Featured Products

Vestibulum urna ipsum

product

Price: $180

Detail | Add to cart

Aliquam sollicitudin

product

Price: $240

Detail | Add to cart

Pellentesque habitant

product

Price: $120

Detail | Add to cart

SEJARAH LAHIRNYA BAHASA INDONESIA

Saya baru mengkhatamkan buku tipis ini (Hilmar Farid: PERANG SUARA, Bahasa dan Politik Pergerakan), disela-sela bacaan lain. 

Tidak banyak orang yang mengamati bahwa bahasa, selain sebagai alat komunikasi, juga menjadi senjata politik. Itulah yang terjadi pada bahasa Melayu rendah –selanjutnya disebut sebagai Melayu Pergerakan– yang kemudian berevolusi menjadi bahasa Indonesia. 

Kenapa bukan Jawa atau Sunda yang menjadi bahasa persatuan, dua bahasa paling banyak penuturnya di Nusantara? Kenapa harus Melayu? Umumnya orang akan beralasan bahwa bahasa Melayu memiliki watak yang demokratis, berbeda dengan misal bahasa Jawa atau Sunda yang banyak bertingkat dan sangat hirearkis. Selain dirasa kurang egaliter, orang luar juga merasa kesulitan untuk mempelajarinya. 

Bila pengamatan hanya berhenti di situ, kita jadi melupakan proses evolusi yang terjadi. Penggunaan bahasa sebagai lingua franca tidak pernah muncul secara tiba-tiba. Mungkin jawaban di atas ada benarnya, walau tidak sepenuhnya tepat. 

Faktanya, jauh sebelum VOC sebagai serikat dagang terbesar dari Eropa Barat masuk ke Nusantara, bahasa Melayu sudah dipakai dalam dunia perdagangan. Justru VOC-lah penganjur agar bahasa Melayu yang digunakan sebagai alat komunikasi. Mengenai hal ini Hilmar menulis: 

“Mungkin suatu kenyataan yang pahit bagi kaum nasionalis bahwa penguasa kolonial justru adalah “penganjur” bahasa Melayu yang utama, sekalipun dengan kepentingan yang sangat pragmatis yaitu untuk memudahkan hubungan dengan rakyat. Semenjak abad XVII, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) sudah sibuk dalam perdebatan tentang penggunaan bahasa di wilayah mereka. Pada tahun-tahun pertama saja mereka sudah menyadari bahwa bahasa Belanda tidak mungkin dikembangkan di Nusantara. Persaingan kuat antara bahasa Portugis dan bahasa Melayu menjadi alasannya. Pada awal abad XVIII bahasa Melayu sudah menjadi pilihan VOC untuk urusan perdagangann dan administrasi. Orang-orang gereja dalam hal ini membantu menyiapkan standar cetakan bagi bahasa Melayu dalam huruf Latin. (Hlm. 40). 

Lantas kenapa yang dipilih adalah Melayu rendah?

Bahasa Melayu bukan tanpa hirearki, sebab itu tokoh-tokoh di zaman pergerakan (1912 – 1926) menggunakan bahasa Melayu rendah yang kasar, dan bukan Melayu tinggi atau Melayu sekolahan seperti anjuran penguasa kolonial saat itu. Fakta mengenai hal ini bisa dibaca melalui surat kabar-surat kabar yang beredar dari tokoh pergerakan ketika itu.

Tujuan dari pemakaian bahasa Melayu rendah itu agar tulisan mereka dapat dibaca dan mudah dipahami oleh kalangan masyarakat luas (meskipun tidak dipungkiri angka buta huruf masih tinggi, sehingga transmisi informasi masuk melalui perantara orang lain yang membacakan isi koran tersebut). 

