Featured Products

Vestibulum urna ipsum

product

Price: $180

Detail | Add to cart

Aliquam sollicitudin

product

Price: $240

Detail | Add to cart

Pellentesque habitant

product

Price: $120

Detail | Add to cart

MOROWALI, TAMBANG, DAN KEBERLANJUTAN


MOROWALI, TAMBANG, DAN KEBERLANJUTAN

Waktu terasa melesat begitu cepat. Tiga dekade silam (1995), untuk pertama kali aku menginjakkan kaki di Morowali (belum ada nama Morowali tahun itu, ia masih merupakan bagian dari Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah). Ketika itu usiaku masih tiga tahun. Di usia yang masih belia itu, orientasi terhadap ruang (tempat) dan waktu tentu saja belum sempurna, dan baru aku ketahui kemudian setelah bertanya dan mendapat cerita dari orang tua. 

Namun pengalaman visual sudah menancap kuat dalam benak. 

Rasanya aku dibawa ke daerah yang begitu sepi dan remang sekalipun siang, dan banyak nyamuk berkeliaran tanpa harus menunggu malam. Jalan utamanya sempit dan berlubang-lubang, hanya beberapa titik sudah diaspal dengan aspal kasar. Di kiri-kanan banyak dijumpai rawa-rawa, pesisir pantai, hutan bakau, pohon kelapa nira, kelapa sawit, kakao, dan tumbuhan liar seperti gulma dan gelagah. Dan tentu saja barisan bukit dan pegunungan yang tampak biru-gelap dari kejauhan, memanjang dari arah timur laut ke tenggara, mengikuti garis pantai sampai ratusan kilometer jauhnya. Inilah pemandangan yang jamak dijumpai sepanjang jalan. 

Di rumah baru yang aku tinggali lebih remang lagi. Depan rumah ada banyak pohon-pohon besar. Ada pohon bambu, pohon kelapa, pohon sukun, dan pohon kapuk besar yang dahannya sampai ke tengah jalan. Belum ada lampu listrik, setiap sore bapak mulai memompa lampu petromak-nya. 

Aku bersyukur, sejak kecil bapak sering mengajak aku safari ke tempat-tempat yang jauh sampai puluhan kilometer pakai sepeda motornya. Ini menjadi tambahan memori visual yang sangat berharga buatku, ketika harus mengenang kampung tempat aku dibesarkan. Dari seringnya diajak bersafari ini aku jadi tahu, banyak tempat di Morowali yang jalurnya terputus oleh hutan yang masih rapat terlindung. Untuk melanjutkan perjalanan –bahkan masih dalam satu daerah– ke kecamatan sebelah kita harus naik kapal. 

Naik kapal ini menjadi safari yang paling aku sukai. Sepanjang perjalanan mata kita akan disuguhi oleh keindahan laut biru-hijau yang dikelilingi oleh gunung-gunung yang menjulang tinggi berwarna biru-gelap dari kejauhan. 

***

Siapa yang menyangka di dalam ‘perut’ bukit-bukit dan pegunungan itu terkandung kekayaan alam yang sangat dahsyat di kemudian hari? Kini, menjelang tiga puluh tahun berlalu dari sejak pertama kali aku menginjakkan kaki, delapan belas tahun setelah perusahaan tambang mulai masuk (2006), Morowali berubah drastis. 

Jalan utama semakin lebar dan sudah terhubung sampai ke Sulawesi Tenggara. Bukan saja jalan utama, bahkan jalan kolektor dan jalan-jalan lokal yang kecil, semuanya sudah teraspal. Tentu saja, ini menjadi kabar gembira.

Kecuali beberapa pohon seperti kelapa nira dan kelapa sawit yang aku sebutkan di atas, tidak ada lagi pohon-pohon besar aku jumpai yang merapat ke jalan. Rawa-rawa sudah ditimbun, hutan bakau sudah digusur, berganti perkampungan dan pelabuhan tambang. Bukit-bukit yang dulu berwana biru-gelap itu kini satu per satu berubah warna menjadi merah bata. Beberapa sungainya juga ikut berubah, yang dulunya jernih kini keruh permanen seperti susu coklat. Kalau yang ini aku tidak tahu, apakah ada yang gembira menyambutnya.

Nah, yang tidak berubah sejak dulu adalah elektrifikasinya. Di tengah gempuran AI dan canggihnya kendaraan elektrik, masyarakat Morowali masih hidup di tengah keremangan. Listrik yang ada sekadar tiang berjejer dengan kabelnya yang memanjang, tanpa daya sama sekali. Tentu ini kabar buruk dan tragis buat daerah penghasil nikel terbesar di Asia Tenggara. 

