Saya baru mengkhatamkan buku tipis ini (Hilmar Farid: PERANG SUARA, Bahasa dan Politik Pergerakan), disela-sela bacaan lain.
Tidak banyak orang yang mengamati bahwa bahasa, selain sebagai alat komunikasi, juga menjadi senjata politik. Itulah yang terjadi pada bahasa Melayu rendah –selanjutnya disebut sebagai Melayu Pergerakan– yang kemudian berevolusi menjadi bahasa Indonesia.
Kenapa bukan Jawa atau Sunda yang menjadi bahasa persatuan, dua bahasa paling banyak penuturnya di Nusantara? Kenapa harus Melayu? Umumnya orang akan beralasan bahwa bahasa Melayu memiliki watak yang demokratis, berbeda dengan misal bahasa Jawa atau Sunda yang banyak bertingkat dan sangat hirearkis. Selain dirasa kurang egaliter, orang luar juga merasa kesulitan untuk mempelajarinya.
Bila pengamatan hanya berhenti di situ, kita jadi melupakan proses evolusi yang terjadi. Penggunaan bahasa sebagai lingua franca tidak pernah muncul secara tiba-tiba. Mungkin jawaban di atas ada benarnya, walau tidak sepenuhnya tepat.
Faktanya, jauh sebelum VOC sebagai serikat dagang terbesar dari Eropa Barat masuk ke Nusantara, bahasa Melayu sudah dipakai dalam dunia perdagangan. Justru VOC-lah penganjur agar bahasa Melayu yang digunakan sebagai alat komunikasi. Mengenai hal ini Hilmar menulis:
“Mungkin suatu kenyataan yang pahit bagi kaum nasionalis bahwa penguasa kolonial justru adalah “penganjur” bahasa Melayu yang utama, sekalipun dengan kepentingan yang sangat pragmatis yaitu untuk memudahkan hubungan dengan rakyat. Semenjak abad XVII, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) sudah sibuk dalam perdebatan tentang penggunaan bahasa di wilayah mereka. Pada tahun-tahun pertama saja mereka sudah menyadari bahwa bahasa Belanda tidak mungkin dikembangkan di Nusantara. Persaingan kuat antara bahasa Portugis dan bahasa Melayu menjadi alasannya. Pada awal abad XVIII bahasa Melayu sudah menjadi pilihan VOC untuk urusan perdagangann dan administrasi. Orang-orang gereja dalam hal ini membantu menyiapkan standar cetakan bagi bahasa Melayu dalam huruf Latin. (Hlm. 40).
Lantas kenapa yang dipilih adalah Melayu rendah?
Bahasa Melayu bukan tanpa hirearki, sebab itu tokoh-tokoh di zaman pergerakan (1912 – 1926) menggunakan bahasa Melayu rendah yang kasar, dan bukan Melayu tinggi atau Melayu sekolahan seperti anjuran penguasa kolonial saat itu. Fakta mengenai hal ini bisa dibaca melalui surat kabar-surat kabar yang beredar dari tokoh pergerakan ketika itu.
Tujuan dari pemakaian bahasa Melayu rendah itu agar tulisan mereka dapat dibaca dan mudah dipahami oleh kalangan masyarakat luas (meskipun tidak dipungkiri angka buta huruf masih tinggi, sehingga transmisi informasi masuk melalui perantara orang lain yang membacakan isi koran tersebut).
Untuk melihat buktinya kita kutipkan dari salah satu surat kabar Doenia Bergerak, yang terbit tahun 1914, no. 1 dan 2, di sini:
"Boekti mana kita sring menjelidiki, keadaannja Boemipoetra jang bekerdja ditempat perceel koffie tembacco; dan fabriek. Djoega tempatnja meneer dan babah kapitalisten, amat rendah sekali bajarannja, tiada sembabat dengan soeosah pajahnja. Adoehi Toean, oentoek marika itoe moelain bekerdja sebeloemnja mata hari terbit di moeka boemi, hingga silam poela di boemi, hanja dapat beladjar 20 cent ataw paling banjak 3 ketip, apabila mendapat kesalahan sedikit, dari teledor, hingga bikin sebagian, ada djoega jang tiada di brinja oepah sama sekali, paling tjilaka trima bagian tendang ataw samboek, sebagai binatang kerbouw, sampi dan koeda jang selagi tarik pedati...