Untuk melihat buktinya kita kutipkan dari salah satu surat kabar Doenia Bergerak, yang terbit tahun 1914, no. 1 dan 2, di sini:

"Boekti mana kita sring menjelidiki, keadaannja Boemipoetra jang bekerdja ditempat perceel koffie tembacco; dan fabriek. Djoega tempatnja meneer dan babah kapitalisten, amat rendah sekali bajarannja, tiada sembabat dengan soeosah pajahnja. Adoehi Toean, oentoek marika itoe moelain bekerdja sebeloemnja mata hari terbit di moeka boemi, hingga silam poela di boemi, hanja dapat beladjar 20 cent ataw paling banjak 3 ketip, apabila mendapat kesalahan sedikit, dari teledor, hingga bikin sebagian, ada djoega jang tiada di brinja oepah sama sekali, paling tjilaka trima bagian tendang ataw samboek, sebagai binatang kerbouw, sampi dan koeda jang selagi tarik pedati...

Tjara begitoe si kapitalisten kaoem isep darah, menggoreng daging si djawi, dengan girang atie setiap ari dahar, pada si djawi, sedang sisanja di simpen hingga djoemlahnja tidak sedikit". (Hlm. 66). 

Coba cermati tulisan di atas, betapa sinisnya bahasa yang digunakan, yang tidak mungkin diungkapkan dalam bahasa Melayu tinggi. Kata "menerr" yang mulanya merupakan bentuk penghormatan dalam tulisan ini justru berubah makna menjadi ejekan. 

Berikut kita kutip lagi dari surat kabar yang sama pada nomor yang lain: 

"Kasihan betoel jang kena perkataan itoe! Siapakah kiranja itoe? Si Djilat Pantat. Djilat pantat itoe doea perkataan djilat + pantat. Djilat = mengesoetkan lidah, pantat = je weet wel.

Brrrr, afschuwelijk, he!

Akan tetapi ada banjak orang soeka mengerdjakan dia, boeat bangsa Djawa, jang paling banjak: Prijaji. Lain bangsa ampir semoea taoe, jang Prijaji-Djawa, ada banjak jang soeka likken. Dari itoe maka njata sekali, jang sebagian besar dari bangsa kita beloem taoe adjinja (de waarde) bekerdja soenggoeh2, atawpoen tidak ataw koerang pertjaja kepada perkedjaan diri sendiri, sebab mereka itoe harganja pekerdjaan diri sendiri, mesti maloe mendjilat-djilat begitoe." (Hlm. 67). 

Lihatlah betapa nada bicaranya sangat kasar sekali. Priyayi dibuat benar-benar hilang kewibawaannya dengan dijuluki sebagai "toekang djilat pantat".

Menarik untuk diamati bahwa penggunaan bahasa Melayu rendah ini mulai ditinggalkan paska gagalnya pemberontakan 1926, yang membuat banyak tokoh-tokoh di zaman pergerakan ditangkap dan dibuang ke Boven Digoel. Era baru yang kemudian dikenal sebagai Angkatan 28 justru menggunakan bahasa texbook dalam menulis di surat kabarnya, bahasa yang hanya dipahami oleh kaum terpelajar. 

Analisa Hilmar Farid dalam skripsinya yang kemudian dibukukan ini memang lebih banyak difokuskan pada zaman pergerakan. Kalau Anda pernah mengkhatamkan buku berjudul Zaman Bergerak yang ditulis oleh Takashi Siaraishi (buku yang juga diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Hilmar), akan semakin memperdalam pemahaman kita mengenai sejarah yang terjadi juga terkait penggunaan bahasa pada zaman itu (1912-1926).

Saya menduga Hilmar banyak terinspirasi dari buku itu. 

Saya pribadi sepanjang membaca buku ini beberapa kali teringat pada sosok Minke dalam buku Pramoedya Ananta Toer: Anak Semua Bangsa. Dalam buku ini ada cerita di mana Jean Marais mengkritik Minke karena tidak menulis dalam bahasa Melayu, sementara ia justru jumawa karena berhasil menulis sebuah kritik sosial dalam bahasa Belanda. Padahal dalam pandangan Jean, ia seharusnya menulis dalam bahasa Melayu. Sebab masyarakat yang perlu disadarkan dalam tulisannya itu bukanlah orang Eropa, melainkan pribumi bangsanya sendiri.

