasi kedua.
Jazir muda sebagai generasi kedua juga mengambil pelajaran dari propaganda PKI waktu itu, bagaimana partai tersebut berhasil meyakinkan warga di sana, bahwa mereka (PKI) memiliki cita-cita memperjuangkan kesejahteraan warga Jogokariyan.
Kesejahteraan adalah kata kuncinya. Tak banyak masjid yang mengambil peran menyejahterakan rakyatnya. Ummat baru tersadar dan menjadi reaktif setelah peran tersebut diambil alih oleh gereja. Apalagi paska tragedi 65, peran gereja sangat sentral dibandingkan masjid, yang membuat ribuan muslim di berbagai daerah melakukan konversi.
Agak berbeda pada kasus di Kampung Jogokariyan. Seiring berjalannya waktu dan dinamika politik yang terjadi, peran yang semula hendak direalisasikan oleh PKI tapi gagal tersebut, kemudian justru diambil alih oleh masjid. Dan semakin mantap ketika pada 1999 Kiai Jazir diangkat sebagai ketua takmir (selama 16 tahun) sampai 2015. Menjadi dewan pembina dari 2015-meninggal dunia.
Di sinilah letak pentingnya belajar sejarah bagi aktivis masjid. Pengurus masjid yang tidak belajar sejarah, menutup mata dari realitas sosial politik dan budaya, jelas tak akan bisa melakukan perubahan. Bab 1 dengan judul Urgensi Pemahaman Historis bagi Aktivis Masjid membahas secara lengkap dan mendalam mengenai hal ini. (Hlm 1-24).
***
Saya yang sampai hari ini meyakini bahwa koperasi-lah satu-satunya lawan tanding kapitalisme, setelah membaca buku ini jadi punya inside baru: masjid pun bisa menjadi lawan tanding, bahkan bisa mengungguli, bila dimanajemen dengan visi misi yang baik.
Kiai Jazir sendiri memaknai manajemen masjid itu memiliki tiga tahapan. Tahap pertama adalah bagaimana membangun imaji sebuah masjid (how to image). Katanya: "Image masa lalu di masa kolonial Belanda harus kita ganti, yakni masjid sekadar tempat ibadah yang dibuka pada saat akan shalat saja dan begitu selesai shalat lekas dikunci. Atau pandangan masjid tidak boleh membicarakan politik, program masjid tidak boleh menyangkut ekonomi atau kesejahteraan rakyat. Dengan manajemen yang baru ini kita buat how to image; apa sih fungsi masjid zaman Nabi dulu?"
Tahap kedua adalah how to manage. Bagaimana secara praktis mengelola masjid berikut potensinya: "Saya melihat para takmir masjid banyak tergugah di tahap how to manage, namun mereka mengabaikan tahap pertama. Alhasil, ketika ingin membenahi manajemen masjid, mereka mendapatkan perlawanan dari kalangan pengurus lama di masjidnya. Ketika how to image-nya tidak dipahamkan, sebaik apa pun gagasan baru pengelolaan masjid, pastilah ditentang." (Hlm. 20).
Setelah dua tahap ini dijalankan, barulah ke tahap berikutnya: how to make success. Silakan baca langsung buku ini untuk tahu lebih banyak kisah sukses Masjid Jogokariyan. Tiap masjid bisa saja berbeda caranya dalam menjalankan tahap ketiga. Namun masjid tersebut harus tuntas dulu pada dua tahap sebelumnya.
Ini bukan bualan. Pendapat tersebut tidak datang dari ruang kosong, melainkan berdasarkan hadits Nabi yang menyatakan: "Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid, dan tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar" (HR. Muslim).
Ini bukan berarti kita harus menolak pasar, sebab Nabi dan sahabatnya pun adalah seorang pedagang. Melainkan dorongan agar peradaban manusia harusnya dibangun lewat masjid, bukan pasar.
Penafsiran terhadap hadits Nabi ini menjadi penting, sebab kita harus tahu bagaimana masjid di zaman Nabi berfungsi dan dijalankan. Sehingga masjid tak hanya menjadi tempat ritual, tetapi lebih luas daripada itu, ia menjadi tempat pembebasan. Melawan riba justru bisa dimulai dari sebuah tempat yang kecil: masjid.