*** 

Jadi apa manfaat tambang buat masyarakat Morowali? Apakah ia berkah atau musibah? Pertanyaan ini sering aku lontarkan ke kawan-kawan sebayaku di sana. Yang lahir dan besar di Morowali. Jawabannya beragam, termasuk yang tidak mau memikirkan jawaban. 

Kalau pertanyaannya terkait manfaat, jelas ada manfaatnya, yakni lapangan pekerjaan. Aku sendiri ikut merasakannya, pernah menjadi dokter dan mendapat gaji dari perusahaan tambang tersebut sekalipun tidak lama. Pengalaman menjadi dokter ini juga membuka banyak hal yang sebelumnya tidak aku ketahui. Namun biarlah aku tulis pengalaman itu di lain kesempatan.  

Lantas bagaimana kalau pertanyaannya terkait keberkahan? Ini pertanyaan filosofis, aku tidak ingin terburu-buru menjawabnya. Biarkan waktu yang akan memberikan jawaban pastinya. Dan catatan ini pun akan aku lanjutkan andai diberi usia panjang tiga puluh tahun lagi ke depan. Sehingga aku benar-benar menjadi saksi hidup yang bisa menuliskan kehidupan hari ini dibanding tiga puluh tahun yang lalu, dan kehidupan hari ini dibanding tiga puluh tahun ke depan.

Namun untuk saat ini, sebagai orang yang sempat merasakan kehidupan Morowali sebelum ada tambang, aku hanya bisa berandai-andai: andai disuruh memilih, mending ada tambang atau tidak ada tambang, maka aku akan memilih yang terakhir. Mengapa? sebabnya adalah KEBERLANJUTAN. Apalah gunanya kita punya gaji sampai lima atau sepuluh juta, tapi segalanya harus beli, apa-apa butuh uang, dan segalanya jadi mahal; bandingkan kita hanya punya pemasukan lima ratus ribu sampai sejuta, namun segala kebutuhan dasar hidup kita terpenuhi. 

Dulu, untuk minum kita bisa dapatkan gratis, sebab dulu ada sumber mata air yang untuk meminumnya tidak perlu dimasak. Kalau-pun harus bayar maka yang kita bayar hanyalah biaya operasional untuk mengangkutnya sampai ke rumah kita. Kini mata air itu sudah kotor dan tidak layak konsumsi. 

Dulu kita punya sungai yang bersih, sebab gunung-gunung belum dikeruk dan pohon-pohon belum ditebangi. Sungai bisa jadi tempat mandi dan mencuci. Sekarang, coba lihat mana ada anak-anak kita yang mandi di sungai. Selain banyak buaya entah dari mana datangnya, ledakan populasi karena tambang juga membuat banyak orang kekurangan sanitasi. Kini sungai kita dipenuhi oleh sampah plastik. 

Kita belum membahas dampak udara. Debu dan hawa yang semakin panas jelas sekali terasa. Kini butuh kipas angin 24 jam untuk mengusir hawa panas, sementara kipas angin tak bisa berputar sebab listrik padam berjam-jam, dan sekalinya menyala arusnya tidak stabil. 

Air dan udara adalah komponen utama hidup yang berkualitas. Dan tanpa tambang, keberlanjutan itu jelas bisa dipertahankan lebih lama, bahkan mungkin sampai ribuan tahun. Bayangkan kelak apa yang tersisa buat kita setelah tambang sudah tidak lagi beroperasi?

***

Mungkin jawaban di atas sekadar romantisisme, namun yang jelas aku bukan ingin kembali ke masa lalu. Itu sudah terlambat, dan memang sudah tidak mungkin terulang lagi. Dan lagi, banyak dari masa lalu itu yang seharusnya tidak harus dipertahankan sampai hari ini, seperti keremangan tanpa elektrifikasi. Juga akses terhadap pendidikan dan kesehatan yang kurang memadai. Bila kita memang benar-benar ingin meningkatkan kesejahteraan hidup, tidak bisa tidak ketiga pilar ini harus terpenuhi. Kekayaan alam yang tidak membawa kita pada ketiga hal pokok ini hanyalah kekayaan semu. 

Tidak ada kesejahteraan di sana, kecuali hanya untuk segelintir orang. 

Iwan Mariono 
Foto: dokumen pribadi