Selamat membaca. 

Iwan Mariono

MENCORAT-CORET BUKU

Buku hadiah dari penerbit LP3ES segera saya daras setelah sampai di rumah. Ini buku jilid II yang akan jadi tema dari Sekolah Pemikiran Bung Hatta (SPBH) yang akan diselenggarakan bulan depan. Sebenarnya saya sudah punya jilid lengkapnya (9 jilid), sayangnya semua buku itu ada di Morowali. Sungguh menderita harus berjauhan dengan buku-buku yang saya sayangi. 


Saya jadi teringat Bung Hatta harus membawa buku-bukunya waktu dipindahkan ke Boven Digul. Pindah ke Banda Naira, buku juga ikut. Sayangnya waktu ia dipindah ke Sukabumi buku-bukunya itu harus ditinggalkan di Banda Naira, karena pesawat yang mengangkut para interniran tidak cukup untuk mengangkut buku. 

Bung Hatta sangat mencintai buku-bukunya. Bung Hatta akan marah bila ada bekas halaman yang terlipat dari orang yang meminjam bukunya. Bahkan asistennya yang menyusun buku secara terbalik tidak luput dari tegurannya. 

Saya juga mencintai buku-buku saya. Hanya saja mungkin bedanya ini. Jari saya tidak bisa diam bila membaca suatu tulisan, kemudian saya temukan diksi, frasa, dan kalimat, atau bahkan paragraf, yang menurut saya itu penting. Spontan saja saya memberinya tanda dengan pena fluoresensi (stabilo), atau menggaris bawahi dengan bolpoin dan penggaris agar lebih rapi. Bila ada diksi asing, segera saya buka kamus. Biar tidak lupa, saya tulis di marjin kertas arti dari diksi tersebut. 

Itulah sebabnya saya hampir tidak bisa baca buku pinjaman, apalagi jika buku itu buku yang bagus dan isinya sangat bermutu. Otomatis membaca buku-digital berada di urutan ke-3 dalam daftar buku yang hendak saya baca -kecuali kepepet- setelah buku fisik milik pribadi dan buku fisik pinjaman. 

Istri saya yang tidak membaca buku pernah berkomentar, apa tidak sayang bukunya dicoret-coret? Itu dia ucapkan waktu saya mulai membaca jilid I Tafsir Al-Azhar beberapa tahun lalu. Saya katakan justru sayang sekali bila saya baca buku tapi tidak meninggalkan jejak coretan sama sekali. Saya tidak perduli kalau harga bekasnya jadi anjlok gegara penuh coretan. Sebab memang tidak ada niat menjualnya. Malah ada kawan saya berpikiran sebaliknya, buku saya jadi mahal harganya justru karena penuh coretan, coretan saya. Saya merasa terpuji dengan komentarnya itu. 

Cara saya dalam mencandui buku ini mungkin banyak ketidaksamaan dengan pencinta buku lain pada umumnya. Tapi saya pribadi punya alasan yang kuat, justru dengan cara seperti itu saya jadi punya ikatan emosi dengan buku-buku yang saya baca.

MEMBACA MEMOAR PAK NAS

Tidak semua orang diberi keterampilan dan kemampuan (energi) bisa menulis memoar panjang-bersambung yang baik dan mengalir seperti air di sungai yang deras. 

Saya harus menyebut dua nama. Yang pertama Buya Hamka (Kenang-Kenang Hidup, 4 jilid); kedua Deliar Noer (3 jilid). Dua nama ini harus saya akui ketekunan dan kesabarannya dalam menulis memoar, sehingga hal-hal kecil yang kita anggap remeh sehari-hari tak lupa mereka cantumkan, namun tetap menarik. 