Masjid, dalam istilah Kiai Jazir, tak ubahnya candi bila ia hanya mengutamakan kemegahan bangunan, tapi lalai terhadap problem sosial rakyat di sekitarnya. Pada masa dinasti Syailendra, candi besar dibangun dengan mengabaikan kesejahteraan masyarakatnya, bahkan dibuat di atas penderitaan rakyat. Kini, yang tersisa hanyalah bangunannya, mayoritas penduduk sekitar telah mengonversi keyakinannya.
Begitu pula masjid yang tidak memerhatikan kesejahteraan rakyat di sekitar masjidnya. Ada banyak sekali candi Islam di Indonesia. Masjid belum dikatakan masjid, melainkan musala, bila ia hanya dijadikan semata sebagai tempat ritual. Saya pribadi memaknainya: masjid harus bergerak menjadi tempat pembebasan.
Memang pernyataan ini agak keras dan terkesan menyudutkan pengurus masjid liyan. Tapi saya justru memaknainya secara berbeda. Bila kita hendak melakukan perubahan, tak perlu menjadi orang kaya, apalagi harus mendirikan partai dan turut dalam dinamika politik nasional. Mulailah perubahan dari langkah kecil, mulailah dari masjid. Jadi, istilah candi Islam tersebut harusnya bisa dijadikan sebagai cambuk untuk perubahan oleh pengurus masjid lain.
Masjid Jogokariyan sudah memulainya. Prosesnya berjalan lama. Kini reputasinya bukan hanya skala nasional, melainkan internasional. Banyak peneliti dari berbagai negara datang ke sini. Bahkan paska peristiwa WTC 9/11, pernah ada kunjungan resmi 14 anggota parlemen Uni Eropa ke masjid ini. Mereka yang nun jauh di sana ternyata sudah mengamati pergerakan di kampung ini yang mampu mengubah dari yang awalnya basis kelompok 'merah' menjadi kampung 'hijau'.
Tentu, untuk sampai pada tahap ini membutuhkan waktu cukup lama dan prasyarat yang sangat banyak. Saya tak mungkin menuliskan semuanya. Anda harus membaca langsung buku ini untuk mendapatkan ilmunya.
***
2011 adalah tahun pertama saya menginjakkan kaki di Yogyakarta. Saya habiskan waktu setahun lebih untuk nganggur di sana. Saat itu bulan Ramadhan, seorang kawan yang lebih dulu tinggal di sana mengajak saya untuk jalan-jalan ke Kampung Ramadhan Masjid Jogokariyan. Katanya ini tempat yang istimewa. Saya baru mendengar nama masjid itu. Apa istimewanya?
Tiap bulan Ramadhan ternyata masjid ini ramai sekali oleh pengunjung, menu makanannya tidak kaleng-kaleng, dan di luar masjid banyak penjual takjil dan suvenir oleh warga sekitar masjid. Kampung yang melingkupi masjid benar-benar hidup, walaupun secara fisik bangunan masjidnya tidaklah besar amat, kalah jauh dibanding masjid agung. Keramaian ini ternyata membawa dampak positif bagi warga sekitarnya, dalam hal ekonomi terutama.
Belakangan (dan dikuatkan setelah membaca buku ini), baru saya ketahui bahwa tamu-tamu Allah itu tidak mendadak datang secara tiba-tiba, melainkan ada peran pengurus masjid yang menggerakkannya. Ada arsiteknya.
Tentu akan ada orang yang bertanya (termasuk saya), bagaimana bisa seorang Muhamamd Jazir bisa sampai punya pandangan seperti ini? Dalam buku ini dijelaskan dengan siapa saja ia pernah berinteraksi. Dengan siapa saja ia pernah berguru. Dan satu nama guru yang cukup membuat saya yakin bahwa ia akhirnya menjadi pemikir berwawasan luas: Mohamamd Natsir.
Selamat membaca.
Iwan Mariono
Sukabumi, 9 Januari 2026.
03.54
Rumahku Surgaku

Posted in