Tjara begitoe si kapitalisten kaoem isep darah, menggoreng daging si djawi, dengan girang atie setiap ari dahar, pada si djawi, sedang sisanja di simpen hingga djoemlahnja tidak sedikit". (Hlm. 66).
Coba cermati tulisan di atas, betapa sinisnya bahasa yang digunakan, yang tidak mungkin diungkapkan dalam bahasa Melayu tinggi. Kata "menerr" yang mulanya merupakan bentuk penghormatan dalam tulisan ini justru berubah makna menjadi ejekan.
Berikut kita kutip lagi dari surat kabar yang sama pada nomor yang lain:
"Kasihan betoel jang kena perkataan itoe! Siapakah kiranja itoe? Si Djilat Pantat. Djilat pantat itoe doea perkataan djilat + pantat. Djilat = mengesoetkan lidah, pantat = je weet wel.
Brrrr, afschuwelijk, he!
Akan tetapi ada banjak orang soeka mengerdjakan dia, boeat bangsa Djawa, jang paling banjak: Prijaji. Lain bangsa ampir semoea taoe, jang Prijaji-Djawa, ada banjak jang soeka likken. Dari itoe maka njata sekali, jang sebagian besar dari bangsa kita beloem taoe adjinja (de waarde) bekerdja soenggoeh2, atawpoen tidak ataw koerang pertjaja kepada perkedjaan diri sendiri, sebab mereka itoe harganja pekerdjaan diri sendiri, mesti maloe mendjilat-djilat begitoe." (Hlm. 67).
Lihatlah betapa nada bicaranya sangat kasar sekali. Priyayi dibuat benar-benar hilang kewibawaannya dengan dijuluki sebagai "toekang djilat pantat".
Menarik untuk diamati bahwa penggunaan bahasa Melayu rendah ini mulai ditinggalkan paska gagalnya pemberontakan 1926, yang membuat banyak tokoh-tokoh di zaman pergerakan ditangkap dan dibuang ke Boven Digoel. Era baru yang kemudian dikenal sebagai Angkatan 28 justru menggunakan bahasa texbook dalam menulis di surat kabarnya, bahasa yang hanya dipahami oleh kaum terpelajar.
Analisa Hilmar Farid dalam skripsinya yang kemudian dibukukan ini memang lebih banyak difokuskan pada zaman pergerakan. Kalau Anda pernah mengkhatamkan buku berjudul Zaman Bergerak yang ditulis oleh Takashi Siaraishi (buku yang juga diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Hilmar), akan semakin memperdalam pemahaman kita mengenai sejarah yang terjadi juga terkait penggunaan bahasa pada zaman itu (1912-1926).
Saya menduga Hilmar banyak terinspirasi dari buku itu.
Saya pribadi sepanjang membaca buku ini beberapa kali teringat pada sosok Minke dalam buku Pramoedya Ananta Toer: Anak Semua Bangsa. Dalam buku ini ada cerita di mana Jean Marais mengkritik Minke karena tidak menulis dalam bahasa Melayu, sementara ia justru jumawa karena berhasil menulis sebuah kritik sosial dalam bahasa Belanda. Padahal dalam pandangan Jean, ia seharusnya menulis dalam bahasa Melayu. Sebab masyarakat yang perlu disadarkan dalam tulisannya itu bukanlah orang Eropa, melainkan pribumi bangsanya sendiri.
Selamat membaca.
Iwan Mariono