Di luar dua nama ini, ternyata masih ada satu nama lagi yang jauh lebih tekun dan sabar dalam menulis memoar panjang-bersambung (sebanyak 10 jilid), dialah Abdul Haris Nasution atau yang akrab disapa Pak Nas, mantan KSAD dan Pangdam Siliwangi. Itu kesimpulan saya setelah –disela-sela membaca buku lain– berhasil mengkhatamkan ‘Memenuhi Panggilan Tugas’ jilid I (xii+276 halaman), hanya dalam waktu tiga hari. Saya baru punya lima jilid (1, 2, 3, 4, 7), hasil berburu di pelapak buku bekas. 

Sebagai peminat kajian sejarah Indonesia modern, saya merasa perlu membaca memoar-memoar yang ditulis langsung oleh para pelaku sejarah. Ada pun memoar Pak Nas ini menjadi penting buat saya, sebab ia memberi perspektif berbeda, terkait perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Perjuangan itu ditempuh melalui dua acara: diplomasi dan bersenjata. Keduanya saling melengkapi, namun tidak sedikit kontraproduktif, bahkan sampai menimbulkan ekses. Bacaan saya selama ini didominasi oleh yang pertama, sehingga tak heran jika kekaguman saya selama ini banyak tertuju ke tokoh-tokoh seperti Bung Hatta, Sutan Sjahrir, Hadji Agus Salim, dan Bung Karno.

Dari buku Pak Nas ini, saya jadi tahu bahwa perjuangan bersenjata yang tidak tunggal itu ternyata banyak menimbulkan ekses (penculikan dan pembunuhan), yang justru merugikan perjuangan kita.  

Maksud dari tidak tunggal adalah bahwa perjuangan bersenjata itu diwakili oleh banyak kelompok. Untuk memudahkan, saya akan membaginya menjadi dua kutub: tentara (TRI/TNI) dan non-tentara. Yang tentara resmi sebagai alat negara. Sementra non-tentara sebaliknya. Yang non-tentara ini ada banyak, misal Laskar Rakyat, Laskar Bambu Runcing, Hisbullah, Pemuda, dan lain-lain. Dari dua kutub di atas ada yang saling melengkapi, bahkan kemudian melebur ke dalam TNI, ada pula yang justru menjadi musuh satu sama lain. Saya tidak akan menguraikan semuanya di sini. Untuk mengetahui perjuangan bersenjata non-tentara –khususnya perjuangan pemuda sosialis-komunis– saya sarankan untuk mengkhatamkan ‘Revoloesi Pemoeda’ karya Ben Anderson, buku ini akan memberi perspektif yang lain pula. Saya sudah pernah membuat ulasannya. 

Kita kembali ke Pak Nas. Sepuluh jilid memoarnya itu mulai ditulis setelah ia menjadi purnawirawan, yakni sejak 1972 sampai kemudian diterbitkan oleh penerbit Gunung Agung pada akhir 1981. 

Di jilid pertama buku ini, cerita dimulai dari dari tempat ia lahir di Mandailing, Sumatera Utara pada 03 Desember 1918. Setelah remaja melanjutkan sekolah guru, di Bukitinggi. Profesi guru inilah yang membawanya pindah dari satu daerah ke daerah lain. Pernah mengajar di pedalaman Sumatera Selatan. Pernah juga di Bengkulu, yang membuatnya berjumpa untuk pertama kalinya dengan Bung Karno, tokoh namanya sudah tenar waktu itu. Menjelang Perang Dunia II, ia pindah ke Bandung, dan beralih profesi menjadi tentara –tentara KNIL. Profesi yang tidak pernah diimpikan sebelumnya. Bahkan orang tuanya di kampung menolak saat tahu ia jadi tentara. 

Setelah Belanda kapitulasi terhadap Jepang, banyak eks-KNIL yang jadi tawanan. Pak Nas berhasil kabur dari Jember ke Bandung bersepeda onthel selama lebih seminggu. Belakangan baru ia tahu bahwa anggota KNIL yang pribumi dibebaskan dari penahanan. Justru mendapat tawaran dari Jepang untuk bergabung dalam barisan PETA. 

Setelah Jepang menyerah, ada beberapa kawannya yang bergabung kembali bersama Belanda, sementara ia dan bersama kawan yang lain bergabung dengan pihak Republik membentuk TRI/TNI. Dari sinilah perjalanan gerilyanya dimulai, sebagai Panglima Divisi I Siliwangi.

Modal sebagai gerilyawan dengan mobilitas paling tinggi, ditambah bacaan buku yang kuat (Pak Nas selalu membawa dan menyempatkan baca buku bahkan dalam perjalan gerilyanya), tidak heran kalau ia bisa menghasilkan magnum opus 'Sekitar Perang Kemerdekaan' yang bercerita mengenai taktik perang dan gerilya (sebanyak 11 jilid). Buku yang dijadikan rujukan dan acuan militer tidak hanya di Indonesia, melainkan di beberapa negara dunia. Sampai hari ini. 

Saya kagum dengan ingatan Pak Nas, bahkan setelah peristiwa itu lewat hampir tiga dekade, ia masih hafal dengan nama-nama orang dan tempat yang pernah ia jelajahi di sepanjang pegunungan yang membentang dari Pandeglang di barat sampai Ciamis di timur Jawa Barat. 

Ada beberapa distrik, tempat-tempat gerilya yang Pak Nas sebutkan yang sampai hari ini masih didominasi hutan (kebetulan setahun di Sukabumi membuat saya berkesempatan untuk menjelajahi banyak daerah di Jawa Barat, termasuk yang Pak Nas sebutkan dalam bukunya), seperti: Labuhan (Pandeglang), Sagaranten (Sukabumi) Sindangbarang dan Cikalong (Cianjur), Limbangan dan Malangbong (Garut), sampai di Salawu dan Manonjaya (Tasikmalaya). Sungguh tak terbayang bagaimana susahnya medan tempuh waktu itu –delapan puluh tahun yang lalu.

Ingatan akan nama-nama tempat yang kuat dari Pak Nas itu tidak mengherankan buat saya, sebab salah satu ilmu yang ia gemari adalah geografi. Sebagai sesama penggemar geografi, saya sendiri merasakan hal tersebut. Saya paling susah melewati satu kecamatan sebelum saya hafal namanya. Minimal kalau ada orang menyebutkan satu tempat, saya tahu itu di mana. 

Kembali ke memoar Pak Nas. Saya memang baru khatam jilid I, tapi melihat sub judul dari setiap jilidnya, kita jadi tahu bahwa Pak Nas akan banyak bercerita terkait posisinya selama menjabat sebagai tentara. Yakni sejak dari periode perjuangan kemerdekaan, periode pembangunan, periode Demokrasi Terpimpin, peristiwa Gestapu, sampai lahirnya Orde Baru yang mana ia adalah salah satu tokoh yang turut membidaninya. 

Jika kita membaca memoar dari tokoh-tokoh yang lain, tentu akan kita temui banyak perbedaan pendapat dengan apa yang disampaikan Pak Nas dalam memoarnya. Salah satunya dengan Bung Hatta, yang tulisan-tulisannya telah banyak saya baca. Namun justru perbedaan itulah yang saya harapkan. Sebab tujuan utama dari membaca memoar ini adalah untuk membentuk banyak perspektif. 

Hanyalah dengan melihat dari banyak perspektif, seseorang akan terlatih menjadi manusia yang bijaksana.[]

Iwan Mariono
Sukabumi, 1 Maret 2025 (1 Ramadhan 1446 H)